Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Timur Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

Perekonomian Kaltim triwulan I 2019 tumbuh sebesar 5,36% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 5,14% (yoy). Capaian pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan I 2019 berada di atas level pertumbuhan ekonomi nasional maupun Kalimantan yang masing-masing tercatat sebesar 5,07% (yoy) dan 5,33% (yoy). Secara spasial, Kaltim merupakan satu-satunya wilayah di Kalimantan yang mengalami akselerasi pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019. Di sisi lapangan usaha, optimalisasi produksi pertambangan batubara seiring dengan kondisi cuaca yang lebih kondusif dibandingkan tahun sebelumnya serta permintaan eksternal yang positif dari beberapa negara mitra dagang utama menjadi pendorong kinerja lapangan usaha ini. Lebih lanjut, penyelesaian beberapa proyek infrastruktur pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara turut mendukung kinerja perekonomian Kaltim triwulan I 2019. Sementara itu, akselerasi pertumbuhan ekonomi Kaltim triwulan I 2019 di sisi pengeluaran bersumber dari akselerasi PMTB dan konsumsi swasta. Peningkatan kinerja investasi Kaltim didorong oleh investasi bangunan berupa pengerjaan proyek-proyek infrastruktur pemerintah, proyek BUMN maupun swasta serta ekspansi lapangan usaha pertambangan yang masih berlanjut. Disamping investasi konsumsi swasta dan pemerintah Kaltim tumbuh cukup tinggi sejalan dengan rangkaian kegiatan Pemilu 2019 dan upaya penyelesaian proyek infrastruktur pemerintah. Namun demikian, kinerja perekonomian Kaltim triwulan I 2019, tertahan oleh net ekspor antar daerah yang mengalami kontraksi pertumbuhan.

Inflasi Kaltim triwulan I 2019 tercatat 2,99% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,24% (yoy). Di sisi lain, capaian inflasi Kaltim triwulan I 2019 tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang mengalami penurunan dari 3,13% (yoy) menjadi 2,48% (yoy). Penurunan tekanan inflasi Kaltim triwulan I 2019 bersumber dari kelompok bahan makanan. Tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan mengalami penurunan dari 3,31% (yoy) menjadi 1,64% (yoy). Hal tersebut disebabkan deflasi beberapa komoditas bahan makanan, antara lain ikan layang/benggol, cabai rawit, dan beras​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel