Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
13 Agustus 2020

​I. EKONOMI MAKRO REGIONAL
Perekonomian Jambi pada Triwulan I-2017 tumbuh sebesar 4,27% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya (6,35% yoy) dan pertumbuhan ekonomi nasional Triwulan I-2017 (5,01% yoy).
Menurunnya pertumbuhan ekonomi provinsi Jambi pada Triwulan I-2017 diakibatkan menurunnya kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan seiring menurunnya produksi kelapa sawit yang memasuki masa istirahat produksi. Selain itu, perlambatan juga terjadi pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Reparasi Sepeda Motor akibat sedikit tertekannnya daya beli masyarakat akibat melambatnya sector pertanian, kehutanan dan perikanan serta meningkatnya tarif tenaga listrik untuk pelanggan 900VA yang dilakukan bertahap pada Januari, Maret dan Mei 2017. Selain kedua sektor tersebut, sektor pertambangan dan penggalian juga berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi Jambi di Triwulan I-2017, akibat beberapa sumur migas baru mulai beroperasi.
Dari sisi pengeluaran, melambatnya pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan I-2016 disebabkan terkontraksinya investasi sektor swasta akibat menurunnya inventori secara signifikan dari -5,22% (yoy) pada Triwulan IV-2016 menjadi -154,54% (yoy) pada Triwulan I-2017. Selain itu, perlambatan pada Triwulan I 2017 juga didorong oleh terkontraksinya pengeluaran pemerintah sebesar 2,27% (yoy) serta terbatasnya pertumbuhan konsumsi masyarakat yang tumbuh sebesar 4,33% (yoy).
Menurut andil terhadap pertumbuhan, Menurut andil terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan I-2017, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbangkan andil tertinggi pada pertumbuhan ekonomi sebesar 2,29% diikuti oleh sektor industri pengolahan sebesar 0,39% dan sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan reparasi sepeda motor sebesar 0,34%.
Pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,57% - 5,07% (yoy) sedikit lebih baik dibandingkan Triwulan I-2017. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih bersumber dari pertumbuhan sektor utama provinsi Jambi yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor serta sektor industri pengolahan. Pertumbuhan pada sektor utama tersebut sebagai dampak positif dari masih terjaganya harga komoditas perkebunan di level yang menguntungkan (kelapa sawit dan karet) serta meningkatnya ekspektasi konsumen menghadapi hari besar keagamaan. Sektor lain yang diperkirakan tumbuh dan menyumbangkan andil bagi pertumbuhan ekonomi Jambi adalah sektor pertambangan dan penggalian, Transportasi dan Pergudangan serta Informasi dan Komunikasi.
Selain itu, pertumbuhan konsumsi masyarakat juga diperkirakan akan lebih tinggi menghadapi peningkatan konsumsi menjelang momen Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh di Triwulan II-2017.


II. KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan Triwulan I-2017 mencapai Rp961,4 miliar (terealisasi sebesar 23,1% dari APBD-P 2017). Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp282,6 triliun (29,4% dari total pendapatan), naik 8,3% dibandingkan realisasi PAD Triwulan I-2016 (Rp261,6 miliar atau 28,7% dari total pendapatan).
Pendapatan terbesar disumbangkan oleh pajak daerah yang mencapai Rp238,7 miliar (24,8% dari total pendapatan dan 84,4% dari total PAD), naik 16,8% dibandingkan periode yang sama tahun 2016.
Realisasi belanja mengalami penurunan sebesar 49,0% dibanding triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, atau baru mencapai 5,6% dari APBD 2017 (Rp4,34 triliun). Berdasarkan jenisnya, realisasi belanja operasional masih menjadi yang terbesar, yaitu sebesar Rp243,9 miliar atau 99,7% dari total belanja Triwulan I-2017 (terealisasi sebesar 8,8% dari target APBD 2017) (Tabel 4.2). Komponen belanja operasional terbesar adalah untuk belanja pegawai yang mencapai Rp212,3 miliar (87,0% dari belanja operasional) dan diikuti oleh belanja barang Rp31,7 miliar (13,0% dari belanja operasional). Kedua jenis komponen belanja tersebut merupakan belanja rutin.
Sementara realisasi belanja modal hingga Triwulan I-2017 sebesar 0,08% dari APBD 2017, mengindikasikan keterlambatan pembangunan jalan, irigasi, dan jaringan dibandingkan tahun lalu dan merupakan indikasi semakin lemahnya komitmen Pemerintah Provinsi Jambi dalam mendorong percepatan pembangunan infrastruktur.


III. PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Pada Triwulan I-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 2,85% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (4,39% yoy) dan inflasi nasional (3,61% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 2,72% (yoy) dan inflasi Kabupaten Bungo sebesar 4,00% (yoy).
Penurunan tingkat inflasi di Kota Jambi utamanya disebabkan oleh inflasi pada kelompok bahan pangan bergejolak (volatile foods)  sebesar 0,16% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya (6,63% yoy). Sementara itu, inflasi yang terjadi pada kelompok inti (core inflation) sebesar 4,28% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (4,62% yoy. Sementara inflasi administered price tercatat mengalamisedikit kenaikan yaitu sebesar 2,40% (yoy) pada triwulan laporan.
Berdasarkan kelompoknya, rendahnya inflasi Kota Jambi utamanya disebabkan oleh deflasi yang terjadi pada kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,42% (yoy) dengan kontribusi deflasi sebesar 0,27%, dari sebelumnya mengalami deflasi 0,37% (yoy) pada Triwulan IV-2016, serta secara triwulanan mengalami deflasi sebesar 3,04% (qtq). Penurunan inflasi kelompok tersebut dipicu oleh deflasi sub kelompok transpor sebesar 3,64% (yoy) dan secara triwulanan mengalami deflasi sebesar 5,11% (qtq).
Sementara itu, Inflasi tahunan Bungo pada Triwulan I-2017 tercatat 4,00% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (3,11% yoy), untuk inflasi triwulanan Bungo pada Triwulan I-2017 tercatat 1,51% (qtq), lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulanan pada triwulan sebelumnya (1,08% qtq).
Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,92% - 5,42% (yoy), melewati batas atas target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1%. Kenaikan inflasi pada Triwulan II-2017 utamanya disebabkan dampak lanjutan kenaikan tarif tenaga listrik untuk pelanggan 900 VA, kenaikan beberapa produk kebutuhan keluarga (consumer goods) dan kenaikan harga beberapa bahan pangan seperti bawang merah dan cabai merah. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,89% - 5,39% (yoy) sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 4,94% - 5,44%(yoy).


IV. STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Stabilitas keuangan daerah Provinsi Jambi tetap terjaga baik dari sisi korporasi dan rumah tangga di tengah perlambatan perekonomian Jambi. Dari sisi korporasi terindikasi dari pertumbuhan positif dunia usaha melalui  nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) sebesar 21,60%  lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya 17,04% . Namun pertumbuhan positif tersebut tidak serta mempengaruhi kebijakan dunia usaha dalam peningkatan pembiayaan bank yang didorong sikap “wait and see”  perkembangan harga komoditas kelapa sawit dan karet. Penyaluran kredit korporasi pada triwulan laporan masih menurun 9,69%(yoy), atau semakin menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 4,49%(yoy). Penurunan tersebut didominasi penurunan kredit terhadap sektor pertanian dan industri pengolahan. NPL korporasi masih berada dalam posisi terjaga  meskipun meningkat dari 2,70% menjadi 3,20% pada triwulan laporan.
DPK dan kredit kepada sektor rumah tangga mengalami peningkatan. DPK rumah tangga pada Triwulan I 2017 tumbuh sebesar 16,13% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (11,82% (yoy). Kenaikan tersebut juga terkonfirmasi dari NPT Provinsi Jambi posisi Maret 2017 yang berada diatas 100 (100,99) dan rumah tangga memandang optimis perekonomian terlihat dari rata-rata nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 94,1 pada triwulan IV-2016 menjadi 99,2 pada triwulan laporan dan optimis akan perekonomian kedepan yang tercermin dari rata-rata Indeks Ekspetasi Konsumen (IEK) dari 108,3 pada triwulan IV-2016 menjadi 116,3.Kredit sektor rumah tangga (RT) tumbuh sebesar 9,51% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (7,82% (yoy)) yang didorong peningkatan kredit multiguna. Rasio NPL kredit sektor rumah tangga stabil dengan kencendrungan mengalami penurunan dari 1,62% menjadi 1,65% pada triwulan laporan dan berada dalam posisi terjaga.
Kredit UMKM Jambi pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp10,9 triliun, mengalami peningkatan dengan tumbuh 2,6% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,3% (yoy) dan pangsa kredit UMKM terhadap total kredit di Jambi mengalami peningkatan yaitu dari 35,62% di triwulan lalu menjadi 36,06% pada triwulan berjalan.
Aset bank umum  Provinsi Jambi pada triwulan berjalan mengalami  peningkatan yang didorong pertumbuhan DPK dan kredit.  Aset bank umum pada triwulan I 2017 mengalami pertumbuhan sebesar  7,69%(yoy) menjadi Rp40,5 triliun, meningkat dibandingkan triwulan IV-2016 (6,76%(yoy)). Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum sebesar Rp28,3 triliun meningkat sebesar 18,58% (yoy) dan kredit tumbuh sebesar 15,11% (yoy) menjadi Rp30,5 triliun sehingga Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan berdasarkan bank pelapor mengalami penurunan sebesar  913 bps menjadi sebesar 107,91%. Kualitas kredit masih terjaga yang tercermin dari rasio NPL di bawah 5% (2,93%) atau memburuk dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di posisi 2,62%.


V. PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada triwulan laporan, untuk aliran kas masuk (cash inflow) menunjukkan penurunan 14,4% (yoy) sedangkan kas keluar (out inflow) meningkat 27,3% (yoy). Uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia pada triwulan laporan sebesar Rp1,5 triliun lebih tinggi dibanding posisi yang sama tahun sebelumnya Rp1,16 triliun.
Nilai lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan laporan tercata sebesar Rp2,47 triliun atau meningkat 8,0%, sementara secara volume menurun menjadi 64.295 lembar atau sebesar 7,6% (yoy) dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya.
Terjadi peningkatan layanan keuangan digital (LKD) yang dikelola oleh 2 bank umum yaitu PT Bank Mandiri (Persero), Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk dimana jumlah LKD sampai dengan Maret 2017 adalah 2.525 LKD atau meningkat dibandingkan posisi Desember 2016 sebanyak 2.199 agen LKD.
Frekuensi layanan kas keliling dan kas dalam kantor pada Triwulan I-2017 sebanyak 25 (dua puluh lima) kali, menurun dibandingkan triwulan lalu yang sebanyak 48 (empat puluh delapan) kali. Sementara untuk pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) di Provinsi Jambi sebesar Rp332,3 miliar, atau 28,6% dari total inflow Provinsi Jambi, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (28,1%). Uang rupiah tidak asli yang ditemukan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada triwulan laporan mencapai 408 lembar, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (279 lembar).


VI. KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN
Pada Februari 2017, jumlah angkatan kerja di Provinsi Jambi mengalami peningkatan sebesar 96,1 ribu orang menjadi 1,79 juta orang dibandingkan Februari 2016 (1,70 juta orang).
Mulai membaiknya pertumbuhan perekonomian Jambi berimbas terhadap peningkatan jumlah penduduk yang bekerja yaitu dari 1,62 juta orang di Februari 2016 menjadi 1,73 juta orang di Februari 2017. Sejalan dengan hal tersebut jumlah pengangguran juga mengalami penurunan dari 79 ribu orang pada Februari 2016 menjadi 65,7 ribu orang pada Februari 2017, sehingga tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,67% dari sebelumnya 4,66% pada Februari 2016.
Sementara Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan laporan mengalami penurunan jika dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu menjadi 100,99 dari 101,09 pada triwulan lalu yang disebabkan relatif kecilnya indeks yang diterima petani (0,55%) dibandingkan indeks yang dibayar petani (0,65%), hal tersebut mengakibatkan menurunnya daya beli petani.
Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2017, NTP sebesar 100,99 atau menurun 0,09 bps dibandingkan Desember 2016 sebesar 101,45%. Penurunan NTP di bulan Maret 2017 dibandingkan Desember 2016 didorong oleh menurunnya hampir seluruh sub kelompok NTP, diantaranya adalah NTP petani tanaman pangan, petani hortikultura, peternakan dan perikanan. Sementara hanya NTP petani perkebunan rakyat yang mengalami kenaikan.
Sementara itu, Pada triwulan laporan, penyaluran rastra mencapai sebesar  2.069 ton, relatif jauh menurun bila dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (9.328 ton atau 77,8% (yoy). Menurunnya penyaluran rastra selama triwulan I-2017 disebabkan karena adanya perubahan data Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Rastra di tahun 2017. BULOG masih melakukan beberapa sosialiasi dan validasi terhadap data Keluarga Penerima Manfaat Rastra.


VII. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,57% - 5,07%(yoy), lebih tinggi  dibandingkan realisasi Triwulan I-2017 sebesar 4,27%(yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,90% - 5,40%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 (4,37%, yoy).
Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara keseluruhan masih disumbangkan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah serta ekspor yang bersumber dari meningkatnya kinerja sektor perkebunan dan industri pengolahan. Investasi juga diperkirakan tumbuh meskipun sedikit di bawah pertumbuhan tahun 2016.
Sementara itu, Pertumbuhan pada sektor utama tersebut sebagai dampak positif dari masih terjaganya harga komoditas perkebunan di level yang menguntungkan (kelapa sawit dan karet), ketersediaan bahan baku serta meningkatnya ekspektasi konsumen menghadapi hari besar keagamaan. Sektor lain yang diperkirakan tumbuh dan menyumbangkan andil bagi pertumbuhan ekonomi Jambi adalah sektor pertambangan dan penggalian, Transportasi dan Pergudangan serta Informasi dan Komunikasi. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan ekspor diperkirakan masih akan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Jambi Triwulan II-2017.
Potensi risiko baik yang bersifat downside risk terhadap pertumbuhan ekonomi seperti potensi kenaikan suku bunga sebagai dampak kebijakan The Fed dan dampak langsung maupun tidak langsung kebijakan ekonomi dan politik Amerika Serikat yang berdampak pada ekspor dan iklim investasi di Provinsi Jambi. Disamping itu terdapat risiko yang bersifat upside risk yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan proyeksi seperti kenaikan harga minyak yang dapat mendorong harga komoditas serta peningkatan kebutuhan global atas komoditas unggulan Jambi
Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,92% - 5,42% (yoy), melewati batas atas target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1%. Kenaikan inflasi pada Triwulan II-2017 utamanya disebabkan dampak lanjutan kenaikan tarif tenaga listrik untuk pelanggan 900 VA, kenaikan beberapa produk kebutuhan keluarga (consumer goods) dan kenaikan harga beberapa bahan pangan seperti bawang merah dan cabai merah. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan II-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,89% - 5,39% (yoy) sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 4,94% - 5,44%(yoy).
Inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 4,16% - 4,66%(yoy), meningkat dibandingkan realisasi inflasi tahun 2016 (4,39%). Inflasi Kota Jambi diperkirakan berada pada kisaran 3,98%-4,48%(yoy) dan inflasi Bungo berkisar pada 4,33%-4,83%(yoy). Meningkatnya inflasi tahun 2017 utamanya didorong kenaikan harga beberapa komoditas administered price seperti tarif listrik, BBM, rokok dan tarif angkutan udara, kenaikan harga komoditas inti seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga (consumer goods) dan biaya pendidikan akibat membaiknya daya beli masyarakat serta kenaikan harga komoditas bahan pangan seperti bawang merah.
Ke depan, beberapa potensi risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan (upside risk) antara lain kenaikan harga BBM, kenaikan tarif listrik untuk pelanggan non subsidi dan anomali cuaca. Namun demikian, rendahnya pengeluaran pemerintah diperkirakan berpotensi menahan laju inflasi (downside risk).
Menyikapi kondisi ekonomi dan inflasi terkini, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah adalah:
Akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah:
1. Percepatan pembangunan ekonomi daerah dalam jangka pendek melalui:
a. Percepatan proses lelang jabatan agar pimpinan SKPD dapat langsung diisi dan dapat melaksanakan program-program kerjanya.
b. Pembuatan payung hukum untuk menjamin pelaksanaan program-program pemerintah daerah berjalan dengan efektif selama periode reorganisasi belum selesai serta masa transisi perubahan pejabat di tiap SKPD.
c. Percepatan realisasi APBD terutama anggaran belanja modal pemerintah untuk pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, saluran irigasi dan pelabuhan) dalam rangka mendorong konektivitas dan perdagangan antar daerah.
d. Intervensi pemerintah untuk mendorong kinerja perkebunan karet melalui penciptaan pasar domestik, perluasan pasar ekspor, peraturan pemanfaatan karet lokal untuk industri dan restrukturisasi kredit/pembiayaan di sektor perkebunan karet.
e. Perumusan mapping potensi perekonomian desa dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan dana transfer pemerintah pusat (dana desa) dan dana bantuan pemerintah provinsi dengan mempertimbangkan:
1. Potensi komoditas unggulan desa seperti pemanfaatan sit angin (unsmoked sheet) dalam pengolahan hasil karet.
2. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat desa dan kota terdekat seperti bantuan budidaya sayuran, bumbu-bumbuan, ternak ayam dan telur, kolam perikanan dll.
3. Pemerintah Daerah sebaiknya mulai menyusun petunjuk teknis dan pelaksanaan (guidance) manajemen proyek untuk disosialisasikan kepada desa dalam rangka pemanfaatan dan pertanggungjawaban dana transfer ke desa.
f. Mendorong investasi dan penciptaan aktivitas ekonomi baru melalui:
1. Meminimalisir hambatan investasi (peraturan/perizinan, pajak/retribusi, infrastruktur).
2. Insentif bagi investor dan pelaku usaha/wirausaha baru seperti relaksasi pajak/retribusi, penyediaan tata ruang, bantuan permodalan, bantuan promosi, penyediaan SDM yang unggul melalui kerjasama dengan SMK dan perguruan tinggi.
3. Insentif khusus bagi calon investor yang membangun industri hilir penunjang komoditas unggulan di Jambi.
g. Meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk pertanian, perkebunan dan kehutanan melalui.
1) Program revitalisasi/replanting tanaman kelapa sawit dan karet rakyat;
2) Program edukasi kepada petani dalam rangka pemanfaatan tanaman dan lahan serta penggunaan teknologi tepat guna;
3) Membangun jaringan kelembagaan petani dengan industri pengolahan untuk mengurangi rantai perdagangan yang tidak sehat;
4) Sosialisasi dan penguatan kelembagaan pasar komoditas (pasar lelang spot dan forward untuk tanaman perkebunan dan pasar agribisnis untuk tanaman hortikultura)
5) Membangun pusat informasi harga karet dan komoditas utama lainnya yang mudah diakses sampai ke level petani.
6) Mengembangkan industri karet yang terintegrasi meliputi industri inti, penunjang, dan industri terkait lainnya dengan memberikan kemudahan izin, pembiayaan, dan pengembangan;
Menyikapi pengendalian Inflasi
Pemerintah perlu memperhatikan proyeksi kenaikan inflasi selama triwulan mendatang serta potensi risiko yang perlu diwaspadai dengan:
1. Pengamanan stok bahan pokok melalui sidak dan pemantauan rutin serta mendorong pelaku usaha untuk bekerjasama dengan daerah pemasok kebutuhan.
2. Pengamanan produksi di sektor hulu mengantisipasi potensi La Nina.
3. Penguatan TPID sebagai forum untuk mematangkan konsep dan koordinasi pelaksanaan program kerja pengendalian inflasi antar SKPD.
4. Pengembangan database TPID mencakup kondisi surplus defisit komoditas pangan daerah, pengawasan arus keluar masuk barang, perkembangan stok dan pemantauan harga.
5. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait program kerja TPID dan himbauan-himbauan menyangkut pengendalian inflasi di Jambi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel