Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi DKI Jakarta Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

Perkembangan ekonomi DKI Jakarta hingga akhir tahun 2017 mengindikasikan terus berlanjutnya momentum peningkatan pertumbuhan ekonomi Ibukota, yang terlihat pada meningkatnya investasi, serta konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga. Namun, melemahnya kinerja belanja pemerintah di kuartal akhir tahun 2017 menahan kinerja ekonomi di triwulan IV 2017 sehingga pertumbuhannya melambat dibandingkan triwulan sebelumnya.

Untuk turut mendukung momentum pemulihan ekonomi tersebut secara nasional, dan dengan tetap mengutamakan kestabilan makroekonomi dan sistem keuangan, Bank Indonesia pada Februari 2018 tetap mempertahankan suku bunga BI 7-day Reverse Repo Rate. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik. Bank Indonesia memandang pelonggaran kebijakan moneter yang telah ditempuh sebelumnya telah memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik. Berbagai faktor tersebut diharapkan dapat semakin mendorong optimisme masyarakat sehingga perekonomian nasional, khususnya DKI Jakarta, dapat terus menguat dan semakin berkualitas.

Pada perkembangan harga, inflasi ibukota tahun 2017 tetap terkendali dan tercatat sebesar 3,72% (yoy). Pencapaian ini sejalan dengan sasaran inflasi nasional tahun 2017 yang ditetapkan sebesar 4% ± 1%. Tekanan permintaan yang belum terlalu tinggi, didukung oleh terkendalinya ekspektasi inflasi masyarakat dan semakin solidnya program-program TPID Jakarta dalam menjaga kestabilan harga di Ibukota, mampu menjaga inflasi ibukota secara keseluruhan di tengah berbagai penyesuaian tarif yang diterapkan pada tahun ini.

Dari sisi kesejahteraan, kinerja perekonomian Jakarta yang relatif cukup baik sepanjang tahun 2017 belum mampu memperbaiki kondisi kemiskinan di Jakarta. Pada September 2017 tingkat kemiskinan Jakarta bahkan tercatat sedikit meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingginya pertumbuhan garis kemiskinan menjadi faktor penyebab meningkatnya tingkat kemiskinan. Peningkatan harga yang cukup tinggi pada komoditas-komoditas utama berkontribusi besar dalam peningkatan garis kemiskinan tersebut. Di sisi lain, peningkatan pertumbuhan ekonomi di tahun ini belum mampu meningkatkan serapan tenaga kerja secara optimal, yang berakibat kepada meningkatnya ketimpangan pendapatan.

Mengiringi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta, kondisi stabilitas keuangan di DKI Jakarta tetap terjaga di tingkat yang aman, yang didukung oleh kinerja positif pada sektor perbankan dan tercermin pada meningkatnya total aset, pertumbuhan DPK, serta ekspansi penyaluran kredit. Sejalan dengan optimisme pasar yang positif terkait dengan pertumbuhan sektor-sektor utama perekonomian Ibukota, kinerja korporasi menunjukkan perbaikan terutama dari sisi produktivitas, likuiditas dan solvabilitas walaupun rentabilitas sedikit mengalami penurunan. Di sisi lain, tingkat ketahanan sektor rumah tangga tetap terjaga dalam kondisi yang baik, didukung oleh tingkat keyakinan yang terus optimis.

Pada sisi sistem pembayaran, aktivitas transaksi keuangan masyarakat Jakarta khususnya secara tunai di tahun 2017 meningkat, sejalan dengan tumbuhnya konsumsi rumah tangga. Respons yang searah dari transaksi tunai terhadap kondisi tersebut tercermin pada net outflow aliran uang tunai pada tahun 2017, atau dengan kata lain jumlah penarikan uang kartal dari kas Bank Indonesia lebih tinggi dibandingkan penyetoran. Pada sisi nontunai, jumlah transaksi yang dilakukan menggunakan sistem kliring nasional (SKN-BI) meningkat, meskipun nominalnya cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan memerhatikan berbagai indikator, termasuk membaiknya prospek ekonomi global maupun nasional, peningkatan pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta akan terus berlanjut pada tahun 2018. Setelah pada tahun 2017 pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 6,22%, pada tahun 2018 pertumbuhannya diperkirakan dapat mencapai kisaran yang lebih tinggi. Selain didorong oleh berlanjutnya peningkatan investasi dan konsumsi, pertumbuhan ekonomi ibukota pada 2018 akan didorong pula oleh menguatnya kinerja ekspor. Namun, beberapa risiko masih membayangi dinamika perekonomian DKI Jakarta ke depan. Dari sisi global, terdapat risiko kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih tinggi dari perkiraan. Sedangkan dari sisi domestik faktor risiko yang akan dihadapi adalah lambatnya pemulihan intermediasi perbankan dan konsumsi masyarakat.

Sementara itu, Sementara itu, tingkat inflasi Jakarta pada tahun 2018 diperkirakan tetap terkendali, dan akan mendukung pencapaian sasaran inflasi nasional. Relatif rendahnya potensi inflasi karena kenaikan harga-harga komoditas energi di tahun 2018, ditambah dengan optimalisasi peran BUMD pangan dalam TPID, diharapkan dapat membawa tingkat inflasi di Jakarta sesuai dengan sasarannya.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel