Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Utara Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
 
Perekonomian Kaltara (ADHK 2010) pada triwulan IV 2018 mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltara pada triwulan IV 2018 tercatat 7,7% (yoy) tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,6% (yoy). Tingginya pertumbuhan ekonomi Kaltara menempatkan Kaltara berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,2% (yoy) dan secara spasial, menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi se-Kalimantan yang tumbuh sebesar 5,5% (yoy).
 
Berdasarkan lapangan usaha, peningkatan ekonomi Kaltara pada triwulan IV 2018 ditopang oleh menguatnya kinerja lapangan usaha pertambangan. Lapangan usaha pertambangan tumbuh tinggi dampak dari peningkatan produksi batu bara pada akhir tahun 2018.
 
Dari sisi pengeluaran, peningkatan kinerja ekspor dan investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Kaltara triwulan IV 2018. Ekspor meningkat tinggi didorong peningkatan ekspor komoditas baik komoditas pertambangan maupun pertanian. Sementara itu, seiring dengan percepatan penyelesaian pembangunan di Kaltara, investasi mengalami peningkatan pada triwulan IV 2018.
 
Secara keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Kaltara sebesar 6,0% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 6,6% (yoy).

 
Keuangan Pemerintah Daerah
 
Realisasi pendapatan APBD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara pada triwulan IV 2018 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan realisasi pendapatan terbesar terutama terjadi pada komponen PAD dengan persentase realisasi sebesar 115,22% disusul pendapatan transfer yang mampu menyerap sebesar Rp1,80 triliun lebih besar dibandingkan realisasi pada triwulan yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp1,65 triliun. Di sisi lain, secara nominal realisasi belanja mengalami sedikit penurunan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Penyerapan anggaran Pemprov Kaltara meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi belanja Pemprov Kaltara triwulan IV 2018 tercatat Rp2,33 triliun atau 80,94% dari APBD TA 2018. Secara nominal realisasi belanja tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan nominal realisasi belanja triwulan IV 2017 yang tercatat Rp2,37 triliun dari APBD TA 2017.

 
Perkembangan Inflasi Daerah
 
Inflasi Kaltara pada triwulan IV 2018 tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Inflasi Kaltara triwulan IV 2018 tercatat 5,00% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,82% (yoy). Peningkatan tekanan inflasi Kaltara tersebut sejalan dengan inflasi nasional yang juga mengalami kenaikan dari 2,88% (yoy) pada triwulan III 2018 menjadi 3,13% (yoy) di triwulan IV 2018. Secara spasial di wilayah Kalimantan, inflasi Kaltara lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi keseluruhan Kalimantan yang tercatat  sebesar 3,47% (yoy). Di samping itu, inflasi Kaltara juga tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi KTI yang tercatat sebesar 3,58% (yoy).
Berdasarkan kelompok barangnya, kenaikan tekanan inflasi pada kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan serta bahan makanan menjadi penyebab kenaikan inflasi Kaltara triwulan IV 2018. Inflasi kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan pada triwulan IV 2018 tercatat 10,89% (yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya sebesar 6,54% (yoy). Kebijakan maskapai yang menaikkan tarif angkutan udara di tengah kenaikan permintaan yang bertepatan dengan hari libur Natal dan tahun baru menjadi penyebab utama kenaikan tekanan harga kelompok tersebut.

 
Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
 
Indikator stabilitas keuangan daerah Kaltara menunjukkan pertumbuhan yang baik pada triwulan IV-2018, baik dari sisi penyaluran kredit, Non Performing Loan (NPL), dan total aset. Akselerasi pertumbuhan dipengaruhi oleh kegiatan pada lapangan usaha utama, yaitu pertambangan, pertanian dan kehutanan, dan perikanan. Apabila dilihat dari peruntukannya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan penyaluran kredit yang produktif, yaitu kredit modal kerja dan investasi. 
 
Di tengah meningkatnya penyaluran kredit perbankan Kaltara, kualitas kredit perbankan Kaltara tercatat konsisten semakin membaik.  Hal tersebut terlihat dari rasio Non-Performing Loan (NPL) penyaluran kredit di wilayah Kaltara yang terjaga pada level 0,77% turun dibandingkan NPL triwulan sebelumnya sebesar 0,81%. Perbaikan kualitas kredit perbankan Kaltara tersebut lebih baik dibandingkan dengan kualitas kredit Kalimantan dan Nasional yang bernilai sebesar 2,86% dan 2,34%. Dengan angka tersebut, penyaluran kredit yang tumbuh akselerasi tetap konsisten diiringi dengan penerapan prinsip kehati-hatian yang baik tercermin dari besaran NPL yang semakin rendah.

 
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
 
Pada triwulan IV 2018, jumlah transaksi yang menggunakan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI)  di wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan III 2018. Nominal transaksi SKNBI triwulan IV 2018 tercatat Rp 1,15 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2018 yang mengalami pertumbuhan nominal transaksi Rp 1,13 triliun atau 2,1% (qtq). Peningkatan ini berbanding lurus dengan volume transaksi yang juga mengalami peningkatan, yaitu transaksi via SKNBI di Kaltara pada triwulan IV 2018 tercatat sejumlah 40.286 transaksi, lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2018 yang tercatat sejumlah 39.999 transaksi atau 0,7% (qtq). Namun demikian, secara tahunan (yoy), terjadi penurunan nominal transaksi sebesar Rp 23 miliar atau -1,99% serta penurunan pada volume transaksi sebesar 78 transaksi atau -0,19%.

 
Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
 
Kondisi ketenagakerjaan di Kaltara semakin baik. Dibuktikan oleh salah satunya melalui penghargaan Indeks Prestasi Pembangunan Ketenagakerjaan (INTEGRA) 2018  untuk kategori ‘Indeks Pembangunan Ketenagakerjaan Terbaik Peringkat Kedua berdasarkan urusan Ketenagakerjaan kategori kecil’ yang diberikan Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia kepada Provinsi termuda ini pada November 2018 lalu. Selain itu, Jumlah angkatan kerja Kaltara tahun 2018 meningkat sebesar 3,16% (yoy) atau sebanyak 341 ribu jiwa pada Agustus 2018, dari yang sebelumnya sebanyak 330 ribu jiwa pada Agustus 2017. 
 
Walaupun secara jumlah, penduduk miskin di Kaltara mengalami peningkatan dari 48 ribu menjadi 49 ribu orang, namun secara persentase penduduk miskin terhadap total jumlah penduduk mengalami penurunan dari 6,96% menjadi 6,86%. 
 
Menempati urutan ke 20 di tingkat nasional, Kaltara mengalami peningkatan percepatan pembangunan manusia cukup baik. Di tingkat regional, provinsi termuda ini menduduki tempat kedua setelah Kalimantan Timur dan mampu mengungguli 3 provinsi Kalimantan lainnya.

 
Prospek Perekonomian Daerah
 
Perekonomian Kaltara pada triwulan II 2019 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,90%-6,30% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi lapangan usaha, melambatnya ekonomi Kaltara bersumber dari perlambatan kinerja lapangan usaha pertambangan, pertanian dan industri pengolahan.
 
Secara kumulatif tahunan, ekonomi Kaltara tahun 2019 diperkirakan akan kembali tumbuh lebih baik dibandingkan tahun lalu dengan kisaran sebesar 6,00% - 6,40% (yoy). Dari dalam negeri, peningkatan diperkirakan berasal dari lapangan usaha konstruksi sejalan dengan terus berlanjutnya percepatan pembangunan proyek strategis dan infrastruktur yang dilakukan sepanjang tahun 2019. 
 
Tingkat inflasi Kaltara pada triwulan II 2019 diperkirakan berada pada kisaran 3,40% - 3,80% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya didorong meredanya tekanan inflasi pada kelompok transpor, komunikasi, dan jasa serta bahan makanan. 
 
Secara kumulatif tahunan, inflasi Kaltara tahun 2019 diperkirakan berada pada kisaran 3,00% - 3,40% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Meredanya tekanan inflasi Kaltara tahun 2019 diperkirakan bersumber dari kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan serta inflasi bahan makanan. Tarif angkutan udara yang telah mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2018 diperkirakan akan mengalami penurunan seiring dengan adanya tuntutan masyarakat dan berbagai risiko second layer effect yang harus diantisipasi sebagai dampak dari peningkatan tarif tersebut. Lebih lanjut, tren pelemahan harga minyak mentah dunia dan batu bara diperkirakan masih terus terjadi di tahun 2019.
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel