​KEKR Jawa Timur Agustus 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
10 Agustus 2020

Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Perekonomian Jawa Timur pada Triwulan II 2017 tumbuh 5,4% (yoy), melambat dibandingkan triwulan I 2017 (5,5%). Di kawasan Jawa, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur merupakan yang terendah di antara provinsi lain di Jawa. Secara umum pada triwulan II 2017, empat provinsi di kawasan Jawa, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mengalami perlambatan kinerja ekonomi dibandingkan triwulan I 2017.

Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi Jawa Timur disebabkan oleh pelemahan Ekspor Luar Negeri dan Konsumsi Pemerintah. Ekspor Luar Negeri Jawa Timur yang terkontraksi pada triwulan ini didorong oleh implementasi pajak ekspor untuk komoditas emas dan pembatasan operasional angkutan barang sepanjang arus mudik Lebaran 2017. Sementara perlambatan konsumsi pemerintah didorong oleh rendahnya realisasi belanja pegawai akibat bergesernya pencairan gaji ke 14 bagi Pegawai Negri Sipil (PNS) dari triwulan II ke triwulan III 2017. Perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja konsumsi swasta dan net ekspor dalam negeri yang mengalami akselerasi dibandingkan triwulan lalu sejalan dengan peningkatan permintaan akibat momen Ramadhan dan Lebaran.

Dari sisi penawaran, melambatnya perekonomian Jawa Timur terutama disebabkan oleh kinerja lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha pertambangan, serta terbatasnya kinerja lapangan usaha industri pengolahan pada periode ini. Kinerja industri pengolahan yang melambat didorong oleh perlambatan ekspor industri akibat permintaan mitra dagang luar negeri utama yang menurun. Perlambatan yang lebih dalam tertahan oleh kinerja sektor perdagangan yang membaik sejalan dengan peningkatan konsumsi swasta dan permintaan mitra dagang domestik.

Asesmen Inflasi Daerah
Pada akhir triwulan II 2017, inflasi Jawa Timur mencapai 4,66%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (3,85%, yoy), dan lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2016 (2,69%, yoy). Peningkatan inflasi didorong oleh kelompok administered price, yang mengalami kenaikan inflasi dari 6,51% (yoy) di triwulan sebelumnya menjadi 12,36%. Adanya kenaikan tarif listrik dan BBM non subsidi, peningkatan biaya perpanjangan STNK serta kenaikan tarif angkutan udara jelang Lebaran menjadi pemicu utamanya.

Sebaliknya, inflasi kelompok inti justru melandai dari 4,09% (yoy) menjadi 3,88% (yoy), seiring dengan melambatnya inflasi kelompok core tradable yang tercermin dari koreksi harga gula pasir dan makanan jadi. Inflasi kelompok volatile food juga melambat dari 0,57% (yoy) menjadi 0,17%, terendah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir (6,25%) sehingga mampu menahan laju inflasi yang lebih tinggi. Rendahnya inflasi kelompok volatile food tidak terlepas dari berbagai upaya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Timur untuk memastikan ketersediaan pasokan di masyarakat.

Dari 8 (delapan) kabupaten/kota di Jawa Timur yang dihitung inflasinya oleh BPS, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Surabaya (4,91%, yoy) dan terendah di Banyuwangi (2,96%, yoy). Tingginya inflasi di Kota Surabaya pada triwulan II 2017 disebabkan peningkatan inflasi pada kelompok mamin, rokok dan tembakau (7,17%, yoy), lebih tinggi dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur.

Asesmen Stabilitas Keuangan Daerah
Stabilitas sistem keuangan Jawa Timur triwulan II 2017 cukup terjaga di tengah tekanan yang dialami korporasi dan Rumah Tangga (RT). Kinerja korporasi sektor utama Jawa Timur yakni sektor industri pengolahan mengalami perlambatan dipengaruhi penurunan kinerja ekspor beberapa komoditas unggulan Jawa Timur sehingga mendorong perlambatan kredit korporasi dari 3,94% (yoy) menjadi 3,54% (yoy). NPL Korporasi juga tercatat masih meningkat dari 4,17% menjadi 4,23%. Di sisi lain, kondisi RT cukup baik tercermin melalui peningkatan konsumsi masyarakat sejalan dengan perayaan Idul Fitri, meskipun menghadapi tekanan inflasi dan terbatasnya kinerja sektor industri pengolahan. Permintaan kredit RT tercatat meningkat dari 11,18% (yoy) menjadi 12,98% (yoy), meskipun masih mengalami penurunan repayment capacity yang tercermin pada memburuknya rasio non performing loan (NPL), yakni dari 1,25% menjadi 1,35%.

Kinerja perbankan Jawa Timur pada triwulan II 2017 relatif baik. Hal ini tercermin dari peningkatan pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga (DPK), sedangkan pertumbuhan kredit cenderung stabil. Kredit perbankan mencapai Rp476,39 triliun atau tumbuh 7,84% (yoy), relatif stabil dibandingkan triwulan I 2017. Sebaliknya, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 9,88% meningkat dibandingkan triwulan I 2017 (8,94%) atau mencapai Rp475,92 triliun. Hal tersebut mendorong peningkatan pertumbuhan aset dari 7,15% menjadi 8,56% atau sebesar Rp584 triliun.

Asesmen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pada triwulan II 2017 terpantau melalui kondisi net outflow yang terjadi di Jawa Timur. Nilai nominal inflow mencapai Rp17,25 triliun atau turun 27,9% (qtq), jauh lebih rendah dibanding periode sebelumnya (32,5%, qtq). Sementara itu, nominal outflow mencapai Rp37,90 triliun meningkat cukup signifikan sebesar 181,5% (qtq) dibanding kondisi pada triwulan I 2017 (-11,6%, qtq). Secara spasial, net outflow terjadi pada seluruh wilayah kerja Bank Indonesia, dengan peningkatan tertinggi terjadi di wilayah kerja Kantor Perwakilan BI Malang.

Transaksi kliring (SKNBI) menunjukkan kondisi sebaliknya dimana transaksi SKNBI menurun baik dibanding triwulan sebelumnya maupun periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi baik secara nominal yang mencapai Rp28,2 triliun atau turun sebesar 24,29% (qtq) maupun volume yang mencapai 0,76 juta lembar atau turun sebesar 21,35% (qtq). Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kinerja kliring juga tercatat turun. Nominal kliring turun sebesar 34,02% (yoy) dari Rp42,7 triliun sementara volume kliring turun sebesar 30,88% (yoy) dari 1,10 juta lembar. Namun demikian, transaksi RTGS masih mencatat peningkatan baik secara nominal maupun secara volume masing-masing sebesar 6,4% (qtq) dan 0,3% (qtq).

Prospek Ekonomi dan Inflasi Tahun 2017
Di sepanjang tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Jawa Timur diperkirakan mencapai 5,5-5,9% (yoy), membaik dibandingkan tahun 2016 yang sebesar 5,5% (yoy). Perbaikan permintaan domestik yang bersumber dari konsumsi swasta dan pemerintah, diperkirakan menjadi penopang utama perbaikan pertumbuhan ekonomi tersebut. Meskipun demikian, kinerja ekspor diperkirakan cenderung melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Dibandingkan tahun sebelumnya, tekanan inflasi Jawa Timur di tahun 2017 diperkirakan akan meningkat dan mendekati batas atas sasaran inflasi nasional, yakni di kisaran 4+1% (yoy). Seluruh kelompok pembentuk IHK diperkirakan akan mengalami peningkatan tekanan inflasi dibandingkan tahun 2016. Peningkatan tekanan inflasi administered prices, terutama penyesuaian berbagai tarif energi, diperkirakan menjadi pendorong utama inflasi di sepanjang tahun 2017.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel