Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Selatan Agustus 2020 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 tercatat terkontraksi 2,61% (yoy). Pada sisi permintaan, kontraksi pertumbuhan ekonomi terutama bersumber dari kontraksi ekspor, konsumsi RT, dan konsumsi pemerintah di tengah kegiatan investasi yang terhambat. Pada sisi penawaran, kontraksi ekonomi terutama bersumber dari kontraksi sektor pertambangan, PHR, industri pengolahan, dan pertanian.

KEUANGAN PEMERINTAH

Realisasi serapan pendapatan daerah Provinsi Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp3,09 Triliun atau 52,18% dari target APBD 2020 penyesuaian, lebih tinggi dibandingkan triwulan II tahun sebelumnya yang sebesar Rp2,69 Triliun atau 38,66% dari target APBD 2019. Adapun realisasi serapan belanja daerah tercatat sebesar Rp2,74 Triliun, lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2019 yang tercatat sebesar Rp2,82 Triliun.

Secara rinci, penurunan realisasi serapan belanja daerah pada triwulan II 2020 disebabkan oleh belanja modal serta belanja barang dan jasa pada belanja operasional. Belanja modal pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp183,05 miliar atau 25,01% dari pagu APBD 2020 penyesuaian, lebih rendah dibandingkan triwulan II 2019 yang tercatat sebesar Rp330,77 miliar atau 22,56% dari pagu APBD 2019.

Realisasi serapan pendapatan negara di Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp3,58 triliun atau 32,61% dari target APBN di Kalimantan Selatan 2020, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi serapan pada triwulan II 2019 yang tercatat sebesar Rp4,84 triliun atau 44,24% dari target APBN di Kalimantan Selatan 2019. Realisasi serapan belanja negara di Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 tercatat sebesar Rp10,09 triliun atau 43,81% dari pagu APBN 2020, lebih rendah dibandingkan triwulan II tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp12,98 triliun atau 44,32% dari pagu APBN 2019.

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Inflasi Triwulan II 2020 tercatat lebih rendah dari triwulan I 2020 baik secara tahunan (yoy) maupun triwulanan (qtq). Secara tahunan (yoy), realisasi inflasi tercatat sebesar 1,44% (yoy), lebih rendah dari triwulan lalu (2,81% yoy). Inflasi tahunan (yoy) yang lebih rendah bersumber dari deflasi pada Kelompok Transportasi ditengah tekanan inflasi pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Pencapaian inflasi IHK triwulan II 2020 masih berada di bawah inflasi wilayah Kalimantan dan inflasi nasional serta terjaga dalam sasaran inflasi nasional (3,00±1%).

STABILITAS KEUANGAN DI DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM

Penyaluran kredit perbankan di Kalimantan Selatan pada triwulan II-2020 tercatat sebesar Rp64,28 triliun atau terkontraksi 2,84% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,55% (yoy). Terkontraksinya penyaluran kredit terutama bersumber dari terkontraksinya penyaluran kredit modal kerja dan investasi ditengah tetap positifnya pertumbuhan penyaluran kredit konsumsi. Secara sektoral perlambatan terutama bersumber dari sektor perdagangan. Adapun kualitas kredit yang disalurkan mengalami penurunan yang ditunjukkan oleh rasio kredit bermasalah (NPL) yang tercatat sebesar 3,62%, lebih tinggi dibandingkan triwulan IV–2019 yang sebesar 3,26%.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan II-2020 tercatat sebesar Rp54,20 triliun atau tumbuh 2,78% (yoy), melambat dibandingkan 3,62% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Pada triwulan II 2020, transaksi Sistem Kliring Nasional (SKN) meningkat sebesar 0,21% (yoy), lebih rendah daripada triwulan I-2020 yang sebesar 18,14% (yoy). Adapun transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) tumbuh sebesar 2,63% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 8,10% (yoy). Perlambatan pertumbuhan transaksi SKN dan RTGS terutama disebabkan oleh penyesuaian waktu operasional sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mengurangi aktivitas selama pandemi COVID-19.

Aliran transaksi perkasan Bank Indonesia Kalimantan Selatan pada triwulan II 2020 mengalami aliran masuk bersih (net inflow) sebesar Rp0,35 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mengalami aliran masuk bersih sebesar Rp2,68 triliun. Perlambatan aliran masuk bersih tersebut terutama disebabkan oleh permintaan uang kartal yang tinggi pada bulan puasa dan Idul Fitri Tahun 2020.

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Kondisi ketenagakerjaan pada Februari 2020 mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat Partisipasi Angkatan Tenaga Kerja (TPAK) berdasarkan rilis ketenagakerjaan menurun dari 73,91% pada Februari 2019 menjadi 73,03% pada Februari 2020. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2020 tercatat sebesar 3,80%, naik dari Februari 2019 yang sebesar 3,50%.

Pada triwulan II 2020, nilai tukar petani (NTP) Kalimantan Selatan tercatat sebesar 98,49. Secara tahunan, NTP Kalimantan Selatan mengalami peningkatan sebesar 3,33% (yoy), namun demikian mengalami kontraksi sebesar 3,35% (qtq). NTP pada triwulan II 2020 terpantau rendah, disebabkan oleh indeks yang dibayar petani lebih rendah yaitu tercatat sebesar 103,94 dibanding indeks yang dibayar petani yaitu sebesar 105,54.

IPM Kalimantan Selatan meningkat dari 70,17 pada tahun 2018 menjadi 70,72 pada tahun 2019. Secara umum, pembangunan manusia Kalimantan Selatan terus mengalami kemajuan selama periode 2010 hingga 2019. Khusus pada periode 2018-2019, IPM Kalimantan Selatan tercatat di atas 70 dan tumbuh 0,78 %.

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Perekonomian Kalimantan Selatan pada triwulan IV-2020 diprakirakan tumbuh meningkat secara bertahap dibandingkan dengan triwulan III-2020 terutama bersumber dari peningkatan konsumsi RT, konsumsi pemerintah, investasi, ditengah perbaikan kinerja ekspor dan impor. Dari sisi penawaran, peningkatan bersumber dari kinerja sektor PHR, konstruksi, dan Pertambangan. Secara keseluruhan tahun 2020, perekonomian Kalimantan Selatan diprakirakan tumbuh melambat, lebih rendah dari tahun 2019 terutama dipengaruhi dampak COVID-19 yang menahan kinerja konsumsi, investasi, dan ekspor. Pada sisi sektoral, perlambatan bersumber dari melambatnya kinerja sektor pertambangan, konstruksi, pertanian dan PHR.

Inflasi IHK tahunan (yoy) pada triwulan IV-2020 diprakirakan lebih tinggi dari triwulan III-2020, terutama didorong oleh kelompok Transportasi akibat pelonggaran aktivitas angkutan udara serta kelompok makanan, minuman dan tembakau diprakirakan akibat meningkatnya permintaan pada masa penerapan kenormalan baru. Secara keseluruhan tahun 2020, inflasi diprakirakan lebih rendah dari tahun 2019 didorong terkendalinya inflasi seluruh komponen utamanya kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta perlambatan konsumsi rumah tangga di

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel