Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Jambi Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020
I.    EKONOMI MAKRO REGIONAL
Perekonomian Jambi pada Triwulan IV-2017 tumbuh sebesar 5,20% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,76% yoy), dan lebih tinggi dari pertumbuhan nasional Triwulan IV-2017 (5,19% yoy). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan IV-2017 didorong oleh perbaikan kinerja hampir seluruh sektor lapangan usaha, terutama konstruksi sejalan dengan meningkatnya realisasi proyek pemerintah dan swasta sesuai pola siklikal pada akhir tahun. Selain itu, perekonomian Jambi Triwulan IV-2017 juga ditopang oleh sektor pertambangan dan penggalian dipengaruhi oleh kenaikan produksi migas dan batu bara dibandingkan triwulan sebelumnya yang didukung tren peningkatan harga komoditas migas dan batu bara internasional.
 
Dari sisi pengeluaran, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan IV-2017 disebabkan meningkatnya ekspor barang dan jasa sebesar 10,34% (yoy), terutama ditopang oleh ekspor komoditas pertambangan sejalan dengan membaiknya harga komoditas dunia serta meningkatnya produksi batu bara dan migas. Selain itu, konsumsi rumah tangga dan pemerintah yang cukup baik pada triwulan laporan  dapat menopang perekonomian Jambi dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 4,21% (yoy) dan 2,33% (yoy).
 
Menurut andil terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan IV-2017, sektor pertambangan dan penggalian menyumbangkan andil tertinggi sebesar 1,82% diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan (1,50%), sektor konstruksi (0,66%) serta perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor (0,50%).
 
II. KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
 
Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan Triwulan IV-2017 mencapai Rp4,31 triliun (terealisasi 101,69% dari APBD-P 2017). Realisasi pendapatan Triwulan IV-2017 secara total mengalami kenaikan 26,82% dibandingkan total pendapatan Triwulan IV-2016 yang hanya sebesar Rp3,39 triliun. Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp1,58 triliun (36,781% dari total pendapatan), naik 28,14% (yoy) dibandingkan realisasi PAD Triwulan IV-2017 (Rp1,23 triliun).
 
Sejalan dengan meningkatnya realisasi pendapatan, realisasi belanja baik dari sisi nominal maupun serapan tercatat lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Secara nominal, belanja pemerintah mencapai Rp4,15 triliun atau terealisasi 93,51% dari target APBD-P tahun 2017, lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun 2016 sebesar Rp3,29 triliun atau terealisasi 91,21%. Nilai belanja tersebut  tumbuh 25,91% (yoy) didorong oleh realisasi belanja operasional yang tercatat sebesar Rp2,73 triliun (terserap 95,65% dari target).
 
III.   PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
 
Pada Triwulan IV-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 2,83% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (2,49% yoy), namun lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (3,61% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 2,68% (yoy) dan Kabupaten Bungo sebesar 4,25% (yoy).
Inflasi Provinsi Jambi terutama disebabkan oleh inflasi pada kelompok administered prices sebesar 5,71% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (4,56% yoy). Inflasi juga terjadi pada komoditas inti (core inflation) sebesar 2,90% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (3,38% yoy). Melanjuti deflasi di triwulan sebelumnya sebesar 1,83% (yoy), inflasi bahan pangan bergejolak (volatile foods) di triwulan laporan kembali deflasi sebesar 0,32% (yoy).
 
IV.   STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
 
(yoy), mengalami perbaikan setelah terkontraksi pada Triwulan III-2017 sebesar 6,85% (yoy). Sejalan dengan peningkatan kredit, kualitas kredit untuk debitur korporasi juga terpantau membaik, terlihat dari rasio NPL yang menurun dari 2,15% (gross) pada Triwulan III-2017 menjadi 1,25% (gross) pada triwulan laporan.
Sementara, kredit rumah tangga (RT) mencapai Rp16,84 triliun atau tumbuh sebesar 12,43% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,86% (yoy). Kredit UMKM juga tercatat tumbuh 11,00% (yoy) menjadi Rp12,12 triliun pada Triwulan IV-2017.
 
Aset perbankan pada Triwulan IV-2017 tercatat sebesar Rp42,66 triliun atau tumbuh 11,92% (yoy), melambat dibandingkan Triwulan III-2017 yang mencapai Rp43,14 triliun atau tumbuh 14,96%(yoy).
 
V.PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
 
Perkembangan aliran kas masuk di Provinsi Jambi pada Triwulan IV-2017 (cash inflow) menunjukkan peningkatan sebesar 32,48% (yoy) menjadi Rp893,54 miliar, disertai peningkatan aliran kas keluar (cash outflow) sebesar 1,63% (yoy) menjadi Rp2,60 triliun. Secara keseluruhan terjadi net outflow sebesar Rp1,71 triliun. Secara umum, net outflow disebabkan oleh naiknya permintaan uang tunai selama periode Natal dan liburan tahun baru.
 
Nilai lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan IV-2017 secara nominal tercatat sebesar Rp1,61 triliun atau menurun 38,11% (yoy) dan secara lembar menurun 33,66% (yoy) menjadi 44.101 lembar.
Dalam rangka peningkatan inklusi keuangan dan implementasi elektronifikasi, telah dilaksanakan penyaluran Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui e-warong yang diakuisisi menjadi agen Layanan Keuangan Digital (LKD) serta diselenggarakannya edukasi Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT).
 
VI.   KEMISKINAN DAN KESEJAHTERAAN
 
Pada September 2017, garis kemiskinan di Provinsi Jambi mengalami peningkatan 4,40% (yoy) dari Rp379.648 per kapita/bulan menjadi Rp396.361 per kapita/bulan. Namun kenaikan tersebut tidak memberikan tekanan terhadap profil kemiskinan Provinsi Jambi, ditunjukkan oleh penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 4,20% (yoy) dan persentase penduduk miskin menjadi 7,90%.
 
Sementara, Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan IV-2017 mengalami peningkatan menjadi 102,64 dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 99,88. Hal tersebut disebabkan oleh kenaikan indeks yang diterima petani (3,84% qtq) relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks yang harus dibayar petani (1,05% qtq).
 
VII. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
 
Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 diperkirakan berada pada kisaran 4,47-4,87% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Triwulan IV-2017 sebesar 5,20% (yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 secara keseluruhan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,63% - 5,03% (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2017 sebesar 4,64% (yoy).
 
Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I-2018 diperkirakan terjadi pada sektor utama yaitu sektor pertambangan dan penggalian, diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta sektor industri pengolahan. Perbaikan kinerja sektor-sektor tersebut didorong oleh optimisme pemulihan perekonomian global yang lebih cepat dari perkiraan sehingga berpotensi meningkatkan permintaan bahan mentah dari negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok dan Jepang. Dari sisi domestik, kebijakan pemerintah terkait pembatasan produksi batu bara dan pemangkasan ekspor komoditas karet diperkirakan akan mempengaruhi ketersediaan pasukan global.
 
Risiko yang bersifat downside risk terhadap pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan proteksi atau larangan ekspor karet dan CPO oleh negara importir utama serta kebijakan pengurangan impor batu bara oleh Tiongkok. Selain itu, fluktuasi harga komoditas yang cenderung tidak stabil dan berpotensi mengalami koreksi, juga akan berdampak pada kinerja ekspor Provinsi Jambi. Di sisi lain, lonjakan harga energi primer yang terlalu tinggi berpotensi mendorong inflasi sehingga mengurangi daya beli masyarakat.
 
Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 diperkirakan berada pada kisaran 4,32 - 4,72% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi Triwulan IV-2017 sebesar 2,83% (yoy). Inflasi pada Triwulan I-2018 diperkirakan akan terjadi pada kelompok administered price akibat kenaikan harga rokok setelah penetapan tarif cukai rokok yang meningkat 10,04% pada Januari 2018, serta potensi penyesuaian harga bahan bakar non subsidi dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, musim panen yang mulai berlangsung pada Triwulan I-2018 diperkirakan dapat menahan laju inflasi kelompok volatile food.
 
Ke depan, beberapa potensi risiko yang dapatmenyebabkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan (upside risk) antara lain faktor anomali cuaca yang menggangu produksi hasil pertanian dan menghambat proses distribusi dari daeral penghasil, serta perubahan skema subsidi LPG 3 kg mulai Maret 2018 yang berpotensi mendorong naiknya permintaan bahan bakar rumah tangga.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel