Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta November 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

Perkembangan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan III 2017 kembali menunjukkan peningkatan, yang mengindikasikan berlanjutnya fase peningkatan pertumbuhan ekonomi ke depan, yang terlihat pada terus meningkatnya pertumbuhan investasi. Namun, konsumsi rumah tangga tercatat melambat, sejalan dengan moderasi belanja masyarakat pasca-Idul Fitri. Perkembangan ekonomi yang juga diiringi dengan terkendalinya inflasi di ibukota diharapkan dapat terus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta. sehingga dapat terus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi. Berbagai faktor tersebut diharapkan dapat semakin mendorong optimisme masyarakat sehingga perekonomian nasional, khususnya DKI Jakarta, dapat terus menguat dan semakin berkualitas.

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan III 2017 tumbuh 6,29% (yoy). Realisasi pertumbuhan tersebut terakselerasi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 5,96% (yoy), yang ditopang oleh akselerasi investasi dengan pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), sejalan dengan terus berlanjutnya investasi bangunan Pemerintah melalui pembangunan infrastruktur dan konstruksi. Akselerasi pertumbuhan investasi tersebut juga mendorong impor barang modal sehingga kinerja impor secara keseluruhan pada triwulan laporan mengalami pertumbuhan yang tinggi. Akselerasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan laporan juga berasal dari perdagangan neto antardaerah yang tumbuh tinggi. Hal tersebut dipengaruhi oleh perkembangan harga-harga komoditas global yang berdampak pada membaiknya perekonomian daerah-daerah penghasil sumber daya alam, sehingga mendorong tingginya permintaan dari daerah di luar Jakarta. Di sisi lain, Konsumsi Rumah Tangga tetap tumbuh positif, meskipun melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sejalan dengan moderasi belanja masyarakat pasca-Idul Fitri.

Pada perkembangan harga, tekanan inflasi di ibukota pada triwulan III 2017 tetap terkendali. Hal tersebut ditunjukkan dengan capaian inflasi sebesar 3,69% (yoy), yang lebih rendah dibandingkan inflasi rata-rata tiga tahun sebelumnya di kisaran 4,90% (yoy). Tidak adanya momen khusus sepanjang triwulan III 2017, menyebabkan permintaan masyarakat akan barang dan jasa tidak memberikan tekanan yang berarti terhadap pergerakan harga secara keseluruhan. Perilaku masyarakat kelas menengah yang cenderung menahan konsumsi, turut mendukung terbatasnya tekanan permintaan. Selain itu, harga pangan yang terkendali serta ekpektasi masyarakat yang terjaga, semakin menunjukkan efektivitas kontribusi program pengendalian harga pangan oleh TPID DKI Jakarta.

Dari sisi kesejahteraan, perbaikan kinerja perekonomian ibukota diikuti oleh meningkatnya tingkat pengangguran, yang menunjukkan bahwa pembangunan di Jakarta lebih ditopang oleh kegiatan usaha padat modal. Di sisi lain, Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta dari tahun ke tahun terus meningkat. Namun, kenaikan UMP tersebut tidak sejalan dengan kenaikan produktivitas, sehingga mendorong pelaku usaha untuk lebih memilih usaha padat modal. Kondisi ini menyebabkan tingkat pengangguran terbuka di Jakarta meningkat.

Mengiringi perkembangan perekonomian Jakarta tersebut, kondisi stabilitas sistem keuangan DKI Jakarta pada triwulan III 2017 masih terjaga di tingkat yang aman, yang didukung oleh kinerja positif pada sektor perbankan. Sektor rumah tangga masih relatif cukup baik yang terindikasi dari terjaganya tingkat ekspektasi dan keyakinan rumah tangga terhadap kondisi perekonomian. Di sisi lain, kinerja korporasi menunjukkan perlambatan, yang tercermin dari menurunnya indikator rasio keuangan utama. Namun, optimisme masih positif dengan tumbuhnya sektor-sektor utama di Jakarta.

Pada sisi sistem pembayaran, berlalunya bulan puasa dan Idul Fitri berdampak pada penurunan aktivitas transaksi keuangan masyarakat, terutama transaksi secara tunai. Respons yang searah dari transaksi tunai terhadap kondisi tersebut tercermin pada net inflow aliran uang tunai pada triwulan laporan, atau dengan kata lain jumlah setoran uang kartal ke Bank Indonesia lebih tinggi dibandingkan penarikan. Di sisi lain, transaksi nontunai tercatat meningkat, yang tercermin pada pertumbuhan penggunaan sistem kliring nasional (SKN-BI).

Dengan memerhatikan kondisi terkini, pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta tahun 2017 diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi terutama akan didorong oleh menguatnya investasi, sejalan dengan pembangunan berbagai infrastruktur, khususnya kelanjutan proyek multi years. Kinerja ekspor luar negeri juga diprakirakan menguat, baik untuk ekspor barang berupa kendaraan bermotor dan perhiasan, maupun ekspor jasa. Selain itu, membaiknya kondisi perekonomian global dan nasionaldiprakirakan dapat memperkuat kinerja konsumsi. Kondisi positif tersebut diprakirakan terus berlanjut di tahun 2018, sehingga pertumbuhan DKI Jakarta di tahun mendatang akan terus meningkat.

Di sisi harga, tekanan inflasi pada tahun 2017 diperkirakan tetap terkendali dan mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional tahun 2017, dengan potensi tekanan inflasi hanya terdapat pada akhir tahun, bertepatan dengan perayaan Natal dan tahun baru. Sedangkan tingkat inflasi di tahun mendatang diperkirakan tetap terkendali, sejalan dengan komitmen Pemerintah Pusat untuk tetap menjaga harga-harga komoditas energi, serta dengan optimalisasi peran BUMD pangan guna membawa tingkat inflasi di Jakarta sesuai dengan sasaran.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel