Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Barat Agustus 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020

LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI ​

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 tumbuh melambat dibanding triwulan I 2018. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat melambat dari 5,96% (yoy) pada triwulan I 2018 menjadi 5,65% (yoy) pada triwulan II 2018. Namun realisasi ini masih lebih tinggi dibanding rata-rata LPE triwulan II pada kurun waktu 2015-2017 yang tercatat sebesar 5,44%. LPE triwulan II 2018 juga lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2017 yang tercatat sebesar 5,35%(yoy). Perlambatan ini dipengaruhi oleh kebijakan hari libur Lebaran yang lebih panjang dibanding tahun sebelumnya, sehingga proses produksi tertahan. Hal ini tercermin dari front loading strategy yang dilakukan oleh industri pada triwulan I 2018. Dari sisi pengeluaran, perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan II 2018 disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan investasi dan net ekspor luar negeri. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha (LU), laju pertumbuhan mayoritas lapangan usaha di Jawa Barat khususnya lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan, perdagangan dan konstruksi turut menahan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. ​

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada triwulan III 2018 diperkirakan melambat dibandingkan triwulan II 2018, dengan proyeksi pertumbuhan pada rentang 5,2% - 5,6% (yoy). Sementara itu secara keseluruhan tahun ekonomi Jawa Barat diperkirakan dapat tumbuh pada kisaran 5,4% - 5,8% (yoy). Dari sisi pengeluaran, perlambatan diperkirakan terjadi pada komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Sementara itu, dari sisi lapangan usaha, perlambatan diperkirakan berasal dari indikasi melambatnya perdagangan, dan jasa-jasa. ​

PERKEMBANGAN INFLASI ​

Inflasi Jawa Barat pada triwulan II 2018 sebesar 3,09% (yoy), mengalami penurunan dibandingkan dengan realisasi inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 3,91% (yoy). Nilai inflasi tahunan ini juga lebih rendah dibandingkan dengan capaian inflasi nasional sebesar 3,12% (yoy). Secara kumulatif April-Juni, inflasi pada triwulan II 2018 sebesar 2,20% (ytd), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2017 yang sebesar 2,74% (ytd). Faktor pendorong tingginya inflasi pada triwulan ini adalah dari subkelompok bumbu-bumbuan, sayur-sayuran, dan daging dan hasil-hasilnya. ​

STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM ​

Stabilitas keuangan Jawa Barat triwulan II 2018 terpantau cukup baik, kinerja Intermediasi perbankan pada akhir triwulan II 2018 menunjukkan kondisi yang relatif mix. Peningkatan pertumbuhan kredit lebih didorong oleh peningkatan pada segmen korporasi. Di sisi lain untuk segmen rumah tangga cenderung melambat. Risiko kredit secara umum meningkat meskipun masih di bawah batas aman. Peningkatan risiko tersebut didorong oleh penurunan kualitas kredit pada segmen rumah tangga. Ditengarai adanya peningkatan permintaan kredit pada segmen ini mendorong peningkatan Debt Service Ratio (DSR)>30%. Hal ini kemudian berpotensi menurunkan kualitas kredit yang tercermin dari peningkatan NPL rumah tangga. ​

PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH ​

Transaksi melalui sistem pembayaran non tunai terpantau meningkat, sementara itu pada sistem pembayaran tunai, Jawa Barat mengalami net outflow pada triwulan II 2018. Pada bagian sistem pembayaran, dijelaskan mengenai perkembangan sistem pembayaran tunai dan non tunai di Jawa Barat. Diantaranya mengenai perkembangan penggunaan kliring dan RTGS yang meningkat pada triwulan II 2018. Peningkatan tersebut diperkirakan sejalan dengan kebutuhan lalu lintas dana karena seasonal effect hari besar keagamaan. Adanya efek musiman tersebut juga mendorong peningkatan kebutuhan uang layak edar, yang mengakibatkan Jawa Barat mengalami net outflow. Peningkatan transaksi melalui penyelenggara jasa sistem pembayaran juga tercermin dari peningkatan transaksi penukaran uang kertas asing (UKA) di KUPVA BB serta transfer dana di PTD BB. ​

PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN ​

Pada aspek ketenagakerjaan dan kesejahteraan, pada triwulan II 2018 ini diperkirakan kondisinya masih cukup baik. Namun, dari kinerja ekonomi serta indikator-indikator hasil survei, kondisi kedua aspek tersebut diperkirakan tidak sebaik pada triwulan sebelumnya. Pada aspek ketenagakerjaan, indikator ketersediaan lapangan kerja maupun realisasi penggunaan tenaga kerja dari hasil survei Bank Indonesia menunjukkan penurunan. Sementara itu pada aspek kesejahteraan, tingkat kemiskinan pada Maret 2018 tercatat sebesar 7,45% yang menurun dibandingkan tahun lalu. Pada triwulan II 2018, diharapkan kondisinya setidaknya masih dapat terjaga. Pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi meskipun melambat diharapkan dapat berkontribusi. Di sisi lain, pada segmen petani secara umum masih terjadi peningkatan indeks Nilai Tukar Petani pada triwulan II 2018. Namun jika dilihat pertumbuhannya terjadi perlambatan, yang didorong oleh perlambatan subsektor tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan rakyat. ​

PRAKIRAAN PEREKONOMIAN KE DEPAN ​

Pada triwulan IV 2018, LPE Jawa Barat diperkirakan terakselerasi dibandingkan triwulan III 2018, yaitu pada kisaran 5,3% - 5,7% (yoy). Pertumbuhan masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga terkait faktor seasonal, yakni momen perayaan hari Natal dan Tahun Baru. Pertumbuhan investasi (PMTB) diperkirakan meningkat sejalan dengan peningkatan realisasi belanja modal pemerintah yang biasa terjadi pada akhir tahun. Sementara itu, konsumsi Pemerintah juga diperkirakan tumbuh positif, terkait dengan kenaikan penyerapan anggaran belanja barang pada akhir triwulan IV 2018. ​

Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada 2018 secara tahunan diperkirakan meningkat dibandingkan 2017. Laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jawa Barat pada 2018 diperkirakan pada rentang 5,4% - 5,8% (yoy), meningkat dibandingkan realisasi 2017 (5,32%, yoy). Meningkatnya LPE Jawa Barat terutama ditopang oleh berlangsungnya sejumlah event, seperti Pilkada dan Asian Games yang dapat meningkatkan konsumsi swasta dan Pemerintah, serta investasi. Selain itu, berlanjutnya pembangunan sejumlah proyek infrastruktur strategis Pemerintah pada 2018 turut menjadi pendorong LPE. Berlanjutnya perbaikan ekonomi global serta harga komoditas global diperkirakan juga menunjang kinerja ekspor luar negeri. ​

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan turut mendorong tekanan inflasi pada 2018 meskipun masih dalam kisaran sasaran nasional. Selain meningkatnya permintaan domestik, tekanan inflasi juga dipengaruhi beberapa faktor seperti prospek meningkatnya harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia bersama-sama Pemerintah dalam forum TPI/TPID berkomitmen untuk menjaga inflasi berada dalam kisaran sasaran inflasi tahun 2018 sebesar 3,5%±1%. ​

Inflasi Jawa Barat pada triwulan IV 2018 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Meningkatnya tekanan inflasi diperkirakan terutama bersumber dari kelompok volatile food seiring dengan tengah berlangsungnya musim tanam untuk sejumlah tanaman pangan utama sehingga mengurangi pasokan. Demikian pula, tekanan inflasi core diperkirakan meningkat seiring dengan kenaikan permintaan domestik dan kenaikan harga emas menjelang akhir tahun. ​

Beberapa risiko masih membayangi dinamika perekonomian Jawa Barat ke depan. Dari sisi global, risiko pelemahan nilai tukar rupiah akibat meningkatnya ketidakpastian keuangan global terkait kenaikan FFR dan harga minyak dunia. Dari sisi domestik, akselerasi pertumbuhan ekonomi regional berpotensi meningkatkan permintaan dan risiko tekanan di sisi komoditas pangan. Berbagai risiko tersebut dapat memberikan tekanan terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan inflasi. Namun demikian, dengan semakin diperkuatnya sinergi dan kerjasama antar daerah, diharapkan risiko-risiko ini dapat diantisipasi termasuk dampak lanjutannya.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel