Kajian Ekonomi Keuangan Regional Provinsi Kepulauan Riau Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
07 Juli 2020

Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II 2018 tercatat tumbuh sebesar 4,51% (yoy), menguat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 4,47% (yoy). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini didorong oleh pertumbuhan investasi, konsumsi pemerintah serta membaiknya kontraksi net ekspor pada sisi pengeluaran. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dari sisi lapangan usaha ditopang oleh kinerja sektor konstruksi dan perdagangan yang meningkat. Memasuki triwulan III 2018, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 4,0% - 4,4% (yoy).

Investasi pada triwulan II 2018 tumbuh 7,68% (yoy), bersumber dari investasi bangunan maupun non-bangunan yang dilakukan oleh sektor swasta maupun pemerintah. Konsumsi pemerintah tumbuh 16,95% (yoy) terutama didorong dari pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran atau gaji ke-13 kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pensiunan PNS pada bulan Juni 2018. Adapun net ekspor Kepri masih mengalami kontraksi namun mengalami perbaikan sebesar -5,72% (yoy) dibandingkan triwulan I 2018 sebesar -6,65% (yoy), didorong oleh peningkatan pertumbuhan ekspor maupun impor luar negeri. Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh melambat namun masih mencatatkan pertumbuhan positif 5,68% (yoy) ditopang oleh peningkatan kebutuhan konsumsi selama bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran.

Sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan sebesar 9,43% (yoy), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 5,08% (yoy) ditopang oleh proyek pembangunan baik oleh swasta maupun pemerintah sejalan dengan peningkatan kinerja investasi bangunan. Pertumbuhan sektor perdagangan tercatat mengalami peningkatan ditopang oleh peningkatan belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan selama bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran. Sementara itu, sektor industri pengolahan mengalami perlambatan didorong oleh kinerja ekspor produk perahu, kapal dan struktur apung lainnya serta produk elektronik yang terkontraksi. Kinerja sektor pertambangan dan penggalian pun mengalami penurunan setelah pada triwulan sebelumnya mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Pendapatan dan belanja Pemda terealisasi masing-masing sebesar 38,32% dan 31,56% dari pagu anggaran. Realisasi pendapatan lebih rendah dibanding capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 39,10%, sedangkan realisasi belanja mencatatkan sedikit penurunan dari tahun lalu sebesar 31,85%. Penurunan persentase realisasi pendapatan utamanya didorong oleh penurunan pendapatan transfer dan pendapatan retribusi daerah. Perlambatan konsumsi pemerintah disebabkan oleh penurunan belanja operasi terutama pelemahan belanja pegawai serta barang dan jasa.

Capaian inflasi Kepri triwulan II 2018 tercatat lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh tingkat inflasi administered prices serta volatile food yang melambat sehingga capaian inflasi Kepri masih berada dalam sasaran inflasi Nasional 3,5 ± 1% (yoy). Inflasi kelompok administered prices tercatat sebesar 3,64% (yoy) dengan andil terbesar bersumber dari tarif listrik. Kelompok volatile food mencatatkan inflasi sebesar 8,67% (yoy), didorong oleh peningkatan harga komoditas beras dan daging ayam ras. Sementara itu, inflasi inti pada triwulan II 2018 tercatat sebesar 2,66% (yoy) didorong oleh kenaikan upah tukang bukan mandor, biaya sekolah dasar dan akademi/perguruan tinggi.

Kinerja perbankan mengalami perlambatan tercermin dari pelemahan pertumbuhan kredit, aset dan DPK. Ketiga indikator tersebut tercatat tumbuh masing-masing sebesar 5,15% (yoy), 4,24% (yoy) dan 4,65% (yoy). Stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Tingkat kredit bermasalah sebesar 4,58%, masih belum melewati ambang batas yang ditetapkan BI. Namun kredit bermasalah mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,23% (yoy). Aktivitas sektor UMKM mencatatkan perlambatan pertumbuhan dari 6,35% (yoy) menajdi 5,37% (yoy).

Aktivitas pembayaran tunai mengikuti pola musimannya. Aktivitas pembayaran tunai tercatat mengalami net outflow karena perayaan Hari Raya Idul Fitri. Net outflow tercatat sebesar Rp1,68 triliun atau terkontraksi 18,34% (yoy). Transaksi kliring menunjukkan kontraksi pada triwulan II sebesar 2,42% (yoy) namun lebih baik dibandingkan triwulan I yang terkontraksi seebsar 26,27% (yoy). Jumlah warkat transaksi kliring juga mengalami kontraksi 1,82% (yoy) namun masih lebih baik dibanding periode sebelumnya yang terkontraksi 13,85%.

Jumlah penduduk miskin pada Maret 2018 berjumlah 131.676 orang atau 6,20% dari total penduduk. Angka ini lebih tinggi dibanding periode September 2017 sebesar 128.462 atau 6,13% dari total penduduk. Gini ratio tercatat 0,330, lebih rendah dibanding periode sebelumnya 0,359. Namun gini ratio pedesaan tumbuh lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh penguatan investasi serta membaiknya kinerja konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan didorong oleh membaiknya kinerja sektor pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan setelah pada triwulan II 2018 mengalami perlambatan. Pertumbuhan investasi diperkirakan akan didorong oleh pembangunan hotel dan apartemen di Batam, resort di Bintan serta proyek strategis pemerintah yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Sementara itu, potensi perbaikan kinerja industri elektronik juga tercermin dari Index of Industrial Production (IIP) Singapura yang tumbuh menguat pada akhir triwulan II 2018 sehingga diperkirakan dapat mendorong kinerja industri pengolahan Kepri khususnya untuk produk elektronik.

Kepri mencatatkan inflasi pada Juli 2018 sebesar 0,27% (mtm) atau 4,38% (yoy), didorong oleh kenaikan harga bayam dan kacang panjang. Seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan dan hari raya Lebaran, tekanan inflasi khususnya komoditas volatile food mengalami penurunan. Namun memasuki Agustus dan September 2018, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat didorong oleh peningkatan permintaan pada hari raya Idul Adha serta curah hujan serta gelombang laut yang tinggi menjelang akhir tahun. Dari sisi inflasi administered prices, peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Non-Subsidi oleh Pemerintah per 1 Juli 2018 diperkirakan dapat meningkatkan capaian inflasi pada triwulan III 2018. ​​​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel