Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat Mei 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020
​Kinerja ekonomi Jawa Barat pada triwulan I 2019 yang tumbuh sebesar 5,43% (yoy) mengalami perlambatan dibandingkan triwulan IV 2018 sebesar 5,50% (yoy). Melambatnya konsumsi pemerintah sesuai pola seasonalnya serta melambatnya ekspor luar negeri seiring dengan perlambatan volume perdagangan dunia dan perekonomian negara mitra dagang utama menjadi faktor utama pendorong perlambatan. Namun, perlambatan ini tertahan oleh permintaan domestik yang masih tetap kuat terutama pada konsumsi rumah tangga yang didorong oleh peningkatan pendapatan masyarakat. Sementara itu dari sisi lapangan usaha, kinerja LU pertanian yang menurun seiring pergeseran masa panen padi ke awal triwulan II 2019 serta LU administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib seiring melambatnya konsumsi pemerintah menjadi komponen yang mendorong perlambatan secara keseluruhan.
 
Melambatnya kinerja ekonomi Jawa Barat tercermin dari melambatnya transaksi melalui infrastruktur sistem pembayaran ritel dan nilai besar (gabungan). Total transaksi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia dan RTGS pada triwulan I 2019 tumbuh -6,68% (yoy), melambat dibandingkan triwulan IV 2018 yang tumbuh -5,27%. Melambatnya keseluruhan transaksi non tunai tersebut diperkirakan sejalan dengan tertahannya aktivitas ekonomi di awal tahun, khususnya pada konsumsi Pemerintah dan ekspor luar negeri.
 
Masih tetap kuatnya permintaan domestik seiring dengan masuknya Bulan Ramadhan dan Idul Fitri diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2019. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat triwulan II 2019 diperkirakan berada pada kisaran 5,4% - 5,8% (yoy). Hal ini juga dipengaruhi oleh pendapatan masyarakat yang meningkat seiring kenaikan gaji PNS 2019 serta pencairan THR di triwulan II 2019. Sementara itu penyelenggaraan Pilpres dan Pileg serentak diperkirakan dapat mendorong peningkatan konsumsi LNPRT dan konsumsi pemerintah. Namun demikian, kondisi politik menjelang dan pasca Pemilu membuat investor cenderung bersikap wait and see sehingga dapat menjadi faktor penahan pertumbuhan triwulan II 2019. Selain itu, tekanan eksternal juga masih membayangi pertumbuhan ekspor LN Jawa Barat.
 
Inflasi IHK Jawa Barat pada triwulan I 2019 tercatat sebesar 2,42% (yoy), sejalan dengan sasaran inflasi nasional tahun 2019. Realisasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan triwulan I 2018 yang sebesar 3,91% (yoy) dan realisasi triwulan IV 2018 yang sebesar 3,54% (yoy). Terkendalinya inflasi pada triwulan I 2019 didorong oleh relatif stabilnya inflasi pada kelompok Bahan Makanan, terutama subkelompok Bumbu-Bumbuan dikarenakan berlangsungnya masa panen raya bawang merah pada bulan Februari 2019. Secara spasial, terdapat beberapa kota yang perlu perhatian lebih lanjut karena inflasinya di atas Jawa Barat yang berarti di atas level inflasi nasional, yaitu Kota Bekasi, Kota Bogor dan Kota Bandung.
 
Pada triwulan II 2019, inflasi IHK tahunan Jawa Barat diperkirakan berada pada rentang sasaran inflasi nasional dan lebih tinggi dibandingkan realisasi triwulan I 2019. Meningkatnya tekanan inflasi ini didorong oleh berlangsungnya bulan Ramadhan pada bulan Mei dan Hari Raya Idul Fitri pada awal bulan Juni. Hal ini didorong oleh permintaan beberapa komoditas bahan makanan yang secara musiman mengalami peningkatan selama Ramadhan, tingginya permintaan transportasi untuk arus mudik, tingginya permintaan terhadap komoditas sandang terutama untuk pakaian muslim serta kenaikan harga emas perhiasan. Tekanan inflasi diperkirakan akan mereda pada bulan Juni 2019 seiring dengan adanya normalisasi harga meskipun masih harus diwaspadai adanya peningkatan tekanan dari kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga seiring dengan adanya cuti bersama Hari Raya Idul Fitri serta liburan sekolah. Untuk itu, pada triwulan II 2019 TPID Provinsi dan kota/kabupaten se-Jawa Barat melakukan serangkaian kegiatan terkait penyelarasan program kerja pengendalian inflasi dalam rangka mengantisipasi kenaikan harga menjelang bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1440 H,  pengendalian ekspektasi inflasi melalui forum ulama se-Jawa Barat, inspeksi mendadak pasar hingga penyelenggaraan bazaar murah.
 
Stabilitas keuangan di Jawa Barat pada triwulan I 2019 terpantau cukup baik dengan kondisi yang relatif mix. Penyaluran kredit melambat di tengah mulai meningkatnya penghimpunan DPK. Meningkatnya pertumbuhan DPK terutama didorong oleh peningkatan giro terutama pada giro korporasi dan giro pemerintah. Meningkatnya giro Pemerintah sejalan dengan pola seasonal yakni pemindahan dana ke instrumen yang lebih liquid seiring dengan persiapan pembayaran belanja (seperti THR). Pertumbuhan DPK yang lebih cepat dibandingkan penyaluran kredit menyebabkan tingginya rasio kredit terhadap DPK atau loan to deposit ratio (LDR) yang mencapai mencapai 93,07% pada triwulan I 2019 dan merupakan yang tertinggi dalam 9 tahun terakhir. Stabilitas keuangan Jawa Barat juga masih dibayangi peningkatan risiko kredit yang ditunjukkan oleh meningkatnya rasio non performing loan (NPL). Peningkatan NPL erjadi pada LU konstruksi, industri pengolahan dan perdagangan besar & eceran sementara LU jasa dunia usaha terus mengalami perbaikan risiko kredit.
 
Melambatnya laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada triwulan I 2019, terlihat belum berpengaruh secara negatif terhadap kondisi ketenagakerjaan di Jawa Barat. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat terpantau menurun dari 8,16% pada Februari 2018 menjadi 7,73% pada Februari 2019 dan tercatat sebagai TPT terendah sejak tahun 2011. Berlanjutnya perbaikan ini terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan lapangan usaha Perdagangan Besar & Eceran yang masih mengalami akselerasi di tengah perlambatan LPE secara umum, di mana LU ini menyerap pangsa tenaga kerja terbesar dibanding LU lainnya. Membaiknya kualitas ketenagakerjaan di Jawa Barat juga ditandai dengan meningkatnya persentase tenaga kerja berpendidikan menengah dan tinggi di tengah menurunnya persentase tenaga kerja berpendidikan rendah. Tingkat kemiskinan pada September 2018 pun menurun menjadi 7,25% dan merupakan yang terendah dalam tujuh tahun terakhir. 
 
Setelah menunjukkan peningkatan cukup tinggi di tahun 2018, masih tingginya tekanan eksternal berpotensi menyebabkan kinerja ekonomi tahun ini tidak setinggi tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat tahun 2019 diperkirakan berada pada kisaran 5,3% - 5,7% (yoy). Melambatnya prospek perekonomian dunia tahun ini serta berbagai negara mitra dagang utama Jawa Barat seperti Amerika Serikat dan Eropa menjadi faktor yang mempengaruhi perlambatan kinerja ekspor Jawa Barat seperti pada komoditas Tekstil dan Produk Tekstil, mesin dan peralatan listrik serta alas kaki. Masih sebagai faktor yang mempengaruhi perlambatan, pelaku usaha juga cenderung bersikap wait and see dan menahan investasi pada semester I 2019 hingga selesainya masa PEMILU.
 
Sementara itu, melandainya tekanan inflasi hingga triwulan I tahun 2019 mendorong perkiraan inflasi tahun 2019 berpotensi lebih rendah daripada tahun 2018 dan berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional 3,5%±1% (yoy). Proyeksi penurunan harga komoditas dunia termasuk minyak menjadi faktor dapat menahan peningkatan biaya energi. Kebijakan pemerintah untuk menjaga berbagai tarif bahan bakar minyak dan listrik pada semester I 2019 juga turut menahan tekanan yang bersumber dari harga-harga yang ditetapkan pemerintah serta ekspektasi inflasi yang timbul dari kenaikan administered prices.
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel