<span style="line-height:107%;font-family:"calibri","sans-serif";font-size:11pt">Laporan Perekonomian Provinsi DKI Jakarta Agustus 2019</span> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian terkini serta prospek dan risiko ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Agustus 2019 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi sebesar 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Kebijakan tersebut konsisten dengan rendahnya prakiraan inflasi yang berada di bawah titik tengah sasaran, tetap menariknya imbal hasil investasi aset keuangan domestik sehingga mendukung stabilitas eksternal, serta sebagai langkah pre-emptive untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi ke depan dari dampak perlambatan ekonomi global. Bank Indonesia akan melanjutkan bauran kebijakan yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi, terjaganya stabilitas eksternal, dan perlunya terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi.

Memasuki pertengahan tahun 2019, perekonomian DKI Jakarta mengalami perlambatan. Realisasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan II 2019 sebesar 5,71% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan capaian triwulan sebelumnya sebesar 6,25% (yoy). Namun, realisasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,05% (yoy).

Melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 disebabkan turunnya kinerja investasi dan ekspor. Turunnya pertumbuhan investasi ibukota sejalan dengan turunnya aktivitas pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta maupun aktivitas di sektor industri. Melemahnya kinerja ekspor luar negeri dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi dunia. Sementara itu, konsumsi tumbuh meningkat, baik pada konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, maupun konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT), sehingga dapat menahan perlambatan ekonomi lebih lanjut. Meningkatnya konsumsi tersebut tidak lepas dari pengaruh datangnya momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, serta penyelenggaraan pesta demokrasi. Dari sisi lapangan usaha (LU), menguatnya konsumsi berdampak pada akselerasi pertumbuhan LU Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, yang juga sejalan dengan tingginya kebutuhan masyarakat pada momen hari besar keagamaan nasional. Melemahnya investasi dan berkurangnya kegiatan pembangunan konstruksi infrstruktur di DKI Jakarta menyebabkan LU Konstruksi dan LU Industri Pengolahan mengalami kontraksi pertumbuhan. Meskipun demikian, di tengah melambatnya beberapa lapangan usaha utama, sektor lainnya mampu mencapai kinerja yang baik, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019. Beberapa lapangan usaha tersebut antara lain Jasa Perusahaan yang tumbuh terakselerasi, dipengaruhi oleh penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan presiden. LU Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial juga mampu tumbuh tinggi, sejalan dengan akselerasi pertumbuhan konsumsi pemerintah.

Dari sisi stabilitas harga, memasuki pertengahan tahun 2019, infasi DKI Jakarta mengalami peningkatan. Tekanan inflasi yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan datangnya momen hari besar keagamaan nasional, antara lain puasa dan Idul Fitri, yang mendorong peningkatan konsumsi masyarakat, sebagaimana tercermin pada naiknya inflasi kelompok pengeluaran Bahan Makanan, kelompok Makanan Jadi, dan kelompok Sandang pada triwulan II 2019. Meskipun demikian, perkembangan realisasi inflasi DKI Jakarta hingga triwulan II 2019 masih mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2019 yang ditetapkan sebesar 3,5% ± 1%.

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang masih relatif kuat berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat ibukota. Hal tersebut tercermin dari turunnya tingkat kemiskinan di DKI Jakarta, yang juga sejalan dengan tren penurunan tingkat kemiskinan nasional. Penurunan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta terjadi seiring dengan kenaikan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja. Dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta semakin besar terhadap kesejahteraan masyarakatnya, antara lain melalui berbagai subsidi dan bantuan sosial, yang khususnya ditujukan bagi masyarakat menengah ke bawah. Turunnya tingkat kemiskinan tersebut juga diikuti oleh tetap rendahnya ketimpangan pendapatan, yang tercermin melalui indeks rasio gini pada tahun ini yang stabil dibandingkan tahun sebelumnya.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga tercermin dari pelemahan kinerja perbankan. Aset perbankan tumbuh melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya, demikian pula dengan pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang juga melemah. Kendati demikian, risiko kredit masih tetap terjaga dengan tingkat NPL yang membaik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Lebih lanjut, kinerja korporasi secara keseluruhan masih terjaga, dengan profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas yang menguat di tengah produktivitas yang sedikit menurun. Turunnya produktivitas tersebut tercermin dari kredit korporasi yang tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Di sisi lain, ketahanan sektor rumah tangga tetap terjaga seiring dengan menguatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya penyaluran kredit kepada debitur rumah tangga, khususnya kredit konsumsi, antara lain Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) dan Kredit Multiguna, yang didukung dengan terjaganya rasio NPL di dalam batas aman. Pertumbuhan DPK juga turut meningkat sejalan dengan tambahan penghasilan yang diterima masyarakat, antara lain melalui Tunjangan Hari Raya (THR).

Seiring dengan menguatnya konsumsi masyarakat yang didorong oleh datangnya momen hari besar keagamaan, aktivitas transaksi keuangan tunai dan nontunai meningkat. Peningkatan transaksi tunai terlihat dari jumlah penarikan (outflow) yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada sisi transaksi nontunai, peningkatan transaksi terjadi pada sistem kliring nasional (SKN-BI), sementara sistem Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) mengalami penurunan.

Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek dan tantangan ekonomi global dan nasional, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2019 diprakirakan tetap terjaga. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih berada di level yang cukup tinggi, yaitu berada di kisaran 5,8%-6,2%, kendati terdapat potensi lebih rendah dari tahun sebelumnya, yaitu sebesar 6,17%. Pertumbuhan ekonomi masih akan bertumpu pada konsumsi di tengah menurunnya kinerja investasi dan ekspor. Meskipun diprakirakan masih tumbuh stabil, pertumbuhan ekonomi Jakarta pada tahun 2019 masih dibayangi risiko, khususnya yang bersumber dari dinamika ekonomi global, yang dapat mengganggu kinerja ekspor.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel