Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Barat Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Perekonomian Kalimantan Barat pada triwulan I 2018 tumbuh 5,11% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (5,80%, yoy). Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat pada triwulan I 2018 utamanya bersumber dari perlambatan yang terjadi pada hampir seluruh komponen di sisi permintaan (penggunaan), kecuali komponen impor.

Dari sisi penawaran (lapangan usaha), perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat triwulan I 2018 khususnya terjadi pada lapangan usaha perdagangan, industri pengolahan dan konstruksi. Melambatnya konsumsi rumah tangga pasca akibat normaliasi permintaan pasca kegiatan akhir tahun mempengaruhi kinerja perdagangan pada triwulan I 2018. Perlambatan kinerja industri pengolahan disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas ekspor unggulan Kalimantan Barat (karet dan CPO) sepanjang triwulan berjalan. Masih tertahannya investasi bangunan akibat sentiment ‘wait and see’ menjelang Pilkada menyebabkan kontraksi pada kinerja konstruksi.

Memasuki triwulan II 2018, perekonomian Kalimantan Barat diproyeksikan tumbuh meningkat. Perekonomian Kalimantan Barat triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh 6,06-6,46% (yoy). Konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh meningkat seiring dengan peningkatan permintaan menjelang Ramadhan, Idul Fitri, Pilkada serta tahun ajaran baru sekolah. Demikian halnya dengan konsumsi pemerintah yang diperkirakan akan mulai tampak realisasinya, terutama untuk keperluan belanja modal. Di sisi lapangan usaha, peningkatan kinerja diperkirakan akan terjadi pada lapangan usaha perdagangan sebagai dampak meningkatnya konsumsi rumah tangga.

Inflasi Kalimantan Barat pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 3,44% (yoy) atau menurun dibandingkan triwulan IV 2017 yang sebesar 4,09% (yoy). Melambatnya inflasi volatile foods dan administered prices mendorong turunnya inflasi pada triwulan I 2018. Berdasarkan komoditasnya, penurunan inflasi triwulan I 2018 disebabkan oleh penurunan harga telur ayam ras, angkutan udara dan sayur-sayuran (wortel, ketimun dan tomat sayur). Di sisi lain, kenaikan tarif tukang bukan mandor, bawang merah, sawi hijau, ikan kembung dan cabai rawit menahan penurunan laju inflasi lebih jauh pada triwulan I 2018.

Pada triwulan I 2018, DPK perbankan Kalimantan Barat tumbuh 10,89% (yoy) dengan total nominal sebesar Rp52,45 triliun. Sedangkan kredit berlokasi di Kalimantan Barat tumbuh 13,58% (yoy) dengan posisi baki debet sebesar Rp71,35 triliun. Risiko kredit pun berada di bawah batas aman dengan rasio NPL sebesar 1,83% serta lebih rendah dari triwulan IV 2017 dengan NPL yang sebesar 1,87%.

Transaksi kliring di Kalimantan Barat pada triwulan I 2018 mencapai Rp5,97 triliun, menurun dari Rp6,15 triliun pada triwulan sebelumnya. Demikian halnya dengan nilai transaksi RTGS yang juga menurun dari Rp20,25 triliun pada triwulan IV 2017 menjadi Rp16,58 triliun pada triwulan I 2018. KPwBI Provinsi Kalimantan Barat mengalami net inflow sebesar Rp1,09 triliun di triwulan I 2018, dengan jumlah uang yang masuk (inflow) mencapai Rp2,82 triliun. Normalisasi permintaan masyarakat terhadap rupiah pasca Natal dan momen libur akhir tahun menjadi penyebab terjadinya net inflow pada triwulan I 2018.​​
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel