Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Barat Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020
​​Kinerja ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2019 yang tumbuh sebesar 5,68% (yoy) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,40% (yoy). Meningkatnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah mendorong pertumbuhan triwulan II 2019. Hal ini didorong oleh penignkatan permintaan dengan masuknya bulan Ramadahan dan Idul Fitri serta penyelenggaraan Pemilu 2019. Selain itu, peningkatan pendapatan masyarkat seiring dengan kenaikan gaji ASN sebesar 5% yang dicairkan pada bulan April 2019. Selain itu, kenaikan UMK tahun 2019 sebesar 8,08% dan peningkatan penerima dana bantuan sosial PKH tahun 2019 juga turut mendorong pendapatan masyarakat. Di sisi lain, pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh faktor eksternal yaitu melambatnya pertumbuhan beberapa mitra dagang utama Jawa Barat seperti Amerika Serikat, Eropa dan China serta kecenderungan penurunan harga komoditas yang menahan kinerja ekspor Jawa Barat pada triwulan II 2019.
 
Dengan melihat perkembangan kondisi perekonomian global dan domestik saat ini, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan III 2019  diperkirakan melambat pada kisaran 5,3% - 5,7% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perlambatan diperkirakan dipengaruhi karena menurunnya konsumsi pemerintah serta stagnannya pertumbuhan konsumsi swasta serta ekspor LN yang diiringi peningkatan impor LN. Hal ini seiring dengan berlalunya bulan Ramadhan dan Idul Fitri, dimana permintaan masyarakat cenderung kembali normal. Selain itu ekspor LN juga diperkirakan akan tumbuh stagnan seiring dengan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama Jawa Barat.  Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, perlambatan diperkirakan didorong oleh sejumlah LU utama, khususnya LU perdagangan dan LU pertanian seiring dengan telah berakhirnya musim panen raya pada di triwulan II 2019.
 
Inflasi Jawa Barat pada triwulan II 2019 sebesar 3,48% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 2,42% (yoy).  Nilai inflasi tahunan ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan capaian inflasi nasional sebesar 3,28% (yoy). Secara kumulatif Januari hingga Juni, inflasi pada triwulan II 2019 sebesar 2,14% (ytd), lebih rendah dibanding triwulan II 2018 sebesar 2,20% (ytd). Faktor pendorong inflasi pada triwulan ini antara lain berasal dari kelompok Bahan Makanan, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau; serta kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar. Sumbangan inflasi dari ketiga kelompok ini didorong oleh faktor seasonalnya, yakni momentum Ramadhan dan Lebaran yang terjadi pada triwulan yang sama dan menyebabkan kenaikan permintaan dari masyarakat.  Adapun faktor penahan inflasi pada triwulan ini antara lain disumbang oleh terkendalinya inflasi kelompok Kesehatan dan Sandang.
 
Stabilitas keuangan Jawa Barat triwulan II 2019 masih terpantau cukup baik.  Kinerja Intermediasi perbankan pada akhir triwulan II 2019 menunjukkan kondisi yang relatif terjaga. Risiko kredit yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) terpantau meningkat meskipun masih di bawah batas aman. Rasio NPL lokasi proyek terpantau meningkat menjadi 2,96% pada triwulan II 2019 dari 2,94% pada triwulan I 2019. Peningkatan intermediasi perbankan didorong oleh peningkatan DPK di tengah penurunan penyaluran kredit. Di sisi lain, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 91,10% atau menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dengan rasio 93,07%.
 
Transaksi non tunai menggunakan kliring dan RTGS mengalami penurunan baik dari sisi nominal namun volume. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya uncertainty selama periode Pilpres sehingga pelaku usaha cenderung menahan ekspansi kegiatan ekonomi. Sementara itu, aktivitas transaksi keuangan secara tunai pada triwulan II 2019 kembali mencatatkan posisi net inflow atau dengan kata lain jumlah penyetoran uang kartal ke kas Bank Indonesia lebih tinggi dari jumlah penarikan, namun menurun disbanding triwulan sebelumnya. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat aktif mendorong elektronifikasi di sektor transportasi, transaksi pemerintah dan bantuan sosial non tunai. Adapun perkembangan transfer dana melalui Penyelenggara Transfer Dana Bukan Bank (PTD BB) di Jawa Barat terpantau mengalami peningkatan khususnya pada transaksi incoming dan outgoing.
 
Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan Jawa Barat kembali mengalami perbaikan. Hal ini tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Barat yang menurun dari 8,16% pada Februari 2018 menjadi 7,73% pada Februari 2019 dan tercatat sebagai TPT terendah sejak tahun 2011.  Membaiknya kualitas ketenagakerjaan di Jawa Barat juga ditandai dengan meningkatnya persentase tenaga kerja berpendidikan menengah dan tinggi di tengah menurunnya persentase tenaga kerja berpendidikan rendah. Akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2019 menjadi salah satu faktor pendorong perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat Jawa Barat.  Tingkat kemiskinan di Jawa Barat pada Maret 2019 mengalami penurunan bila dibandingkan dengan Maret 2018 (7,45%). Sejalan dengan hal tersebut, ketimpangan di Jawa Barat juga tercatat menurun dari 0,407 menjadi 0,402 pada Maret 2019. Hal ini terutama didorong oleh aliran dana bantuan sosial dari Pemerintah Pusat yang meningkat cukup tinggi selama semester I 2019.
 
Keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Jawa Barat diperkirakan berada pada kisaran 5,3%-5,7% (yoy) masih tinggi meskipun relatif berat untuk mengimbangi pertumbuhan yang tinggi di tahun 2018. Perlambatan ini diperkirakan disebabkan oleh melambatnya konsumsi rumah tangga seiring dengan peningkatan upah minimum 2019 yang lebih rendah dibanding 2018, sentimen bisnis pelaku usaha berupa sikap wait and see menjelang Pemilihan Umum Presiden 2019 berpotensi untuk menahan peningkatan investasi pada paruh pertama 2019. Selain itu, sejalan dengan kondisi nasional, stagnannya pertumbuhan ekonomi dunia dan volume perdagangan global yang berpotensi melambat akan menahan laju pertumbuhan ekspor Jawa Barat.
 
Inflasi Jawa Barat diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi tahun 2019 sebesar 3,5%±1. Meskipun terdapat potensi kenaikan permintaan domestik akibat pelaksanaan Pilpres serta risiko tekanan pada imported inflation, berbagai upaya Pemerintah untuk memastikan kecukupan pasokan serta menjaga kestabilan harga melalui koordinasi TPID diharapkan mampu mempertahankan tingkat inflasi pada kisaran yang ditargetkan.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel