KEKR Provinsi Jawa Timur Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di triwulan I 2018 mencapai 5,5%, melambat dibandingkan triwulan IV 2017 yang tumbuh 5,7%. Meskipun demikian, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,1% (yoy). Berbeda dengan Jawa Timur, kinerja ekonomi provinsi-provinsi lain di kawasan Jawa pada triwulan I 2018 membaik dibandingkan triwulan sebelumnya. Dengan kinerja ekonomi tersebut, perekonomian Jawa turut meningkat, dari 5,5% (yoy) di triwulan IV 2017 menjadi 5,7% (yoy) di triwulan I 2018.

Dari sisi permintaan, perlambatan kinerja net ekspor dalam negeri dan investasi menjadi penyebab utama perlambatan ekonomi Jawa Timur di triwulan I 2018. Kinerja net ekspor dalam negeri yang tidak setinggi triwulan sebelumnya tersebut disebabkan oleh sedikit lesunya permintaan barang konsumsi Kawasan Timur Indonesia (KTI), mitra dagang utama Jawa Timur. Hal ini tercermin dari perlambatan kinerja konsumsi rumah tangga di wilayah Kalimantan dan Sulampua.

Kinerja investasi Jawa Timur yang melambat turut menjadi sumber perlambatan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2018. Sebagaimana pola musimannya, kinerja investasi belum optimal pada awal tahun berkaitan dengan tahap persiapan dan anggaran yang masih dalam proses pematangan. Sementara itu perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja perdagangan eksternal dan konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT) yang membaik dibandingkan triwulan lalu. Ekonomi global yang semakin membaik, serta dukungan nilai ekspor dari industri perkeretaapian Jawa Timur telah mendorong perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur. Masa persiapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 18 Kabupaten/ Kota di Jawa Timur, serta Pemilihan Gubernur Jawa Timur juga cukup membantu menopang laju pertumbuhan konsumsi LNPRT pada periode laporan.

Dari sisi penawaran, perlambatan kinerja lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan cukup menekan kinerja ekonomi Jawa Timur di triwulan I 2018. Gangguan hama dan gangguan cuaca La Nina dengan intesitas lemah yang berlangsung pada triwulan I 2018 menyebabkan lapangan usaha pertanian tidak mampu tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Sementara itu belum cukup kuatnya permintaan mitra dagang domestik juga menjadi faktor penahan kinerja lapangan usaha industri pengolahan Jawa Timur. Namun demikian, perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja lapangan usaha perdagangan yang membaik pada periode laporan sejalan dengan perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur.

Asesmen Inflasi Daerah
Pada akhir triwulan I 2018, inflasi Jawa Timur mencapai 3,16 % (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (4,04%, yoy), dan pencapaian inflasi nasional (3,40%, yoy). Peningkatan tertinggi terjadi di kelompok volatile food, dari -1,88% (yoy) menjadi 0,53% (yoy). Laju inflasi yang relatif rendah tersebut dikontribusi oleh penurunan inflasi kelompok inti, dari 3,27% (yoy) menjadi 2,69% (yoy) sebagai dampak base effect kenaikan tarif pulsa ponsel di tahun 2017 dan relatif stabilnya harga makanan.

Tekanan inflasi kelompok administered prices juga jauh mereda, dari 10,68% (yoy) menjadi 5,16% (yoy) sebagai dampak base effect kenaikan biaya perpanjangan STNK pada awal tahun 2017 yang lalu, tidak adanya kenaikan tarif listrik pada triwulan I 2018, serta kenaikan harga Pertamax dalam nominal yang lebih kecil.

Namun demikian, inflasi kelompok volatile food meningkat dari 0,53% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 2,89% (yoy). Peningkatan laju inflasi kelompok ini disebabkan oleh kenaikan harga beras menjelang panen raya pada Maret-April 2018, tingginya harga bawang putih karena pembatasan impor, serta tingginya harga daging ayam akibat cuaca buruk dan relatif tingginya harga pakan.

Dibandingkan provinsi lainnya di kawasan Jawa, inflasi Jawa Timur pada triwulan I 2018 merupakan yang terendah. Sementara dari 8 kabupaten/kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya, Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi, yakni 3,49% (yoy), sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Kediri (2,41%, yoy).

Asesmen Stabilitas Keuangan Daerah dan Pengembangan UMKM
Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan I 2018 masih terjaga. Kinerja sektor korporasi dan rumah tangga masih kuat, meskipun tidak setinggi periode sebelumnya. Masih kuatnya kinerja korporasi tercermin dari peningkatan ekspor luar negeri dan masih tingginya impor bahan baku. Hal tersebut mengindikasikan proses produksi dan aktivitas usaha korporasi tetap tumbuh dengan baik. Kondisi ini didukung dengan peningkatan pertumbuhan kredit korporasi dan penurunan suku bunga. Meskipun demikian, terdapat sedikit penurunan pada kapasitas produksi dan volume pemesanan sehingga menyebabkan lebih rendahnya pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan, transportasi dan pergudangan serta penyediaan akomodasi dan makan minum dibandingkan triwulan IV 2017.

Sementara itu, kinerja sektor rumah tangga (RT) masih baik walaupun kinerja konsumsi RT dalam PDRB Jawa Timur melambat. Masih kuatnya kinerja sektor RT tercermin dari peningkatan alokasi RT untuk konsumsi, tingkat pendapatan RT yang mayoritas masih stabil, penurunan debt to service ratio (DSR) serta penurunan kelompok RT yang tidak bisa menabung. Kondisi ini tercermin pula pada eksposur kredit RT di perbankan. Walaupun pertumbuhan kredit RT tidak setinggi triwulan sebelumnya dan terdapat kenaikan NPL RT, namun pertumbuhan kredit RT tetap tinggi (di atas 10%) yang diiringi penurunan suku bunga kredit, dan NPL masih jauh di bawah threshold 5%.

Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, proporsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan Jawa Timur pada triwulan I 2018 telah mencapai 25,96%, lebih tinggi dari target yang ditetapkan di tahun 2018 (20%). Penyaluran kredit UMKM terpantau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama didorong oleh perbaikan kredit investasi. Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan akses keuangan dan daya saing UMKM, diantaranya melalui edukasi keuangan, pembentukan klaster, monitoring rasio kredit UMKM, program sertifikasi tanah, serta penyelenggaraan dialog mengenai potensi ekspor UMKM.

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2018
Di sepanjang tahun 2018 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,4-5,8% (yoy), membaik dibandingkan tahun 2017 yang sebesar 5,4 (yoy). Perbaikan permintaan domestik yang bersumber dari konsumsi swasta dan pemerintah, diperkirakan menjadi penopang utama perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut. Lebih lanjut, ekonomi dunia yang semakin kuat serta perluasan pasar ekspor yang telah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Jawa Timur sejak 2017 diperkirakan mampu menopang perbaikan kinerja ekspor luar negeri Jawa Timur di 2018. Meskipun demikian, peristiwa terorisme yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo pada pertengahan triwulan II 2018 berpotensi menahan laju konsumsi swasta Jawa Timur. Hal ini berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada batas bawah kisaran proyeksi.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2018 diperkirakan berada dalam sasaran inflasi 3,5+1% (yoy), yakni di kisaran 3,1% - 3,5%. Peningkatan terbesar diperkirakan didorong oleh kelompok volatile food, sementara inflasi kelompok administered prices dan core inflation relatif terjaga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel