​KEKR Provinsi Jawa Tengah Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

​Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan I 2018 mencatatkan pertumbuhan yang relatif stabil dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,41% (yoy), stabil dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya (5,40%; yoy), meskipun lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi triwulan I sejak tahun 2016. Ditinjau dari sisi pengeluaran, kinerja ekonomi Jawa Tengah di triwulan I 2018 didorong oleh konsumsi swasta yang tetap kuat, tercermin dari peningkatan pertumbuhan pada komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT). Sementara kinerja investasi, ekspor luar negeri, dan konsumsi pemerintah tetap tumbuh meskipun melambat dari triwulan sebelumnya. Sementara dari sisi lapangan usaha, tiga lapangan usaha utama di Jawa Tengah yaitu pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan mencatatkan peningkatan pertumbuhan, sehingga menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, perlambatan pertumbuhan yang cukup signifikan pada lapangan usaha konstruksi serta lapangan usaha informasi dan komunikasi, menjadi faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi pada periode laporan, sehingga secara umum kinerja perekonomian Jawa Tengah di triwulan I 2018 terpantau stabil.

Inflasi tahunan Provinsi Jawa Tengah pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 3,39% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan IV 2017 (3,71; yoy). Secara triwulanan, Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 1,24% (qtq), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2017 yang mencatatkan inflasi sebesar 0,95% (qtq). Berdasarkan disagregasi inflasi, peningkatan laju inflasi tahunan pada triwulan I 2018 terutama disebabkan oleh kelompok volatile food yang mengalami inflasi sebesar 4,73% (yoy). Inflasi pada kelompok volatile food didorong oleh terjadinya peningkatan berbagai harga bahan makan akibat penurunan pasokannya. Sementara itu, pada triwulan laporan kelompok administered prices tercatat mengalami penurunan inflasi tahunan maupun triwulanan. Inflasi tahunan kelompok administered prices terutama berasal dari kelompok transpor serta kelompok bahan bakar, penerangan, dan air. Dampak kenaikan tarif listrik pada awal tahun 2017 berangsur-angsur mereda hingga triwulan I 2018. Demikian pula penurunan inflasi juga berasal dari subkelompok transpor yang disebabkan oleh penurunan kembali normalnya berbagai tarif angkutan pasca lebaran serta meredanya dampak inflasi biaya perpanjangan STNK yang meningkat tinggi pada tahun 2017. Selanjutnya, kelompok inti juga menunjukkan penurunan laju inflasi pada triwulan berjalan. Penurunan inflasi inti utamanya disebabkan oleh faktor permintaan domestik yang menurun pada triwulan I 2018. Inflasi kelompok inti-traded menunjukan perlambatan pada triwulan ini dibandingkan triwulan IV 2017 lalu yang mengindikasikan fenomena penurunan permintaan impor barang dan jasa dari luar negeri.

Seiring dengan stabilnya kinerja perekonomian di Jawa Tengah, stabilitas sistem keuangan Jawa Tengah pada triwulan I 2018 cukup terjaga ditopang oleh kinerja RT dan perbankan yang cenderung stabil, walaupun korporasi berada di bawah tekanan. Pada triwulan laporan, walaupun profitabilitas korporasi tidak sekuat triwulan lalu, rasio solvabilitas dan likuiditas yang lebih baik menandakan ketahanan korporasi terhadap penurunan kinerja. Sementara, kinerja RT yang stabil tercermin dengan permintaan kredit RT yang tercatat masih meningkat pada periode laporan. Namun, tetap perlu diwaspadai penurunan repayment capacity yang tercermin pada meningkatnya rasio non performing loan (NPL). Secara keseluruhan, kinerja perbankan Jawa Tengah triwulan I 2018 mencatatkan perkembangan yang beragam. Dibandingkan triwulan IV 2017, indikator utama perbankan berupa pertumbuhan kredit dan penghimpunan dana mencatatkan pertumbuhan; meski perlu diperhatikan kualitas kredit yang menurun, sebagaimana tercermin oleh NPL yang lebih tinggi pada triwulan laporan. Dari sisi pengembangan akses keuangan dan UMKM, proporsi kredit UMKM terhadap total kredit perbankan Jawa Tengah telah memenuhi, bahkan melampaui ketentuan penyaluran kredit UMKM minimum 20% di tahun 2018. Lebih lanjut, selama 3 tahun terakhir, kualitas kredit UMKM relatif terjaga, di bawah threshold NPL sebesar 5%.

Perkembangan indikator sistem pembayaran tunai dan non tunai di Jawa Tengah pada triwulan I 2018 sejalan dengan kinerja perekonomian daerah yang relatif stabil secara triwulanan, meskipun secara tahunan masih melanjutkan tren kontraksi. Transaksi keuangan ritel yang diproses melalui SKNBI tumbuh terbatas dibandingkan triwulan sebelumnya, baik dari sisi volume maupun nominal, sejalan dengan rendahnya realisasi investasi dan konsumsi pemerintah pada periode pelaporan. Aliran uang dari BI ke perbankan mencatatkan posisi net inflow seiring dengan kembali masuknya aliran uang ke BI, pasca tingginya kebutuhan saat Natal di akhir tahun 2017.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel