Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Timur Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Ekonomi Kaltimra  pada triwulan I 2017 mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltimra pada triwulan I 2017 sebesar 4,1% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,2% (yoy). Secara spasial, peningkatan ekonomi Kaltimra pada triwulan I 2017 terjadi baik di Kaltim maupun Kaltara. Pertumbuhan ekonomi Kaltim pada triwulan I 2017 tercatat 3,9% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan IV 2016 yang terkontraksi -0,3% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Kaltara meningkat dari 4,3% (yoy) pada triwulan IV 2016 menjadi 6,2% (yoy) di triwulan I 2017. Peningkatan pertumbuhan ekonomi Kaltimra triwulan I 2017 sejalan dengan pergerakan ekonomi nasional. Namun demikian, capaian pertumbuhan ekonomi Kaltimra masih dibawah ekonomi nasional yang tumbuh 5,0% (yoy) pada triwulan I 2017. Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan ekonomi Kaltimra pada triwulan I 2017 didorong oleh pertambangan dan industri pengolahan. Setelah berada dalam fase kontraksi sejak awal tahun 2015, lapangan usaha pertambangan tumbuh positif pada triwulan I 2017. Perbaikan tersebut didorong oleh harga komoditas batubara internasional yang mengalami peningkatan sejak akhir tahun 2016. Sementara itu, lapangan usaha industri pengolahan tumbuh lebih tinggi pada triwulan I 2017 didorong oleh kinerja industri pengolahan migas dan nonmigas. Dari sisi pengeluaran, perbaikan ekspor luar negeri memberikan andil terbesar terhadap peningkatan ekonomi Kaltimra pada triwulan I 2017. Ekspor luar negeri Kaltimra triwulan I 2017 tumbuh positif setelah berada terkontraksi selama 3 tahun terakhir. Perbaikan ekonomi Kaltimra triwulan I 2017 sejalan dengan kinerja lapangan usaha pertambangan yang didorong oleh perbaikan harga komoditas batubara internasional. Peningkatan kinerja Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang didorong oleh peningkatan investasi swasta turut memberikan andil positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltimra triwulan I 2017.
Ekonomi Kaltimra triwulan II 2017 diprakirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltimra triwulan II 2017 diprakirakan tumbuh 3,3% (yoy), melambat dibandingkan triwulan I 2017. Berdasarkan lapangan usaha, perlambatan ekonomi Kaltimra triwulan II 2017 disebabkan oleh penurunan kinerja pertambangan dan industri pengolahan.
 
Keuangan Pemerintah Daerah
Realisasi pendapatan fiskal Pemprov Kaltim pada triwulan I 2017 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Kaltim, realisasi pendapatan Pemprov Kaltim triwulan I 2017 sebesar Rp1,61 triliun atau 19,82% dari total APBD TA 2017. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan triwulan I 2016 yang mencapai Rp2,34 triliun. Sementara itu, realisasi belanja Pemprov Kaltim triwulan I 2017 juga mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi belanja Pemprov Kaltim  pada triwulan laporan sebesar Rp803 miliar atau 9,92% dari total pagu APBD TA 2017. Capaian realisasi belanja ini lebih rendah apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi pendapatan Pemprov Kaltara triwulan I 2017 mencapai Rp589,05 miliar atau 25,23% dari total APBD TA 2017. Realisasi pendapatan Pemprov Kaltara triwulan I 2017 mengalami peningkatan sebesar Rp100,36 miliar dibandingkan triwulan tahun sebelumnya yang tercatat Rp488,69 miliar. Sementara itu, Realisasi belanja Pemprov Kaltara triwulan I 2017 mencapai Rp106,50 miliar atau 3,57% dari APBD TA 2017. Capaian ini mengalami penurunan sebesar Rp69,52 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp176 miliar.
 
Perkembangan Inflasi Daerah
Tekanan inflasi Kaltim triwulan I 2017 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.Inflasi Kaltim triwulan I 2017 tercatat 3,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya secesar 3,39% (yoy). Peningkatan inflasi Kaltim triwulan I 2017 sejalan dengan pergerakan inflasi nasional yang naik dari 3,02% (yoy) pada triwulan IV 2016 menjadi 3,61% (yoy) di triwulan I 2017. Capaian inflasi Kaltim triwulan I 2017 lebih rendah dibandingkan inflasi di kawasan Kalimantan yang tercatat 4,66% (yoy) namun berada diatas level inflasi di regional Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebesar 3,76% (yoy). Sejalan dengan inflasi Nasional, meningkatnya tekanan inflasi Kaltim pada triwulan I 2017 disebabkan oleh naiknya harga-harga pada kelompok administered prices. Berdasarkan disagregasinya, inflasi kelompok administered prices triwulan I 2017 tercatat 9,48% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan IV 2016 sebesar 6,40% (yoy). Naiknya tekanan inflasi kelompok administered prices disebabkan oleh penghapusan subsidi listrik bagi pelanggan golongan 900VA dan penyesuaian biaya STNK. Di sisi lain, inflasi kelompok inti atau core inflation triwulan I 2017 tercatat 3,09% (yoy), relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3,03% (yoy). Komoditas utama yang menjadi penyumbang inflasi pada kelompok inti adalah penyesuaian tarif pulsa ponsel. Sementara itu, inflasi kelompok volatile food triwulan I 2017 mengalami penurunan dari 1,48% (yoy) pada triwulan IV 2016 menjadi 0,65% (yoy). Panen raya dibeberapa sentra produksi pangan dan kelancaran distribusi menjadi faktor utama penurunan inflasi kelompok ini.
Inflasi Provinsi Kaltara triwulan I 2017 lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Provinsi Kaltara mengalami inflasi 4,34% (yoy) pada triwulan I 2017, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,31% (yoy). Dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,07% (yoy), inflasi tahunan Kaltara masih berada di atas level inflasi nasional maupun inflasi Kaltim. Berdasarkan disagregasinya, inflasi kelompok inti (core inflation) tercatat 4,41% (yoy) pada triwulan I 2017, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya sebesar 5,00% (yoy). Sementara itu, inflasi kelompok volatile food turun dari 6,27% (yoy) menjadi 5,20% (yoy) pada triwulan I 2017. Di sisi lain, kelompok administered prices mengalami inflasi sebesar 2,88% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang terdeflasi -0,54% (yoy).
 
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Indikator stabilitas keuangan daerah Provinsi Kaltim pada triwulan I 2017 menunjukkan arah yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Perbankan di Kalimantan Timur berhasil meningkatkan pertumbuhan kinerja penghimpunan dana hingga 3,46% (yoy) atau lebih tinggi dari periode sebelumnya yang masih tercatat sebesar 0,85% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit di wilayah Kaltim pada triwulan I 2017 tumbuh 3,82% (yoy), lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencatat pertumbuhan 2,05% (yoy). Tren pertumbuhan kredit di Kaltim masih sejalan dengan pergerakan pertumbuhan kredit nasional walaupun lebih tinggi yaitu sebesar 8,62% (yoy). Pada triwulan I 2017, pangsa kredit UMKM di wilayah Kaltim mengalami peningkatan sehingga menyumbang 30,29% dari total kredit pada triwulan IV 2016, lebih tinggi dibandingkan rasio triwulan sebelumnya yang sebesar 20,74%. Kondisi tersebut sejalan dengan kewajiban rasio kredit atau pembiayaan UMUMK terhadap total portofolio kredit perbankan minimal sebesar 15% pada tahun 2017 (Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/12/PBI/2015). Stabilitas keuangan daerah Provinsi Kaltara di triwulan I 2017 mulai mengalami perbaikan. Walaupun masih terkontraksi sebesar -0,78% (yoy), pertumbuhan dana yang dihimpun oleh perbankan di Kaltara lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi lebih dalam hingga -5,52% (yoy). Perbankan masih melakukan ekspansi kredit di wilayah Kaltara secara aktif hingga triwulan I 2017 hingga mencapai angka pertumbuhan sebesar 16,79% (yoy) dan lebih tinggi dari triwulan sebelumnya yang juga telah tumbuh positif sebesar 14,16% (yoy). Lebih lanjut, kredit UMKM di Kaltara tumbuh hingga 24,80% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,94% (yoy).
 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Pada triwulan I 2017, jumlah transaksi yang menggunakan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di wilayah Kaltimra mengalami penurunan. Nominal transaksi SKNBI triwulan I 2017 tercatat Rp6,9 triliun atau terkontraksi sebesar -48,9% (yoy) lebih dalam dibandingkan triwulan IV 2016 yang kontraksi sebesar -26,3% (yoy) dengan nominal sebesar Rp7,5 triliun (Grafik V.1). Penurunan juga terjadi secara volume transaksi, dimana transaksi via SKNBI di Kaltimra tercatat sebanyak 211,3 ribu transaksi, terkontraksi -37,8% (yoy) dibandingkan periode sebelumnya yang masih mencatat jumlah transaksi sebanyak 233,9 ribu. Jumlah uang kartal yang beredar di Kaltimra selama triwulan I 2017 mengalami penurunan. Secara nominal, nilai transaksi outflow mencapai Rp2,8 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp4,4 triliun, namun pertumbuhannya mengalami peningkatan sebesar 54,7% (yoy). Sementara itu, nilai transaksi inflow tercatat Rp3,0 triliun yang kontraksi sebesar -6,7% (yoy), namun lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp1,8 triliun.
 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Berdasarkan rilis data ketenagakerjaan Februari 2017, kondisi ketenagakerjaan Kaltim sedikit mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak sejalan dengan kondisi perekonomian yang mulai pulih. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada Februari 2017 turun dari 66,06% pada Februari 2016 menjadi 65,45%. Penurunan TPAK Februari 2017 disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja lebih kecil dibandingkan dengan peningkatan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas. 
Berbeda dengan Kaltim, kondisi ketenagakerjaan Kaltara lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berdasarkan rilis ketenagakerjaan pada Februari meningkat dari 62,96% pada Februari 2016 menjadi 68,33%. Meningkatnya TPAK disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk usia 15 tahun keatas lebih besar dibandingkan dengan peningkatan jumlah angkatan kerja. Jumlah penduduk usia 15 tahun keatas. Sementara itu, tingkat kesejahteraan petani di Kaltimra pada triwulan I 2017 menunjukkan perbaikan. Perbaikan ini tergambar pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.
 
Prospek Perekonomian Daerah
Ekonomi Kaltimra pada triwulan III 2017 diperkirakan masih tumbuh positif, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan dua triwulan sebelumnya. Dari sisi lapangan usaha, perbaikan ekonomi Kaltimra diperkirakan akan didorong oleh peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian dan perdagangan. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga Kaltimra diperkirakan menjadi faktor pendorong utama perbaikan ekonomi Kaltimra triwulan III 2017. Konsumsi rumah tangga triwulan III 2017 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia Provinsi Kaltim, rata-rata ekspektasi masyarakat periode Januari-April 2017 menunjukkan tren peningkatan, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Secara kumulatif tahunan, ekonomi Kaltimra tahun 2017 diperkirakan akan mengalami peningkatan namun masih terbatas. Dari dalam negeri,investasi diperkirakan akan menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan perekonomian Kaltimra tahun 2017. Berdasarkan asesmen terhadap indikator-indikator makroekonomi diatas, pertumbuhan ekonomi Kaltimra triwulan III 2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,6–3,0% (yoy) sementara untuk keseluruhan tahun 2017 diperkirakan pada 3,0-3,4% (yoy).
Pada tahun 2017, risiko tekanan inflasi Kaltimra diperkirakan mengalami peningkatan terutama pada kelompok administered prices. Berdasarkan realisasi Januari 2017, komoditas penyumbang inflasi utama adalah kenaikan tarif listrik dan penyesuaian tarif Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). PT PLN (Persero) akan melakukan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan 900VA bertahap selama tiga bulan, yaitu Januari, Maret dan Mei 2017. Dari kelompok volatile food, tekanan inflasi tahun 2017 diperkirakan mengalami peningkatan. BMKG memperbarui perkiraan sebelumnya tentang fenomena La Nina  yang sebelumnya diperkirakan terjadi cukup singkat, yaitu pada Desember 2016 sampai dengan Januari 2017 menjadi diperpanjang hingga tengah tahun 2017. Hal ini akan berdampak pada potensi meningkatnya tekanan inflasi kelompok volatile food. Berdasarkan asesmen terhadap risiko-risiko selama tahun 2017, inflasi Kaltim dan Kaltara triwulan III 2017 diperkirakan masing-masing sebesar 4,94-5,34% dan 5,58-5,98% (yoy). Untuk keseluruhan tahun 2017, inflasi Kaltim dan Kaltara diperkirakan tetap berada dalam target nasional, yaitu pada kisaran 4+1% (yoy).
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel