Kajian Ekonomi Keuangan dan Regional Provinsi Jawa Timur Triwulan III 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

​Ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2018 tumbuh lebih tinggi dibandingkan nasional namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2018 mencapai 5,4% (yoy), lebih tinggi dibandingkan nasional yang tercatat sebesar 5,2% (yoy) namun melambat dibandingkan triwulan II 2018 yang tumbuh 5,6% (yoy). Dibandingkan dengan provinsi di Pulau Jawa, kinerja perekonomian Jawa Timur pada periode ini hanya lebih baik dibandingkan Jawa Tengah.

Deselerasi ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2018 didorong oleh kembali normalnya konsumsi rumah tangga pasca momentum Ramadhan dan Idul Fitri serta penurunan kinerja belanja pemerintah. Kembali normalnya konsumsi masyarakat Jawa Timur menjadi penopang perlambatan perekonomian Jawa Timur. Lebih lanjut, berlalunya momen Pilkada dan penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pegawai negeri yang terjadi pada triwulan II 2018 turut mendorong perlambatan konsumsi pemerintah yang tidak terangkat oleh pencairan gaji ke-13 PNS dan Aparatur Negara. Dari sisi penawaran, kinerja Lapangan Usaha Konstruksi serta Perdagangan turut menurun dan menahan laju perekonomian Jawa Timur pada periode laporan. Menurunnya kinerja Perdagangan ditopang oleh penurunan penjualan eceran seiring penurunan konsumsi swasta Jawa TImur. Sementara menurunnya kinerja lapangan usaha Konstruksi disebabkan oleh penurunan ekspor dan pengadaan impor material bangunan sebagai respon dari indikasi menurunnya laju kenaikan harga rumah di Surabaya (proxy Jawa Timur).

Inflasi Jawa Timur pada akhir triwulan III 2018 mencapai 2,75% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan triwulan II 2018 yang tercatat sebesar 2,67% (yoy), namun masih lebih rendah dibandingkan inflasi Nasional (2,88%-yoy). Rendahnya inflasi Jawa Timur tersebut disebabkan terkendalinya inflasi kelompok administered price dan core inflation. Sementara itu berdasarkan kelompok barang dan jasa, penurunan inflasi kelompok sandang dan kelompok transportasi mendorong terjaganya inflasi Jawa Timur. Dibandingkan provinsi lain di kawasan Jawa, inflasi Jawa Timur merupakan yang terendah kedua setelah Jawa Tengah. Lebih lanjut, dari 8 (delapan) kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya, Surabaya mencatat inflasi tertinggi, yakni 3,10% (yoy), sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Kediri (1,65%, yoy).

Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan III 2018 masih terjaga. Kinerja sektor korporasi membaik, sementara kinerja sektor rumah tangga masih kuat. Peningkatan kinerja korporasi tercermin dari membaiknya berbagai rasio keuangan korporasi, tingginya pertumbuhan lapangan usaha industri dalam struktur PDRB Jawa Timur (8,9%), meningkatnya net ekspor dalam negeri dan aktivitas muat Pelabuhan Tanjung Perak, serta meningkatnya eksposur kredit korporasi di perbankan (tumbuh 11,70%) dengan risiko kredit yang menurun (NPL korporasi sebesar 4,36%).

Kinerja sektor rumah tangga (RT) juga masih terjaga dengan baik seiring dengan meningkatnya kinerja konsumsi RT dalam PDRB Jawa Timur. Terjaganya kinerja sektor RT tercermin dari peningkatan alokasi konsumsi sektor RT, peningkatan penghasilan, berkurangnya sektor RT yang tidak dapat menabung serta meningkatnya eksposur kredit RT di perbankan (tumbuh 10,08%). Risiko kredit sektor RT sedikit meningkat namun masih terkendali dipicu oleh kenaikan NPL Kredit Pemilikan Rumah khususnya s.d. tipe 21.

Intermediasi perbankan di Jawa Timur pada triwulan III 2018 stabil cenderung melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan risiko kredit dan likuiditas yang masih terjaga. Tingkat intermediasi yang direpresentasikan oleh indikator angka perbandingan antara jumlah kredit atau pembiayaan terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) sedikit melambat pada triwulan III 2018. Melambatnya LDR dari 101,98% pada triwulan II 2018 menjadi 101,92% pada triwulan III 2018 disebabkan karena pertumbuhan laju pertumbuhan kredit atau pembiayaan yang tertahan lebih dalam dari pertumbuhan laju pertumbuhan dana ketiga.

Kinerja kredit UMKM meningkat dari 10,09% (yoy) pada triwulan II 2018 menjadi 10,55% (yoy) di triwulan III 2018, ditopang oleh peningkatan pertumbuhan kredit investasi. Berdasarkan skala usaha, kredit UMKM Jawa Timur didominasi skala usaha menengah (share 42,66%) yang tercatat tumbuh 4.89%(yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun lalu. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit modal kerja mendominasi penyaluran kredit UMKM dengan proporsi 80,09% dan tumbuh 8,58% (yoy), sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (12,87%). Sementara itu, kredit investasi tercatat tumbuh sebesar 19,24% (yoy) pada periode laporan, meningkat dibandingkan triwulan II 2018 (7,54% yoy).

Di sepanjang tahun 2019 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,4-5,8% (yoy), stabil dibandingkan tahun 2018. Peningkatan perekonomian Jawa Timur diperkirakan bersumber dari investasi dan ekspor luar negeri, disertai masih positifnya kinerja konsumsi swasta sebagai penopang utama struktur permintaan perekonomian Jawa Timur.

Tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2019 diperkirakan berada dalam sasaran inflasi 3,5+1% (yoy). Peningkatan terbesar diperkirakan didorong oleh kelompok administered prices dan core inflation, sementara inflasi kelompok volatile food relatif terjaga. ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel