Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Perekonomian Provinsi Jambi tumbuh 4,66% (yoy) pada Triwulan I-2018, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 5,20% (yoy) dan lebih rendah dari pertumbuhan nasional 5,06% (yoy). Namun, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama selama dua tahun terakhir masing-masing sebesar 3,60% (yoy) pada Triwulan I-2016 dan 4,25% (yoy) pada Triwulan I-2017.

Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2018 terutama didorong oleh peningkatan sektor pertambangan dan penggalian sejalan dengan tren kenaikan harga komoditas global. Peningkatan harga minyak dunia didorong oleh menguatnya permintaan ditengah terbatasnya pasokan akibat pemangkasan produksi oleh negara eksportir. Sementara, kenaikan harga batu bara ditopang oleh kuatnya permintaan dari negara di kawasan Asia selama musim dingin. Sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor juga tercatat meningkat, didorong oleh naiknya pendapatan masyarakat sejalan dengan kenaikan harga komoditas unggulan daerah dan penyesuian Upah Minimum Provinsi.

Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan mencatat laju pertumbuhan yang positif meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan tersebut sejalan dengan masih rendahnya harga komoditas perkebunan di pasar internasional. Perlambatan tersebut berdampak pada kinerja sektor industri pengolahan di Provinsi Jambi yang didominasi oleh industri makanan berbasis kelapa sawit serta industri karet, barang dari karet dan plastik.

Pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2018 juga ditopang oleh peningkatan kinerja sektor konstruksi. Pengerjaan proyek fisik yang dilakukan oleh swasta pada kuartal pertama tahun 2018 memberikan kontribusi signifikan terhadap perbaikan kinerja sektor kontruksi. Lapangan usaha lain yang memberikan andil terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2018 adalah sektor informasi dan komunikasi disebabkan oleh naiknya belanja iklan menjelang pelaksanaan Pilkada serentak di 3 (tiga) Kabupaten/Kota.

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan ekspor menjadi pendorong ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018. Peningkatan tersebut didorong oleh kenaikan harga komoditas internasional dan penyesuaian Upah Minimum Provinsi. Sementara, pertumbuhan ekspor terutama disumbangkan oleh komoditas pertambangan sejalan dengan kenaikan harga minyak dan batu bara. Selain itu, meningkatnya konsumsi LNPRT dan PMTDB mampu menopang pertumbuhan Triwulan I-2018 ditengah kontraksi konsumsi pemerintah.

Penurunan kinerja konsumsi pemerintah tercermin pada realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi hingga Triwulan I-2018 yang hanya terealisasi sebesar 22,53% dari APBD 2018. Realisasi tersebut mengalami kontraksi sebesar 1,17% (yoy) dibandingkan Triwulan I-2017. Sejalan dengan realisasi pendapatan, realisasi belanja baik dari sisi nominal maupun serapan juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Triwulan I-2018, realisasi belanja Provinsi Jambi hanya terealisasi 4,63% dari APBD 2018.

Perkembangan ekonomi Provinsi Jambi yang tumbuh positif mendorong terciptanya lapangan pekerjaan baru, ditunjukkan oleh kenaikan jumlah penduduk yang bekerja dan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja pada Februari 2018.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, kredit korporasi pada Triwulan I-2018 tumbuh 6,19% (yoy), lebih baik dibandingkan Triwulan IV-2017 sebesar 0,86% (yoy). Selain itu, kredit sektor UMKM juga tumbuh 11,33% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 11% (yoy). Peningkatan tersebut mendorong kenaikan aset perbankan pada Triwulan I-2018 yang tercatat tumbuh 7,18% (yoy). Sementara, risiko kredit di Provinsi Jambi sedikit meningkat ditunjukkan oleh kenaikan rasio Non Performing Loan (NPL) dari 2,08% (gross) pada Triwulan IV-2017 menjadi 2,14% (gross) pada Triwulan I-2018. Namun demikian, rasio NPL tersebut masih di bawah threshold 5%.

Dari sisi penyelenggaraan sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah, transaksi kliring lokal pada Triwulan I-2018 secara nominal menurun 42,62% (yoy) dan secara lembar menurun 39,46% (yoy). Sementara, perkembangan aliran uang kartal pada Triwulan I-2018 menunjukkan net inflow setelah pada triwulan sebelumnya mengalami net outflow. Secara umum, net inflow terjadi karena pergerakan transaksi masuk sejalan dengan selesainya libur Natal 2017 dan Tahun Baru 2018.

Sementara, inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 tercatat 4,17% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 2,83% (yoy) dan terhadap inflasi nasional yang tercatat 3,40% (yoy). Inflasi Provinsi Jambi tersebut merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 4,28% (yoy) dan Kabupaten Bungo sebesar 3,15% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, inflasi tertinggi di Provinsi Jambi terjadi pada kelompok administered prices didorong oleh kenaikan harga bahan bahan non subsidi dan penyesuaian cukai rokok. Dorongan inflasi juga cukup tinggi pada komoditas volatile food. Sedangkan, inflasi kelompok inti (core inflation) relatif terjaga, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2018 diperkirakan meningkat dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi terutama akan bersumber dari peningkatan sektor pertambangan dan penggalian serta sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Tren kenaikan harga minyak mentah diperkirakan dapat menahan pelemahan harga komoditas pertanian yang lebih dalam, termasuk kelapa sawit dan karet. Sementara, beberapa agenda yang akan berlangsung pada kuartal ketiga 2018 diperkirakan mampu mendorong kenaikan permintaan barang dan jasa dari sisi domestik. Momen tahun ajaran baru baru serta persiapan Pemilu Legislatif dan Pilpres akan menjadi faktor pendorong utama terhadap perbaikan kinerja sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan didorong oleh perbaikan kinerja ekspor dan konsumsi rumah tangga. Kenaikan harga energi primer yang merupakan komoditas unggulan daerah akan berkontribusi positif terhadap aktivitas ekspor ke depan. Peningkatan ekspor diperkirakan mendukung penguatan daya beli masyarakat, yang akan berdampak pada perbaikan kinerja konsumsi rumah tangga.

Namun demikian, terdapat risiko yang dapat mengakibatkan realisasi pertumbuhan ekonomi lebih rendah dari perkiraan (downside risk), terkait dengan fluktuasi harga komoditas yang berpotensi mengalami koreksi dan proteksi dagang oleh negara importir utama CPO.

Perkembangan inflasi Triwulan III-2018 juga diperkirakan meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi terutama akan bersumber dari kelompok volatile food menyusul terjadinya pergeseran pola tanam pada beberapa komoditas pangan. Selain itu, kelompok administered price juga akan menjadi penyumbang utama inflasi disebabkan oleh penyesuaian harga bahan bakar non subsidi. Anomali cuaca dan lonjakan harga energi primer berisiko mendorong laju inflasi lebih tinggi dari perkiraan (upside risk). Curah hujan yang ekstrim berisiko mengganggu produktivitas tanaman serta menghambat proses distribusi ke kawasan perdagangan. Sementara, meningkatnya harga energi primer yang mendorong kenaikan harga bahan bakar non subsidi, dapat memberikan tekanan terhadap peningkatan harga barang/jasa lain (second round effect).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel