Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Selatan Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Oktober 2020
Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 tumbuh sebesar 5,01% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,46% (yoy). Pada sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan ekonomi bersumber dari peningkatan pertumbuhan ekspor, investasi serta konsumsi LNPRT dan konsumsi pemerintah. Realisasi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari prakiraan mendorong ekspor batubara ke negara tersebut. Peningkatan investasi didorong oleh percepatan penyelesaian PLTU Mulut Tambang. Sedangkan Peningkatan konsumsi LNPRT dan konsumsi pemerintah masing-masing didorong oleh adanya event Haul Guru Sekumpul serta lebih baiknya realisasi belanja pemerintah secara nominal pada awal tahun. Dari sisi penawaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi utamanya bersumber dari peningkatan kinerja sektor pertanian dan pertambangan sejalan dengan terus membaiknya produksi tandan buah segar (TBS) serta ekspor batubara yang masih cukup baik.
 
Realisasi serapan pendapatan Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 tercatat 16,23% dari target APBD 2018, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 23.28%.  Lebih rendahnya serapan pendapatan terkait masih terbatasnya kapasitas fiskal yang mempengaruhi besaran dana transfer dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Sejalan dengan rendahnya realisasi serapan pendapatan, realisasi serapan belanja daerah APBD Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 tercatat sebesar 6,83% dari target APBD 2018, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I-2017 yang tercatat sebesar 15,68%. Lebih rendahnya serapan belanja ditengarai turut dipengaruhi rendahnya realisasi pendapatan dan masih terbatasnya belanja modal di awal tahun.
 
Inflasi IHK Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 secara tahunan (yoy) mengalami penurunan meskipun secara triwulanan (qtq) sedikit meningkat. Realisasi inflasi tahunan (yoy) tercatat sebesar 3,04% (yoy), lebih rendah dari  triwulan lalu (3,73% yoy). Secara triwulanan inflasi tercatat sebesar 0,50% (qtq), sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu (0,47% qtq). Peningkatan inflasi secara triwulanan disebabkan oleh kelompok volatile food karena beberapa komoditas mengalami kendala cuaca sehingga pasokannya berkurang, serta kelompok inti karena kenaikan harga internasional pada komoditas emas perhiasan dan kenaikan permintaan untuk komoditas nasi dengan lauk seiring dengan adanya kegiatan Haul Guru Sekumpul. Realisasi inflasi tahunan (yoy) Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 (3,04% yoy) masih dalam sasaran inflasi Kalimantan Selatan yang sebesar 3,75±1%, sebagai sasaran antara menuju target inflasi nasional 3,5±1%.
 
Penyaluran kredit perbankan Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 berdasarkan lokasi proyek tercatat sebesar Rp60,28 triliun atau tumbuh 15,74% (yoy), relatif stabil dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,46% (yoy). Masih tingginya pertumbuhan kredit didorong kondisi ekonomi yang kondusif mendorong perbankan tetap ekspansif dalam penyaluran kredit pada triwulan awal 2018. Stabilnya pertumbuhan kredit diikuti dengan relatif terjaganya kualitas kredit dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat sebesar 2,57%,  sedikit naik dibandingkan triwulan IV–2017 yang sebesar 2,51%. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun tercatat sebesar Rp47,14 triliun atau tumbuh 9,15% (yoy), meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,35% (yoy).
 
Transaksi kliring pada triwulan I-2018 tercatat sebesar Rp6,37 triliun atau terkontraksi 7,37% (yoy), membaik dari kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 10,19% (yoy).  Sementara transaksi RTGS pada triwulan I-2018 tercatat sebesar Rp27 triliun atau tumbuh sebesar 38,03% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 26,55% (yoy). Dalam pengelolaan uang rupiah, aliran transaksi perkasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada triwulan I-2018 mengalami aliran masuk bersih (net inflow) Rp2,17 triliun sesuai dengan pola selesainya kebutuhan masyarakat akan uang kartal pada saat libur sekolah, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Raya Natal dan Tahun Baru pada triwulan IV-2017.
 
Masih terbatasnya kinerja sektor pertanian dan sektor industri khususnya yang berkaitan dengan industri perkebunan kelapa sawit dan karet menyebabkan peningkatan tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang juga terjadi pada provinsi lain di regional Kalimantan.  Dari sisi kesejahteraan, daya beli masyarakat relatif terjaga meski kenaikan harga pada sejumlah komoditas pangan menjadi perhatian sebagaimana tercermin dari Indeks Tendensi Konsumen (ITK) BPS. Kondisi tersebut menyebabkan kenaikan nilai tukar petani (NTP) yang terbatas sejalan dengan kenaikan indeks yang harus dibayar oleh petani.
 
Perekonomian Kalimantan Selatan pada tahun triwulan III-2018 diprakirakan tumbuh melambat, dipengaruhi kembali normalnya konsumsi RT seiring selesainya momen Hari Besar Keagamaan Nasional diantaranya Isra Mi’raj (April 2018), Ramadhan (Mei-Juni 2018) dan Lebaran (Juni 2018). Sementara itu, ekspor tumbuh sedikit melambat dipengaruhi menurunnya kinerja sektor pertanian pascapanen raya tanaman bahan makanan dan stagnannya ekspor batubara. Di sisi lain, peningkatan harga CPO dunia menjadi pendorong peningkatan kinerja sektor industri pengolahan. Konsumsi Pemerintah juga berpotensi tumbuh meningkat sejalan dengan lebih baiknya serapan belanja serta kemajuan pembangunan infrastruktur yang turut mendorong meningkatnya investasi.
Inflasi triwulan III-2018 akan lebih rendah dibandingkan triwulan II-2018. Hal ini disebabkan oleh berlalunya tekanan inflasi yang bersumber dari tingginya permintaan pada saat momen Hari Raya.
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel