​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020

Memasuki tengah tahun 2018, perekonomian DKI Jakarta tetap tumbuh baik dengan capaian yang lebih tinggi dibandingkan nasional. Hal tersebut mengindikasikan terus terjaganya momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi Ibu Kota, yang kali ini didukung oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, seiring dengan datangnya momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri.   

konomian DKI Jakarta pada triwulan II 2018 mengalami pertumbuhan yang cukup baik, yaitu 5,93% (yoy), meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,99% yoy). Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang menguat, seiring dengan datangnya momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri yang mendorong belanja masyarakat lebih tinggi. Hal tersebut turut memberikan efek positif terhadap lapangan usaha (LU) perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang juga tumbuh meningkat. Lebih lanjut, konsumsi Lembaga Non-Publik yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya, dipengaruhi oleh pelaksanaan Pilkada serentak di bulan Juni. Belanja pegawai yang cukup besar, khususnya melalui pencairan THR turut memperbaiki pertumbuhan konsumsi pemerintah yang kembali tumbuh positif, setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi. Di sisi lain, perlambatan disebabkan oleh melemahnya komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi, khususnya investasi bangunan, sejalan dengan aktivitas pembangunan infrastruktur pada triwulan II yang cenderung rendah. Hal tersebut juga berdampak pada pertumbuhan LU konstruksi yang melambat.    

Pada perkembangan harga, inflasi DKI Jakarta pada triwulan II 2018 tetap terkendali dan tercatat sebesar 3,31% (yoy). Pencapaian ini sejalan dengan sasaran inflasi nasional tahun 2018 yang ditetapkan sebesar 3,5% ± 1. Terjaganya kesinambungan pasokan pangan dan semakin solidnya program pengendalian inflasi yang dilakukan oleh TPID DKI Jakarta, berkontribusi terhadap stabilitas perkembangan inflasi hingga paruh pertama tahun 2018. Terjaganya inflasi pangan tersebut juga didukung oleh tiadanya kebijakan harga energi yang berdampak tinggi pada inflasi, sehingga stabilitas harga dapat terjaga ditengah tingginya tingkat permintaan masyarakat pada momen bulan puasa dan Idul Fitri.  

Dari sisi kesejahteraan, Kinerja perekonomian Jakarta yang cukup baik memberikan dampak positif pada kesejahteraan masyarakat Jakarta yang ditandai dengan turunnya tingkat kemiskinan di Ibu Kota. Melambatnya pertumbuhan garis kemiskinan, yang diimbangi oleh meningkatnya pendapatan masyarakat kelompok ekonomi bawah menjadi faktor pendorong membaiknya kondisi kesejahteraan di Jakarta. Hal tersebut didukung oleh terjaganya harga-harga komoditas utama yang dikonsumsi masyarakat bawah, yang berkontribusi besar dalam menahan laju peningkatan garis kemiskinan. Selain ditandai dengan turunnya tingkat kemiskinan, membaiknya ekonomi sosial Jakarta juga diikuti oleh lebih rendahnya ketimpangan pendapatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.  

Pada sisi sistem pembayaran, meningkatnya konsumsi rumah tangga tercermin pada aktivitas transaksi keuangan masyarakat. Respons yang searah terhadap kondisi tersebut terlihat dari net outflow uang tunai yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, atau jumlah penarikan uang kartal dari kas Bank Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kondisi tersebut juga terjadi pada sisi nontunai, yang tercermin dari transaksi melalui sistem kliring nasional yang juga mengalami peningkatan.  

Dengan memerhatikan kondisi ekonomi terkini, serta prospek dan tantangan ekonomi global dan nasional, kinerja ekonomi DKI Jakarta pada tahun 2018 diperkirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,2%, dan pada tahun 2018 pertumbuhannya diperkirakan berada pada kisaran 6,1%-6,5%. Indonesia, khususnya DKI Jakarta yang menjadi tuan rumah Asian Games 2018 akan memberikan efek positif terhadap perekonomian. Ajang olahraga se-Asia tersebut diperkirakan dapat mendorong sisi konsumsi rumah tangga, serta ekspor jasa melalui kunjungan wisatawan mancanegara. Di sisi lain, realisasi inflasi DKI Jakarta pada triwulan II 2018 yang tetap stabil semakin mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional. Komitmen Pemerintah Pusat dan TPID Jakarta dalam menjaga stabilitas harga, akan berkontribusi dalam membawa tingkat inflasi di Jakarta sesuai dengan sasarannya. Namun, beberapa risiko masih membayangi dinamika perekonomian DKI Jakarta ke depan. Dari sisi global, terdapat risiko pelemahan nilai tukar rupiah akibat dari memburuknya ekonomi Turki, serta ancaman perang dagang yang dapat berdampak pada tertahannya ekspor barang Ibu Kota.              ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel