Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II 2018 mencatatkan akselerasi pertumbuhan ekonomi yang tercatat sebesar 5,54% (yoy) atau lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan I 2018 yang tercatat sebesar 5,43% (yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, akselerasi pertumbuhan triwulan laporan terutama didorong oleh meningkatnya konsumsi swasta, khususnya konsumsi rumah tangga, serta investasi. Namun demikian, tingginya pertumbuhan impor luar negeri di tengah perbaikan ekspor yang relatif terbatas menjadi penahan laju perekonomian triwulan laporan untuk tumbuh lebih tinggi. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, meningkatnya pertumbuhan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran serta pertanian menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi, sedangkan lapangan usaha industri pengolahan tercatat tumbuh melambat dibandingkan triwulan I 2018.

Inflasi Jawa Tengah pada triwulan II 2018 tercatat sebesar 2,72% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 3.39% (yoy). Ditinjau kelompoknya, penurunan laju inflasi tahunan pada triwulan II 2018 dicatatkan oleh kelompok bahan makanan serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Sementara itu 5 (lima) kelompok lainnya mencatatkan peningkatan laju inflasi dibandingkan triwulan I 2018. Walaupun mengalami penurunan inflasi pada triwulan laporan, kelompok bahan makanan masih menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Provinsi Jawa Tengah. Andil inflasi kelompok bahan makanan terhadap inflasi tahunan Jawa Tengah adalah sebesar 0,74% pada triwulan II 2018. Selanjutnya, sejalan dengan laju inflasinya yang tertinggi dibandingkan kelompok lainnya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menjadi kontributor kedua terbesar terhadap inflasi Jawa Tengah sebesar 0,65% pada triwulan II 2018. Sementara itu, sesuai dengan pola historisnya kelompok sandang masih menjadi kontributor terendah bagi inflasi Provinsi Jawa Tengah, sejalan dengan bobotnya terhadap keseluruhan konsumsi masyarakat Jawa Tengah.

Seiring dengan menguatnya kinerja perekonomian di Jawa Tengah pada triwulan laporan, pertumbuhan kredit di Jawa Tengah juga tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan lalu, khususnya pada sektor perekonomian utama. Lebih lanjut, peningkatan UMR 2018 serta minimnya tekanan inflasi berdampak pada kemampuan konsumsi RT yang meningkat dan mempengaruhi kinerja korporasi dari sisi pertumbuhan penjualan. Konsumsi RT terindikasi ditopang oleh penyaluran THR, sehingga pertumbuhan kredit RT pada triwulan laporan belum setinggi triwulan lalu. Sementara dari sisi korporasi, tekanan biaya (utamanya terkait kenaikan UMR 2018 dan perkembangan nilai tukar) menahan rasio profitabilitas korporasi sehingga tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan lalu. Adapun, kinerja korporasi secara umum masih terpantau baik, mengingat rasio likuiditas dan solvabilitas masih dalam batas aman. Terkait upaya pengembangan dan akses keuangan, penyaluran kredit UMKM di Jawa Tengah konsisten menunjukkan akselerasi pertumbuhan. Pada triwulan laporan, pangsa kredit UMKM mencapai 40,41% dari total kredit, dengan kualitas kredit yang relatif terjaga.

Perkembangan indikator sistem pembayaran tunai dan non tunai di Jawa Tengah pada triwulan II 2018 mengkonfirmasi perbaikan kinerja perekonomian daerah yang relatif stabil secara triwulanan. Transaksi keuangan ritel yang diproses melalui SKNBI mengalami perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya, meskipun masih mencatat kontraksi. Sementara itu, pengelolaan uang rupiah tercatat mengalami net outflow sebesar Rp5,46 triliun seiring dengan peningkatan aliran uang dari BI ke perbankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat periode Idul Fitri 2018. Pada periode yang sama, posisi aliran uang kartal dari perbankan dan masyarakat ke Bank Indonesia (inflow) pada triwulan II 2018 juga meningkat 16,28% (qtq) menjadi sebesar Rp24,38 triliun.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah triwulan IV 2018 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Ditinjau dari sisi pengeluaran, percepatan pertumbuhan ini diperkirakan berasal dari kegiatan konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, dan ekspor luar negeri yang meningkat pada akhir tahun. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah periode tersebut diproyeksikan berada di kisaran 5,2%-5,6% (yoy). Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, peningkatan terjadi pada dua lapangan usaha utama Jawa Tengah, yaitu lapangan usaha industri pengolahan dan perdagangan, sedangkan lapangan usaha pertanian diprediksi tumbuh melambat seiring dengan perkiraan baru dimulainya musim tanam (MT) III 2018. Di sisi lain, inflasi tahunan Jawa Tengah pada triwulan IV 2018 diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Faktor utama yang diperkirakan mendorong peningkatan laju inflasi terutama berasal dari kelompok bahan makanan, kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar. Sesuai dengan pola historisnya, peningkatan konsumsi masyarakat akan mengalami peningkatan menjelang hari raya keagamaan dan libur akhir tahun.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel