Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

​Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan I 2017 melambat dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kepri sebesar 2,02% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,24% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan ekonomi dipengaruhi oleh penurunan aktivitas ekspor-impor terutama net ekspor antarprovinsi dan konsumsi pemerintah. Dari sisi penawaran, perlambatan ekonomi disebabkan oleh kontraksi sektor utama yaitu industri pengolahan dan pertambangan, serta melambatnya sektor konstruksi dan perdagangan. Memasuki triwulan II 2017, perekonomian Kepri diperkirakan menguat pada kisaran 3,5 – 3,9% (yoy).

Konsumsi RT tumbuh 6,95% (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,12% (yoy). Penguatan konsumsi RT dipengaruhi konsumsi pada Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh. Konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 5,26% (yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya 0,29% (yoy), karena keterlambatan pengesahan APBD. Investasi tumbuh 4,87% (yoy) menguat dibanding triwulan sebelumnya 2,44% (yoy), investasi swasta dan pemerintah yang sudah dimulai pada 2016 masih berlanjut pada 2017. Selain itu pertumbuhan investasi juga didukung oleh sejumlah kebijakan kemudahan yang diluncurkan pemerintah daerah. Adapun net ekspor mengalami kontraksi 6,92% (yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 19,47% (yoy). Kontraksi net ekspor disebabkan oleh penurunan ekspor antarprovinsi yang terkontraksi 37,36% (yoy).

Sektor industri pengolahan terkontraksi 0,23% (yoy), dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,22% (yoy). Rendahnya permintaan produk, utamanya dari permintaan ekspor menjadi pemicu perlambatan industri pengolahan seperti produk perkapalan. Kinerja sektor pertambangan juga terkontraksi sebesar 6,63% (yoy) dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya 3,20% (yoy) akibat lifting migas Kepri yang terus menurun. Sektor konstruksi dan perdagangan mencatatkan perlambatan pertumbuhan. Sektor konstruksi hanya tumbuh 8,93% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya 9,72%. Sektor perdagangan hanya tumbuh sebesar 8,34% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya 11,08% (yoy) terindikasi dari turunnya kunjungan wisatawan dan indikator kredit KPR.

Pendapatan dan belanja Pemda terealisasi masing-masing sebesar 12,4% dan 8,9% dari pagu anggaran. Realisasi tersebut lebih rendah dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar masing-masing 20% dan 12%. Menurunnya realisasi pendapatan disebabkan oleh penurunan realisasi pendapatan bersumber dari penurunan dana perimbangan. Faktor penyebab rendahnya realisasi belanja yaitu sebagian besar proyek/program masih pada tahap perencanaan atau tahapan administrasi. Selain itu, terlambatnya pengesahan APBD turut memengaruhi kinerja konsumsi pemerintah.

Inflasi pada triwulan I 2017 tercatat sebesar 3,08% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,53% (yoy). Capaian inflasi yang relatif rendah tersebut ditopang oleh tingkat deflasi komoditas volatile food dan inflasi komoditas inti yang relatif terjaga, juga tidak terlepas dari dukungan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pelaku usaha dan masyarakat dalam melakukan langkah-langkah pengendalian inflasi sepanjang triwulan I 2017. Namun, peningkatan harga terjadi pada beberapa komoditas a.l tarif listrik, jasa angkutan udara dan jasa perpanjangan STNK pada triwulan I 2017. Secara spasial, laju inflasi Batam 3,20% (yoy) lebih tinggi dibanding Tanjungpinang sebesar 2,38% (yoy).

Kinerja perbankan mengalami perlambatan tercermin dari perlambatan aset dan dana pihak ketiga (DPK), namun kredit menunjukkan pertumbuhan. Ketiga indikator tersebut tercatat tumbuh masing-masing sebesar 6,11% (yoy), 6,43% (yoy), dan 1,93% (yoy). Pelemahan sektor industri utama menekan pertumbuhan aset dan DPK perbankan. Sedangkan pertumbuhan kredit ditopang oleh pertumbuhan kredit investasi. Di tengah tekanan perlambatan ekonomi, stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga. Hal ini tercermin dari tingkat kredit bermasalah yang terjaga pada batas aman serta tingkat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang tetap kuat dan terjaga pada level optimis. Namun, aktivitas sektor UMKM sedikit tertekan tercermin dari pertumbuhan positif kredit UMKM yang melambat dan kualitas kredit yang sudah melewati batas treshold.

Aktivitas pembayaran tunai meningkat pada triwulan pertama. Net outflow tercatat sebesar Rp245 Miliar. Nilai net outflow tersebut menurun signifikan dibanding triwulan IV 2016 yang mencapai Rp1.859 miliar. Meski demikian, secara tahunan total net outflow meningkat cukup signifikan sebesar 244,73% (yoy). Transaksi kliring menunjukkan perlambatan pada triwulan pertama. Nominal dan jumlah warkat transaksi kliring tercatat melambat masing-masing sebesar 10,16% (yoy) dan 7,98% (yoy). Perlambatan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Kepri.

Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi, jumlah pengangguran di Kepri mengalami penurunan. Tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2017 sebesar 6,44% atau 67.796 orang, lebih baik dibanding periode sebelumnya sebesar 7,69% atau 71.622 orang. Pada umumnya angkatan kerja Kepri bekerja di sektor informal ketika pertumbuhan sektor ekonomi utama seperi industri pengolahan mengalami kontraksi atau perlambatan. Di tengah penurunan jumlah pengangguran terbuka, indikator kemiskinan penduduk Kepri menunjukkan penurunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin Kepri pada September 2016 tercatat sebanyak 119.143 orang dengan persentase penduduk miskin 5,84% meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 114.834 orang atau 5,78% dari total penduduk Kepri.

Perkiraan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi tingkat permintaan global yang membaik pada 2017. Membaiknya perekonomian global diharapkan menopang permintaan ekspor luar negeri Kepri, yang selanjutnya akan mendorong akselerasi investasi. Dari sisi internal, ekonomi nasional yang semakin pulih akan memperkuat permintaan domestik. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk terus meningkatkan realisasi belanja infrastruktur, regulasi kemudahan investasi, serta berbagai upaya reformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan publik, akan memperkokoh fundamental perekonomian. Secara khusus dari sisi permintaan, penguatan ekonomi triwulan III 2017 ditopang penguatan investasi dan realisasi belanja pemerintah.

Laju inflasi pada triwulan II 2017 diperkirakan meningkat. Peningkatan inflasi pada triwulan II akan dipicu oleh komoditas volatile food karena peningkatan konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Selain itu dari administered price, ada rencana kenaikan tarif listrik PLN Batam periode kedua yang akan dilakukan pada Juni, peningkatan tarif listrik PLN Nasional periode ketiga, kenaikan cukai rokok dan LPG 3 kg

Inflasi diperkirakan melambat pada triwulan III 2017 dengan berlalunya Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Inflasi volatile food akan menurun seiring tingkat permintaan yang kembali normal pasca Ramadan dan Idul Fitri. Penurunan permintaan diperkirakan masih sejalan dengan pola musimannya yang menurun pada triwulan III. Penurunan inflasi volatile food juga akan didukung oleh kelancaran distribusi dari daerah sentra penghasil ke Kepri. Tekanan inflasi inti juga diperkirakan relatif stabil. Penurunan permintaan dan konsumsi masyarakat seiring dengan telah berlalunya Hari Raya Idul Fitri diperkirakan akan memperlambat laju inflasi inti. Laju inflasi administered price diperkirakan meningkat didorong kenaikan tarif listrik. Sejalan nasional, target inflasi Kepri 2017 sebesar 4 ± 1% (yoy).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel