​Kajian Ekonomi Keuangan dan Regional Provinsi Kepulauan Riau Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
11 Juli 2020

​​Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan I 2018 tumbuh  4,47% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 2,57% (yoy). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan ini ditopang oleh pertumbuhan industri pengolahan dari sisi lapangan usaha dan pertumbuhan investasi dari sisi konsumsi. Memasuki triwulan II 2018, perekonomian Kepri diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 4,3 – 4,7% (yoy).

Investasi tumbuh sebesar 6,49% (yoy), didorong oleh pertumbuhan investasi bangunan dan non bangunan. Net ekspor antar daerah tumbuh, sementara net ekspor luar negeri masih mengalami kontraksi namun mengalami perbaikan sehingga secara keseluruhan, net ekspor membaik. Konsumsi RT melemah sebagai dampak pelemahan ekonomi sepanjang tahun 2017.

Sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 4,43% (yoy), dibanding triwulan sebelumnya sebesar 3,99% (yoy). Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan produksi kapal dan struktur terapung lainnya, serta produk-produk dari besi baja. Sejalan dengan meningkatnya realisasi pertumbuhan investasi bangunan, sektor konstruksi juga tumbuh 5,08% (yoy) setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi 0,18 (yoy). Sektor pertambangan dan penggalian juga tercatat mengalami pertumbuhan dipengaruhi oleh tren kenaikan harga migas. Sektor perdagangan tumbuh sebesar 5,84% (yoy), didorong oleh tingginya tingkat kunjungan wisman pada triwulan I 2018.

Pencapaian realisasi pendapatan dan belanja Pemda tercatat mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan dan belanja Pemda terealisasi masing-masing sebesar 21,1% dan 11,1% dari total anggaran, lebih tinggi dari triwulan I 2017 yang masing-masing tercatat sebesar 12,4% dan 8,8%. Peningkatan realisasi pendapatan daerah tersebut disebabkan oleh peningkatan realisasi PAD serta pendapatan transfer pemerintah pusat dalam bentuk dana perimbangan. Belanja modal triwulan I 2018 terealisasi 5,5% dari total anggaran belanja modal, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang hanya terealisasi 1%.

Inflasi Kepri pada triwulan I 2018 sebesar 5,05% (yoy), lebih tinggi dibanding inflasi triwulan IV 2017 sebesar 4,02% (yoy), melewati sasaran inflasi nasional sebesar 3,5 ± 1% (yoy). Komoditas inti mencatatkan inflasi 2,27% (yoy), terutama pada komoditas upah tukang bulan mandor. Kelompok administered prices  mencatatkan inflasi sebesar 8,63% (yoy) dengan andil terbesar bersumber dari komoditas tarif listrik dan bensin. Sementara itu, tingkat inflasi komoditas volatile food sebesar 9,15% (yoy) dipicu oleh peningkatan harga cabai merah dan beras. Secara spasial, laju inflasi Batam 5,46% (yoy) lebih tinggi dibanding Tanjungpinang sebesar 2,59% (yoy).

Kinerja perbankan Kepri membaik dari triwulan sebelumnya tercermin dari peningkatan pertumbuhan total kredit perbankan, meskipun pada sisi aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK) mengalami perlambatan. Total penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh menguat 7,25% (yoy) dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan lalu sebesar 6,32% (yoy). Stabilitas keuangan daerah relatif tetap terjaga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Tingkat kredit bermasalah Kepri mencatatkan penurunan sehingga berada di bawah ambang batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Aktivitas sektor UMKM juga tetap berlangsung dan menunjukkan perbaikan tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM sebesar 6,35% (yoy) yang lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 5,31% (yoy). Namun, kualitas kredit UMKM mengalami penurunan dan masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Aktivitas pembayaran tunai mengikuti pola musimannya. Net outflow tercatat tumbuh positif 162,01% (yoy). Sementara itu, transaksi pembayaran non tunai (kliring) menunjukkan kontraksi namun membaik dibandingkan triwulan lalu. Pertumbuhan nominal transaksi maupun jumlah warkat transaksi kliring pada triwulan I 2018 terkontraksi masing-masing sebesar 26,27% (yoy) dan 13,85% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 sebesar 33,15% (yoy) dan 25,33% (yoy).

Jumlah angkatan kerja per Februari 2018 tumbuh melambat sebesar 1,15% (yoy). Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 97,87, meningkat sebesar 0,30% dibanding rata-rata NTP Desember 2017. Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri 2017 kembali mencatatkan pertumbuhan dan berada pada kategori tinggi. IPM Kepri adalah sebesar 74,45, meningkat 0,46 poin dibandingkan tahun sebelumnya yaitu sebesar 73,99.  

Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh pertumbuhan kinerja industri pengolahan, konstruksi dan perdagangan. Dari sisi konsumsi, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan disumbang oleh pertumbuhan kinerja konsumsi RT dan investasi. Net ekspor yang membaik ditopang oleh perbaikan kinerja ekspor luar negeri. Net ekspor luar negeri diperkirakan akan masih ditopang oleh ekspor elektronik dan CPO dengan kecenderungan mengalami perbaikan kontraksi.

Kepri mencatatkan deflasi pada April 2018 sebesar 0,29% (mtm) atau 4,35% (yoy), dibanding posisi Maret 2018 yang mencatatkan inflasi 0,21% (mtm) atau 5,05% (yoy). Sumbangan terbesar deflasi April bersumber dari penurunan harga cabai merah. Pada Mei dan Juni, potensi inflasi bersumber dari komoditas volatile food seperti bawang merah dan kelompok administered prices terutama dari tarif angkutan udara menjelang perayaan Hari Raya Idul Fitri. Capaian inflasi Kepri triwulan II 2018 diyakini masih berada dalam sasaran target inflasi nasional 2018 yaitu 3,5 ± 1% (yoy).​

 

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel