Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
06 Juni 2020

Memasuki tahun 2018, perekonomian DKI Jakarta semakin baik dengan capaian pertumbuhan yang meningkat. Hal tersebut mengindikasikan tetap terjaganya momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi Ibukota, yang didukung oleh tetap terjaganya tingkat investasi dan konsumsi rumah tangga, dan juga didorong oleh kegiatan ekspor yang semakin meningkat.

Untuk tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi secara nasional, dan dengan tetap mengutamakan kestabilan ekonomi makro dan sistem keuangan, Bank Indonesia sepanjang Mei 2018 memutuskan untuk menaikkan suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 basis poin menjadi 4,75%, yang dilakukan dalam dua tahap. Kebijakan tersebut ditempuh sebagai bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah berlanjutnya peningkatan ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global. Bank Indonesia juga melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat tetap menjaga kestabilan perekonomian nasional dan DKI Jakarta yang berkualitas.

Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan I 2018 mengalami pertumbuhan 6,02% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,88% (yoy). Pertumbuhan ekonomi ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang stabil pada level yang cukup tinggi, didorong oleh meningkatnya kebutuhan barang modal dan penambahan bahan baku untuk produksi pada industri pengolahan DKI Jakarta, sehingga berdampak pada meningkatnya impor. Lebih lanjut, konsumsi Lembaga Non-Publik yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) masih mencatat angka pertumbuhan yang tinggi, dipengaruhi oleh semakin dekatnya penyelenggaraan Pilkada serentak tahun 2018. Namun, dukungan fiskal pemerintah relatif masih terbatas, dengan pertumbuhan konsumsi pemerintah yang bahkan mengalami kontraksi. Sementara itu, kemampuan konsumsi rumah tangga tetap stabil, dan didominasi oleh konsumsi untuk kebutuhan rekreasi, sehingga hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab melambatnya pertumbuhan lapangan usaha (LU) perdagangan.

Pada perkembangan harga, inflasi DKI Jakarta pada triwulan I 2018 tetap terkendali dan tercatat sebesar 3,23% (yoy). Pencapaian ini sejalan dengan sasaran inflasi nasional tahun 2018 yang ditetapkan sebesar 3,5% ± 1. Tekanan permintaan barang-barang yang belum terlalu tinggi pada awal tahun, serta didukung oleh perkembangan harga bahan pangan yang relatif stabil dan tidak adanya kebijakan harga energi yang masif dari pemerintah, mampu menjaga tingkat inflasi Ibukota pada periode awal tahun.

Dari sisi kesejahteraan, geliat perekonomian Ibukota telah berhasil meningkatkan kualitas penduduk DKI Jakarta. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia di DKI Jakarta yang kini telah mencapai kategori “Sangat Tinggi”. Perbaikan standar hidup yang dicerminkan oleh pengeluaran perkapita yang meningkat, menjadi faktor utama yang mendongkrak kualitas penduduk DKI Jakarta. Sebaliknya, perbaikan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) belum mengindikasikan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Perbaikan angka tingkat pengangguran pada periode ini lebih disebabkan oleh penurunan jumlah angkatan kerja, bukan peningkatan jumlah penduduk yang bekerja.

Akselerasi pertumbuhan ekonomi Ibukota belum direspons oleh kinerja sektor perbankan, yang tercermin dari perlambatan pada pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pertumbuhan penyaluran kredit. Namun, tetap terjaganya tingkat konsumsi masyarakat berimplikasi kepada terjaganya optimisme pasar, sehingga mendorong pertumbuhan kinerja korporasi. Tingkat ketahanan sektor rumah tangga tetap terjaga dalam kondisi yang baik, yang didukung oleh tingkat keyakinan yang terus optimis.

Pada sisi sistem pembayaran, perbaikan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang belum signifikan tercermin pada aktivitas transaksi keuangan masyarakat. Respons yang searah terhadap kondisi tersebut tercermin dari net outflow uang tunai yang melambat, atau jumlah penarikan uang kartal dari kas Bank Indonesia yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut juga terjadi pada sisi nontunai, yang tercermin dari transaksi melalui sistem kliring nasional yang juga mengalami perlambatan.

Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek ekonomi global maupun nasional yang positif, indikasi meningkatnya kinerja ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2018 semakin kuat. Pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,2%, dan pada tahun 2018 pertumbuhannya diperkirakan lebih tinggi berkisar pada 6,1%-6,5%. Selain didorong oleh berlanjutnya peningkatan investasi dan konsumsi, pertumbuhan ekonomi ibukota pada tahun 2018 akan didorong pula oleh menguatnya kinerja ekspor. Sementara itu, realisasi inflasi DKI Jakarta pada triwulan I 2018 semakin mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional. Komitmen Pemerintah Pusat dan TPID Jakarta dalam menjaga stabilitas harga, akan berkontribusi dalam membawa tingkat inflasi di Jakarta sesuai dengan sasarannya.

Namun, beberapa risiko masih membayangi dinamika perekonomian DKI Jakarta ke depan. Dari sisi global, terdapat risiko pelemahan nilai tukar rupiah akibat dari kenaikan FFR yang lebih tinggi dari perkiraan, dan risiko berlanjutnya kenaikan harga emas serta kenaikan harga minyak dunia. Sedangkan dari sisi domestik, faktor risiko yang akan dihadapi adalah munculnya gejolak harga pangan domestik. Berbagai risiko tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel