Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020
Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II 2017 melambat dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 1,04% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,02% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh penurunan investasi, net ekspor dan konsumsi pemerintah. Dari sisi penawaran, perlambatan ekonomi disebabkan oleh kontraksi sektor utama yaitu industri pengolahan, konstruksi dan pertambangan. Memasuki triwulan III 2017, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 1,3 – 1,7% (yoy).
 
Inflasi pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 4,73% (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,08% (yoy). Inflasi yang relatif tinggi tersebut dipicu oleh tingkat inflasi komoditas administered price yang merupakan pola musiman pada saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Komoditas tarif angkutan udara dan tarif listrik merupakan penyumbang inflasi terbesar pada triwulan II. Inflasi kelompok inti terutama disumbang oleh komoditas sewa rumah dan tarif pulsa ponsel, sedangkan inflasi volatile food disumbang oleh minyak goreng dan kacang panjang. Secara spasial, laju inflasi Batam 4,90% (yoy) lebih tinggi dibanding Tanjungpinang sebesar 3,66% (yoy).
 
Kinerja perbankan mengalami perbaikan tercermin dari pertumbuhan aset, dana dan dana pihak ketiga (DPK). Ketiga indikator tersebut tercatat tumbuh masing-masing sebesar 6,93% (yoy), 7,60% (yoy), dan 3,87% (yoy). Di tengah tekanan perlambatan ekonomi, stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga. Hal ini tercermin dari tingkat kredit bermasalah yang terjaga pada batas aman walaupun mengalami penignkatan serta tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang tetap kuat dan terjaga pada level optimis. Aktivitas sektor UMKM sedikit tertekan tercermin dari pertumbuhan positif kredit UMKM yang melambat, namun, kualitas kredit masih dalam treshold yang ditetapkan oleh Bank Indonesia
 
Aktivitas pembayaran tunai meningkat pada triwulan kedua.  Net outflow tercatat sebesar Rp3.243 Miliar. Nilai net outflow tersebut meningkat signifikan dibanding triwulan I 2017 yang mencapai Rp242 miliar, outflow yang meningkat pada triwulan-II merupakan pola tahunan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Transaksi kliring menunjukkan perlambatan pada triwulan kedua. Nominal dan jumlah warkat transaksi kliring tercatat melambat masing-masing sebesar 36,18% (yoy) dan 24,14% (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh penurunan aktivitas ekonomi di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi Kepri.
   
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk miskin mengalami peningkatan. Jumlah penduduk miskin Kepri pada Maret 2017 tercatat sebanyak 125.370 orang dengan persentase penduduk miskin 6.06% meningkat dibanding periode September 2016 sebanyak 119.143 orang atau 5,84% dari total penduduk Kepri. Indeks Kedalaman Kemiskinan Maret 2017 tercatat 0,97% meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya 0,89%. Indeks keparahan kemiskinan juga mencatatkan pertumbuhan menjadi  0,23% lebih tinggi dibandingkan dengan periode Maret 2016 sebesar 0,20% yang mengindikasikan meningkatnya ketimpangan  pengeluaran antar penduduk miskin.
 
Perkiraan pertumbuhan ekonomi didukung oleh optimisme membaiknya perekonomian global 2017. Pemulihan permintaan global akan mendukung permintaan ekspor luar negeri, menjadi insentif bagi pengusaha untuk merealisasikan investasinya. Berbagai program kemudahan investasi yang diluncurkan pemerintah seperti program perluasan implementasi KLIK dan 123J, diyakini memperkuat daya tarik investasi Kepri. Dari sisi internal, ekonomi nasional yang semakin pulih akan memperkuat permintaan domestik. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk terus meningkatkan realisasi belanja infrastruktur, regulasi kemudahan investasi, serta berbagai upaya reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan publik, akan memperkokoh  fundamental perekonomian.
 
Laju inflasi pada triwulan III 2017 diperkirakan menurun dan masih berada di koridor sasaran yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pada Juli 2017, Kepri mencatatkan deflasi 0,04% (mtm) atau inflasi 3,27% (yoy). Penurunan inflasi ini sejalan dengan berlalunya puncak konsumsi masyarakat pada Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri dan tarif angkutan udara yang kembali normal. Namun terdapat beberapa potensi inflasi dari komoditas volatile food yang diakibatkan oleh curah hujan dan gelombang laut yang tinggi yang dapat menghambat proses distribusi, selain itu, menjelang Hari Raya Idul Adha, diperkirakan komoditas daging sapi juga akan mengalami inflasi. Pada triwulan IV, inflasi diperkirakan meningkat terutama dipicu oleh kelompok inti pada komoditas tarif angkutan udara. Selain itu kelompok volatile food juga diperkirakan akan memberikan sumbangan inflasi yang cukup tinggi dipengaruhi oleh fenomena angin musim utara yang dapat mengganggu jalur distribusi dan kelangkaan komoditas laut seperi ikan, cumi-cumi dan sotong. Sejalan nasional, target inflasi Kepri 2017 sebesar 4 ± 1% (yoy) diyakini masih dapat tercapai.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel