Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Tengah Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020
Pada triwulan I 2019, perekonomian Jawa Tengah terpantau tumbuh melambat menjadi 5,14% (yoy), dari triwulan IV 2018 yang tercatat 5,28% (yoy). Angka pertumbuhan ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan laporan (5,07%; yoy), namun masih berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi Kawasan Jawa (5,66%; yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2018 terutama bersumber dari ekspor luar negeri seiring dengan permintaan luar negeri yang melemah. Selanjutnya, perlambatan impor luar negeri khususnya berupa migas berdampak pada terbatasnya bahan baku kegiatan industri yang memberikan nilai tambah lebih besar, sehingga hal ini berdampak pada tertahannya kinerja ekspor antardaerah Jawa Tengah. Perlambatan net ekspor antardaerah menyebabkan kontribusi komponen ini turun relatif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Di sisi lain, permintaan domestik terpantau masih cukup kuat. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan komponen konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT), dan konsumsi pemerintah yang mencatatkan perbaikan pada triwulan laporan. Lebih lanjut, investasi juga tercatat tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, melemahnya kinerja tiga lapangan usaha utama Jawa Tengah yaitu industri pengolahan; pertanian, kehutanan, dan perikanan; serta perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor; menjadi sumber perlambatan laju perekonomian Jawa Tengah di triwulan I 2019. Meskipun demikian, membaiknya kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum; informasi dan komunikasi; serta konstruksi dapat menjadi penahan perlambatan ekonomi lebih dalam di triwulan ini.
 

Inflasi tahunan Jawa Tengah pada triwulan I 2019 tercatat 1,82% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2018 (2,82%; yoy). Berdasarkan disagregasi kelompoknya, penurunan inflasi tahunan pada triwulan I 2019 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan inflasi tahunan pada kelompok bahan makanan seiring dengan meningkatnya produksi komoditas utama pangan dan hortikultura pada masa panen yang berlangsung menjelang akhir triwulan I 2019. Dari sisi permintaan, konsumsi masyarakat mengalami normalisasi setelah berakhirnya periode perayaan dan hari libur nasional yang berlangsung pada akhir triwulan IV 2018 lalu. Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami perbaikan tekanan harga, setelah implementasi kebijakan subsidi energi Pemerintah.

Meski kinerja perekonomian relatif melambat pada triwulan laporan, stabilitas keuangan Jawa Tengah masih terjaga, ditopang berbagai indikator kinerja dan ketahanan sektor keuangan yang baik. Perbankan di Jawa Tengah secara umum masih mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (6,48%; yoy) dan pertumbuhan kredit (8,47%; yoy) dengan kualitas yang baik. Ke depan, peningkatan kinerja akan ditopang oleh program pemerintah, pemanfaatan teknologi, dan kepastian perekonomian domestik. Selanjutnya, capaian penyaluran kredit UMKM di Jawa Tengah konsisten tertinggi di nasional. Dari total kredit perbankan Jawa Tengah, 40,31% disalurkan untuk UMKM, dengan kualitas kredit yang terjaga.

Ke depan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2019 diperkirakan mengalami perbaikan dibandingkan 2018, meski relatif terbatas. Ditinjau dari sisi pengeluaran, akselerasi pertumbuhan diperkirakan berasal dari konsumsi RT, konsumsi LNPRT, dan konsumsi pemerintah. Sementara itu, ekspor luar negeri diperkirakan tumbuh relatif terbatas seiring dengan perkiraan melambatnya volume perdagangan dunia akibat pertumbuhan ekonomi global yang melandai dan risiko ketegangan hubungan dagang antarnegara yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Pertumbuhan investasi juga diperkirakan sedikit melambat seiring dengan telah selesainya berbagai proyek strategis Pemerintah pada akhir 2018. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, peningkatan pertumbuhan berasal dari ketiga lapangan usaha utama Jawa Tengah, yaitu industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan. Sementara, inflasi tahunan Jawa Tengah pada keseluruhan tahun 2019 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan tahun lalu. Faktor utama yang diperkirakan mendorong peningkatan laju inflasi tahunan tersebut terutama berasal dari eksternal, antara lain ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dan rencana kebijakan fiskal Pemerintah pada komponen energi. Ke depan, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah senantiasa berkoordinasi dalam upaya pengendalian inflasi yang stabil dan terjaga.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel