Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Tengah Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

Pada triwulan IV 2018, perekonomian Jawa Tengah mencatatkan percepatan pertumbuhan menjadi sebesar 5,28% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (5,21%; yoy), dan di atas pertumbuhan ekonomi nasional (5,18%; yoy). Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih rendah dibandingkan Kawasan Jawa sebesar 5,82% (yoy). Ditinjau dari sisi pengeluaran, peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2018 berasal dari komponen konsumsi swasta, yang terdiri dari konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), serta konsumsi pemerintah. Sementara, kinerja investasi dan ekspor luar negeri tetap tumbuh meskipun mengalami perlambatan dari triwulan sebelumnya. Impor luar negeri Jawa Tengah masih tercatat tumbuh relatif signifikan, meskipun mulai melandai dibanding dua triwulan sebelumnya. Sebagai komponen pengurang PDRB, relatif tingginya pertumbuhan impor menahan perekonomian Jawa Tengah untuk tumbuh lebih tinggi. Ditinjau dari sisi lapangan usaha, meningkatnya pertumbuhan industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi. Lebih lanjut, tingginya pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan turut mendorong pertumbuhan pada triwulan laporan. Namun demikian, melambatnya pertumbuhan lapangan usaha pertanian dibanding triwulan sebelumnya menjadi faktor penahan laju pertumbuhan ekonomi.

Inflasi Provinsi Jawa Tengah pada triwulan IV 2018 tercatat 2,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan III 2018 (2,79%; yoy). Namun demikian, capaian inflasi secara keseluruhan tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017. Berdasarkan disagregasi kelompoknya, penurunan inflasi tahunan pada tahun 2018 terutama disebabkan oleh meredanya tekanan inflasi kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar, serta kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan yang didorong oleh kebijakan tarif biaya komoditas bahan bakar minyak. Peningkatan permintaan barang dan jasa oleh masyarakat juga meningkat pada hari raya dan periode liburan yang berlangsung pada akhir tahun 2018.

Di tengah kinerja perekonomian yang membaik, penyaluran kredit dan pertumbuhan DPK masih menunjukkan pertumbuhan, walaupun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Penyaluran kredit pada sektor RT menunjukkan peningkatan pertumbuhan. Kredit utamanya digunakan untuk membiayai multiguna, KPR, dan KKB, dengan NPL masing-masing terjaga, jauh di bawah batas aman. Meningkatnya permintaan jelang Natal dan Tahun Baru, serta relatif menguatnya nilai tukar Rupiah menjadi faktor yang mendorong kinerja penjualan, profitabilitas, serta repayment capacity korporasi pada triwulan laporan. Terkait upaya pengembangan dan akses keuangan, penyalurann kredit UMKM di Jawa Tengah konsisten tertinggi di nasional. Pangsa kredit UMKM mencapai 40,19% dari total kredit, dengan kualitas kredit yang relatif terjaga.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel