Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Selatan Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

​​Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 tumbuh sebesar 4,64% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,07% (yoy). Dari sisi permintaan, perlambatan bersumber dari melemahnya ekspor khususnya batubara seiring koreksi harga batubara pada triwulan II-2018. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tumbuh meningkat seiring tingginya konsumsi saat Ramdhan-Idulfitri. Konsumsi pemerintah juga tumbuh meningkat dengan adanya pembayaran THR dan gaji ke-13. Demikian pula investasi tumbuh meningkat didukung berlanjutnya pembangunan infrastruktur dan swasta. Dari sisi penawaran, perlambatan bersumber dari melemahya kinerja sektor pertambangan terkait lambannya kinerja ekspor. Demikian pula sektor industri pengolahan tumbuh melambat dipengaruhi kinerja ekspor CPO yang masih tertahan. Di sisi lain, kinerja sektor pertanian tumbuh meningkat didukung panen raya padi yang masih berlangsung pada triwulan II-2018. Selain itu, kinerja yang meningkat juga terjadi pada sektor LGA terkait betambahnya utilisasi pembangkit listrik baru, serta sektor perdagangan hotel dan restoran (PHR) dan sektor transportasi dan komunikasi terkait tingginya permintaan saat Ramadhan-Idulfitri.

Realisasi serapan pendapatan daerah Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi serapan pendapatan daerah tercatat 52,26% dari target APBD 2018, lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2017 yang sebesar 49,11%. Peningkatan realisasi serapan utamanya bersumber dari realisasi serapan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Di sisi lain, realisasi serapan belanja daerah APBD Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 tercatat sebesar 35,30% dari target APBD 2018, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II-2017 yang tercatat sebesar 36,04%. Turunnya realisasi serapan belanja daerah pada triwulan II-2018 utamanya bersumber dari belanja modal.

Realisasi belanja negara di Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 sebesar 35,27% dari pagu APBN 2018, lebih rendah dari tahun lalu yang sebesar 45,29%. Kebijakan penghematan anggaran tercermin pada realisasi transfer ke daerah. Realisasi transfer ke daerah pada triwulan II-2018 tercatat sebesar 13.68% dari pagu APBN 2018, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang sebesar 48,91%.

Inflasi IHK Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 secara tahunan (yoy) mengalami penurunan meskipun secara triwulanan (qtq) sedikit meningkat. Realisasi inflasi tahunan (yoy) tercatat sebesar 2,74% (yoy), lebih rendah dari triwulan lalu (3,04% yoy). Secara triwulanan, inflasi tercatat sebesar 1,21% (qtq), lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu (0,50% qtq). Inflasi tahunan yang lebih rendah bersumber dari melambatnya laju inflasi komponen Diatur Pemerintah (Aministered Price) dan Inti (Core) Peningkatan inflasi triwulanan (qtq) utamanya bersumber dari meningkatnya komponen inflasi Bergejolak (Voaltile Food), karena tingginya permintaan pada saat Ramadhan-Idulfitri. Realisasi inflasi Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 (2,74% yoy) masih dalam sasaran inflasi Kalimantan Selatan yang sebesar 3,75±1%., sebagai sasaran antara target inflasi nasional yang sebesar 3,5±1%.

Penyaluran kredit perbankan Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 berdasarkan lokasi proyek tercatat sebesar Rp62,31 triliun atau tumbuh 13,80% (yoy), sedikit melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,74% (yoy). Melambatnya pertumbuhan kredit sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, kualitas kredit relatif terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) tercatat sebesar 2,81%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan I–2018 yang sebesar 2,57%.

Pada triwulan II-2018, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun tercatat sebesar Rp47,68 triliun atau tumbuh 3,65% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,15% (yoy).

Transaksi kliring pada triwulan II-2018 tercatat sebesar Rp6,55 triliun atau tumbuh 8,26% (yoy), lebih tinggi triwulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 7,37% (yoy). Sementara transaksi RTGS pada triwulan II-2018 tercatat sebesar Rp31,87 triliun atau tumbuh sebesar 31,73% (yoy), sedikit melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 38,03% (yoy). Dalam pengelolaan uang rupiah, aliran transaksi perkasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 mengalami aliran keluar bersih (net outflow) Rp0,05 triliun sesuai dengan pola meningkatnya kebutuhan masyarakat akan uang kartal pada saat bulan Ramadhan dan libur panjang Idulfitri.

Kondisi ketenagakerjaan di Kalimantan Selatan pada triwulan II-2018 memperlihatkan perbaikan, terindikasi dari indeks ketersediaan lapangan kerja survei konsumen BI yang meskipun masih dalam level yang pesimis, namun terdapat perbaikan. Meskipun kinerja perekonomian secara keseluruhan melambat karena pengaruh melambatnya pertumbuhan sektor pertambangan, dorongan membaiknya ketersediaan lapangan kerja lebih didukung oleh meningkanya kinerja sektor yang menyerap tenaga kerja besar yaitu sektor pertanian dan sektor PHR. Meningkatnya kinerja kedua sektor tersebut juga berdampak positif pada menurunnya angka kemiskinan yang tercatat sebesar 4,54% per Maret 2018, lebih rendah dari Maret 2017 yang tercatat sebesar 4,73. Daya beli konsumsi rumah tangga juga cukup terjaga tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang meningkat pada triwulan II-2017, sejalan dengan kenaikan indeks pendapatan menurut survei konsumen BI maupun survei ITK BPS. Lebih baiknya pendapatan utamanya ditopang oleh pembayaran THR baik bagi pegawai swasta maupun PNS. Inflasi yang relatif terjaga khususnya pada komponen bergejolak (volatile food) dan inti (core) juga mendukung terjaganya daya beli.

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan IV-2018 diprakirakan tumbuh meningkat didukung meningkatnya kinerja ekspor, investasi, konsumsi RT, konsumsi LNPRT, dan konsumsi pemerintah. Meningkatnya kinerja ekspor sesuai proyeksi sejalan dengan meningkatnya kinerja sektor industri pengolahan (CPO) dengan mulai berproduksinya pabrik baru minyak goreng kemasan dan prospek harga CPO yang lebih baik. Investasi dan sektor bangunan berpeluang tumbuh meningkat didukung penyelesaian proyek infrastruktur dan swasta. Konsumsi rumah tangga akan tumbuh meningkat seiring momen libur akhir tahun dan adanya peringatan keagamaan Maulid Nabi. Konsumsi pemerintah berpeluang tumbuh sejalan dengan pola belanja pemerintah mendekati akhir tahun. Kinerja sektor pertanian juga berpeluang meningkat didukung oleh bertambahnya luas panen seiring program cetak sawah baru. Di sisi lain, pertumbuhan sektor pertambangan akan sedikit melambat dipengaruhi prospek harga ekspor batubara yang akan terkoreksi di akhir tahun.

Inflasi tahunan (yoy) triwulan IV-2018 akan lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2018. Hal ini dipengaruhi naiknya permintaan terkait peringatan keagamaan Maulid Nabi dan libur akhir tahun.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel