​​Laporan Perekonomian Provinsi DKI Jakarta Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
14 Juli 2020

Mengawali tahun 2019, perekonomian DKI Jakarta tetap tumbuh tinggi. Realisasi pertumbuhan ekonomi yang mencapai 6,23% mengindikasikan tetap terjaganya momentum pertumbuhan ekonomi ibu kota. Capaian pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan periode yang sama pada tiga tahun sebelumnya, maupun terhadap pertumbuhan nasional. Terjaganya momentum pertumbuhan ekonomi tersebut juga didukung oleh inflasi yang tetap stabil di level rendah, yakni 3,01%.

Implementasi bauran kebijakan Bank Indonesia terus didorong untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi secara nasional, dan dengan tetap mengutamakan kestabilan ekonomi makro dan sistem keuangan. Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian terkini serta prospek dan risiko ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 15-16 Mei 2019 memutuskan untuk mempertahankan BI

7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya menjaga stabilitas eksternal perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Bank Indonesia akan terus mencermati kondisi pasar keuangan global dan stabilitas eksternal perekonomian Indonesia dalam mempertimbangkan terbukanya ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya inflasi dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.

Tetap tingginya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019 terutama disumbang oleh konsumsi dan ekspor antardaerah, di tengah penurunan ekspor luar negeri. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) mengalami kenaikan, didukung terjaganya inflasi, aktivitas terkait Pemilu serta kenaikan belanja subsidi dan Bantuan Sosial dari Pemerintah. Aktivitas

Pemilu juga menyebabkan ekspor neto antardaerah tumbuh cukup tinggi. Pertumbuhan komponen-komponen tersebut menopang pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta, di tengah perlambatan konsumsi pemerintah dan investasi, serta penurunan ekspor luar negeri. Konsumsi pemerintah tumbuh sedikit melambat, seiring dengan perlambatan pertumbuhan belanja pegawai. Investasi mengalami perlambatan pertumbuhan, seiring selesainya beberapa proyek pemerintah. Sementara itu ekspor luar negeri mengalami kontraksi seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang. Sejalan dengan turunnya ekspor dan melambatnya pertumbuhan investasi, LU industri pengolahan mengalami kontraksi. Kondisi tersebut tercermin dari turunnya produksi kendaraan bermotor, yang berdampak pada turunnya penjualan dan tercermin pada perlambatan pertumbuhan LU perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Sejalan dengan investasi yang melambat, LU konstruksi juga tumbuh lebih rendah. Meskipun demikian, di tengah perlambatan LU utama, beberapa LU mampu mencapai kinerja yang baik, sehingga memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2019, antara lain LU informasi dan komunikasi, LU jasa perusahaan, dan LU jasa keuangan dan asuransi.

Dari sisi stabilitas harga, inflasi DKI Jakarta pada triwulan I 2019 tetap terkendali. Pencapaian ini sejalan dengan sasaran inflasi nasional tahun 2019 yang ditetapkan sebesar 3,5% ± 1%. Terkendalinya inflasi ibukota terutama disumbangkan oleh harga bahan makanan yang stabil serta minimalnya perubahan harga barang yang dikendalikan pemerintah. Kedua faktor tersebut mampu meredam gejolak harga perumahan di DKI Jakarta yang sedang dalam tren meningkat.

Kinerja ekonomi Provinsi DKI Jakarta yang tetap kuat berdampak positif bagi penciptaan lapangan pekerjaan di Jakarta. Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang kuat di sekitar 6% dapat menyerap tambahan angkatan kerja dan bahkan mengurangi tingkat pengangguran. Namun demikian, kenaikan penyerapan tenaga kerja cenderung terjadi di sektor informal, sementara penyerapan tenaga kerja formal menunjukkan penurunan. Kinerja yang positif dari pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan turut mendorong perbaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jakarta. Perbaikan kinerja IPM terutama berasal dari aspek ekonomi, yaitu daya beli melalui peningkatan pengeluaran perkapita.

Momentum pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga didukung oleh kondisi stabilitas keuangan yang terjaga pada tingkat yang aman. Hal tersebut tercermin dari aset perbankan yang tumbuh membaik pada triwulan I 2019 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, demikian pula dengan pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga. Dari sisi risiko kredit, Non-Performing Loan (NPL) perbankan stabil dan masih dalam batas aman dengan rasio di bawah 5%. Kinerja korporasi secara keseluruhan masih terjaga, yang tercermin dari meningkatnya produktivitas dan solvabilitas, di tengah profitabilitas dan likuiditas yang sedikit turun. Ketahanan sektor rumah tangga tetap terjaga seiring dengan kuatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Namun, pertumbuhan kredit melambat dari triwulan sebelumnya disebabkan turunnya permintaan kredit modal kerja dan investasi. Pertumbuhan kredit lebih banyak didorong dari kredit konsumsi seperti perumahan, kendaraan bermotor dan multiguna, dengan rasio NPL masih terjaga di dalam batas aman.

Seiring perlambatan ekonomi pada triwulan I 2019, aktivitas transaksi keuangan masyarakat DKI Jakarta, baik secara tunai maupun nontunai juga mengalami penurunan. Penurunan transaksi tunai terlihat dari jumlah penarikan (outflow) yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, secara nontunai, penurunan transaksi terjadi baik pada sistem kliring nasional (SKN-BI) maupun sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS). Di sisi lain, penemuan uang palsu di wilayah DKI Jakarta sepanjang triwulan I 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek dan tantangan ekonomi global dan nasional, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2019 diprakirakan relatif stabil dibandingkan dengan tahun 2018. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada pada kisaran 6,0%-6,4% dengan digerakkan oleh konsumsi dan ekspor neto antardaerah, di tengah perlambatan investasi (PMTB) dan ekspor luar negeri. Pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) dan anggota legislatif (Pileg) tahun 2019 diprakirakan dapat memberikan dorongan tambahan terhadap pertumbuhan konsumsi, baik konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah maupun konsumsi LNPRT. Hal ini juga berdampak pada meningkatnya kinerja net ekspor antar daerah, khususnya ekspor jasa antar daerah yang terkait dengan aktivitas pilpres dan pileg tersebut. Sementara itu, pertumbuhan investasi (PMTB) masih akan digerakkan oleh pembangunan berbagai infrastruktur, meskipun tidak sekuat tahun sebelumnya, karena lebih sedikitnya aktivitas konstruksi yang dilakukan. Kinerja ekspor diprakirakan melambat, namun ekspor kendaraan bermotor diprakirakan masih akan terjaga karena adanya kemudahan ekspor dari pemerintah. Meskipun diprakirakan masih tumbuh stabil, pertumbuhan ekonomi Jakarta pada tahun 2019 masih dibayangi risiko, khususnya yang bersumber dari dinamika ekonomi global.

Terjaganya momentum pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga didukung oleh inflasi yang diprakirakan tetap stabil di level rendah. Terkendalinya inflasi DKI Jakarta didukung oleh pergerakan nilai tukar yang menguat dan ekspektasi inflasi masyarakat yang terjaga di tengah konsumsi rumah tangga yang kuat. Dari sisi pangan, Pemerintah akan terus menjaga kesinambungan pasokan pangan DKI Jakarta. Dilihat dari potensi risiko ke depan, risiko paling besar berasal dari faktor eksternal, seperti rebound harga minyak internasional dan emas internasional. Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta BUMD pangan dan Bulog melalui TPID akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi sehingga inflasi DKI Jakarta diprakirakan lebih rendah dari tahun 2018, dalam kisaran 3,0%-4,0% (yoy), dan menunjang pencapaian sasaran inflasi nasional.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel