Laporan Perekonomian Jawa Timur Agustus 2019​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
 
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan II 2019 mencapai 5,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,6% (yoy). Dibandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa, kinerja perekonomian Jawa Timur pada periode ini tumbuh lebih tinggi dibandingkan DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Banten.
 
Dari sisi permintaan, peningkatan pertumbuhan dikontribusi oleh konsumsi pemerintah, investasi, serta peningkatan ekspor luar negeri yang disertai penurunan impor luar negeri. Sementara dari sisi penawaran, peningkatan kinerja sektor pertanian, penyediaan akomodasi dan makanan minuman, serta konstruksi menjadi pendorong kinerja positif pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. 
 
Potensi pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh kontraksi net ekspor antar daerah, sejalan dengan perlambatan kinerja industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran.
 
Kinerja ekonomi Jawa timur pada triwulan III 2019 diperkirakan melambat dibandingkan triwulan II 2019 seiring kembali normalnya konsumsi masyarakat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi diprakirakan juga disebabkan oleh kinerja ekspor luar negeri seiring potensi perlambatan aktivitas industri pengolahan dan pertumbuhan PDB mitra dagang luar negeri utama Jawa Timur sepanjang tahun 2019.
 
 
Asesmen Inflasi Daerah
 
Inflasi Jawa Timur pada triwulan II 2019 mencapai 2,40% (yoy), sedikit meningkat  dibandingkan triwulan I 2019 yang sebesar 2,35% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional (3,28%-yoy).
 
Rendahnya inflasi Jawa Timur tersebut disebabkan terkendalinya inflasi kelompok core inflation dan volatile food. Sementara itu berdasarkan kelompok barang dan jasa, penurunan inflasi kelompok bahan makanan dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mendorong terjaganya inflasi Jawa Timur.
 
Pada triwulan III 2019, inflasi Jawa Timur diperkirakan berada pada sasaran inflasi 3,5+1% dan lebih rendah dibandingkan inflasi periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih rendahnya inflasi tersebut disebabkan oleh perlambatan inflasi kelompok administered prices dan volatile food. Melambatnya inflasi administered prices sejalan dengan kebijakan pemerintah bahwa tidak akan ada penyesuaian tarif listrik hingga akhir tahun 2019. Sementara rendahnya inflasi volatile food ditopang oleh terjaganya harga berbagai komoditas.
 
Asesmen Keuangan Pemerintah Daerah
 
Anggaran Belanja dan Transfer Pemerintah di Jawa Timur tahun 2019 setelah perubahan mencapai Rp194,21 triliun, meningkat 1,59% (yoy) dibandingkan tahun 2018 dan didominasi oleh APBD Kabupaten/Kota (pangsa 50,88%), disusul APBN di Jawa Timur (pangsa 31,86%) dan terendah APBD Provinsi Jawa Timur (pangsa 17,26%).
 
Sampai dengan akhir triwulan II 2019, total realisasi pengeluaran pemerintah di Jawa Timur secara kumulatif mencapai 33,63% terhadap pagu anggaran, dan secara nominal meningkat 8,87% (yoy) dibandingkan triwulan II 2019. Realisasi tertinggi terjadi pada APBN di Jawa Timur (39,63% terhadap pagu anggaran), didorong realisasi belanja pegawai, belanja barang dan dana desa. APBD Provinsi Jawa Timur terealisasi 33,55% dari pagu anggaran dan secara nominal turun 11,91% (yoy). Penurunan realisasi terjadi baik pada belanja modal karena mayoritas pembangunan infrastruktur telah dilaksanakan, maupun belanja operasi karena penurunan realisasi belanja hibah.
 
 
Asesmen Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM
 
Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan II 2019 masih terjaga. Kinerja sektor korporasi dan sektor rumah tangga relatif stabil. Stabilnya kinerja korporasi tercermin dari masih positifnya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan (6,8%), tingginya pertumbuhan ekspor luar negeri (7,3%), peningkatan kapasitas utilisasi, serta masih tingginya eksposur kredit korporasi pada perbankan (10,36%).
 
Kinerja sektor rumah tangga (RT) juga masih stabil, tercermin dari stabilnya konsumsi RT  dan masih tingginya likuiditas sektor RT di perbankan. Pertumbuhan konsumsi RT masih tinggi (4,9%) didorong oleh peningkatan alokasi konsumsi dalam pengeluaran RT (dari 67,32% menjadi 67,99%). Eksposur kredit RT pada sektor perbankan melambat (dari 7,78% menjadi 7,28%), dipicu perlambatan KPR dan KKB. Sementara itu, simpanan likuiditas sektor RT pada perbankan meningkat (dari tumbuh 8,41% menjadi 10,41%) mengindikasikan kebutuhan sektor RT untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi pada awal triwulan III 2019 seiring tibanya Tahun Ajaran Baru.
 
Intermediasi perbankan di Jawa Timur pada triwulan II 2019 melambat, disebabkan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dibandingkan penyaluran kredit. Loan to deposit ratio (LDR) perbankan di Jawa Timur pada triwulan II 2019 mencapai 100,78%, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 101,46%. Melambatnya LDR karena pertumbuhan kredit (secara qtq) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan DPK. Risiko kredit sedikit meningkat tercermin dari peningkatan rasio NPL (dari 3,40% menjadi 3,49%), sedangkan risiko likuiditas cenderung stabil, tercermin dari berkurangnya dominasi DPK berjangka waktu pendek.
 
Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
 
Pada triwulan II 2019 pergerakan inflow (uang masuk) dan outflow (uang keluar) di Jawa Timur dalam posisi net outflow sebesar Rp2,8 triliun. Hal ini sejalan dengan peningkatan kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan dan perayaan Hari Raya Idul Fitri dan sejalan dengan peningkatan PDRB Jawa Timur.
 
Transaksi non tunai melalui RTGS di wilayah Jawa Timur mengalami peningkatan, sementara transaksi Kliring mengalami pelambatan. Nominal RTGS sebesar Rp80,83 triliun, meningkat 12,53 % dibandingkan triwulan I 2019. Sedangkan nominal Kliring sebesar sebesar Rp. 64,92 triliun, turun 4,82% dibandingkan triwulan I 2019. Secara keseluruhan transaksi non tunai melalui RTGS dan Kliring meningkat sejalan peningkatan PDRB Jawa Timur yang ditopang oleh siklus musiman (Hari Raya), pelaksanaan Pilkada Serentak dan juga Pilpres.
 
Pada triwulan II 2019, jumlah agen LKD di Jawa Timur sebesar 63.213 agen, naik 17,15% dibanding triwulan I 2019. Nominal transaksi LKD pada triwulan II 2019 mencapai Rp. 5,12 triliun meningkat 228% dibanding triwulan I 2019.  Salah satu peran utama agen LKD adalah membantu penyaluran bantuan sosial non-tunai dari Pemerintah Pusat dan Daerah kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang tersebar dibeberapa pelosok daerah
 
Asesmen Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Masyarakat
 
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur sampai dengan triwulan II 2019 lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, tercermin dari membaiknya indikator ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat serta menurunnya angka kemiskinan. 
 
Dari sisi ketenagakerjaan, peningkatan jumlah angkatan kerja diiringi dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka (dari 3,99% menjadi 3,83%). Perbaikan tersebut karena peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di Jawa Timur seiring pelaksanaan program pemerintah yang mendorong pengembangan sekolah vokasional dan meningkatkan kerjasama antara dunia pendidikan dengan dunia usaha.
 
Dari sisi kesejahteraan, tingkat kemiskinan juga relatif membaik (dari 10,98% menjadi 10,37%). Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melaksanakan berbagai upaya dalam menanggulangi masalah kemiskinan, baik yang merupakan inisiatif sendiri, maupun program bersama dengan Pemerintah Pusat.
  
Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2019
 
Prospek pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada tahun 2019 diperkirakan stabil dibandingkan tahun 2018, yaitu tumbuh di rentang 5,3% - 5,7% (yoy). Peningkatan perekonomian Jawa Timur diperkirakan bersumber dari peningkatan konsumsi swasta dan konsumsi pemerintah seiring pelaksanaan Pemilu serentak pada tahun 2019, serta pertumbuhan terbatas ekspor luar negeri Jawa Timur seiring kinerja positif ekspor komoditas pertanian dan industri pengolahan.
 
Sementara itu, inflasi diprakirakan berada dalam sasaran inflasi nasional 3,5+1% (yoy), yakni di kisaran 2,5% - 2,9%. Perlambatan tekanan inflasi disebabkan oleh kelompok administered prices seiring terkendalinya tarif transportasi angkutan udara. Sementara itu, perlambatan laju inflasi yang lebih dalam tertahan oleh tekanan inflasi inti maupun volatile food yang diprakirakan meningkat pada tahun 2019. 
 
 
 
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel