Profil - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
29 Januari 2020
Profil Provinsi Gorontalo
Pilih Provinsi    
​1. Masjid Baiturrahim

baiturrahim.jpg
Masjid Baiturrahim merupakan masjid tertua yang berdiri di Gorontalo, didirikan pada tahun 1140 H atau 1726 M oleh Paduka Raja Botituhe (Kerajaan Gorontalo). Selanjutnya sesuai dengan perkembangan Pemerintahan dan masyarakat/umat Islam, mesjid yang pertama kali dibuat dari kayu semata-mata telah diperbaharui dengan memakai tiang-tiang yang telah diubah menjadi bangunan yang berpondasi dan berdinding batu pada tahun 1175 H atau 1761 Masehi oleh Raja Unonongo. Sekedar diketahui bahwa tebal dindingnya 0.80 m.

2. Budaya "Tumbilo Tohe"  (Pasang Lampu)

tumbilo.jpg
Kegiatan Tradisional Gorontalo yang dilaksanakan tiap tahun dilaksanakan di bulan Ramadhan 5 hari menjelang Idul Fitri. Tradisi tersebut menurut sejarah dimaksudkan untuk memudahkan Umat Islam dalam memberikan Zakat Fitrahnya pada malam hari.




3. Pantai Indah Pohe

pohe.jpgObyek Wisata pantai yang terdapat sebuah batu berbentuk tapak kaki terletak di Pantai Lahilote Kelurahan Pohe Kecamatan Kota Selatan, kurang lebih 6 km dari pusat Kota Gorontalo. Botu berarti batu, Liyodu berarti tapak kaki, jadi Botu Liyodu adalah batu berbentuk tapak kaki. Konon menurut legenda, batu ini adalah tapak kaki dari seorang pemuda bernama Lahilote, karena kasmaran dengan seorang bidadari dari kayangan yang bernama Boyilode Hulawa, sampai nekad mencuri sayap berbentuk selendang dari sang putri, namun dalam perjalanan rumah tangganya Lahilote ditinggalkan sang putri kembali ke kayangan. Legenda lahilote ini sampai sekarang masih dituturkan oleh masyarakat sebagai cerita rakyat bagi generasi selanjutnya. Pantai lahilote tetap menjadi obyek wisata bagi masyarakat Daerah Gorontalo dan wisatawan dari manca negara.

4. Makam Wali Gorontalo4. Makam Wali Gorontalo

makamWali.jpgMakam keramat Ju Panggola terletak di Kecamatan Kota Barat, di Kelurahan Lekobalo, kurang lebih 7 KM dari Pusat Kota Gorontalo. Makam keramat ini terletak di atas bukit pada ketinggian 50 meter dari jalan raya. Dari atas bukit ini kita dapat melihat Danau Limboto yang luas, dengan airnya yang makin kritis, dari kedalaman 32 meter kini tinggal 5 s/d 7 meter. Ju Panggola adalah gelar, Ju berarti “ya”, Panggola berati Tua, jadi Ju Panggola artinya Ya Pak Tua. Dalam sejarah, nama dari Pak Tua tersebut adalah Ilato, yang artinya kilat, karena keramatnya Ilato, sering menghilang dan sering muncul jika negeri dalam keadaan gawat. Pak Tua atau “Ju Panggola” gelar ini muncul dari masyarakat, karena setiap beliau tampil, dengan profil Kakek Tua dengan jubah putihnya, serta jenggot yang melewati lutut, berwarna putih. Dikatakan “AWULIYA” karena beliau adalah penyebar agama Islam sejak tahun 1400, sebelum para Wali Songo berada di Pulau Jawa.

5. Monumen H.Nani Wartabone

monumen1.jpgH. Nani Wartabone adalah putera asli Daerah Gorontalo, yang telah banyak mengabdikan diri sebagai pejuang bangsa dan negara, dalam gerakan patriotisme dalam melawan penjajah. Gerakan patriotisme Rakyat Gorontalo dibawah pimpinan Nani Wartabone, merupakan suatu gerakan yang panjang waktunya melalui kurun waktu dan berbagai macam siasat dan strategi perjuangan, baik yang bersifat legal maupun ilegal. Seluruh perjuangan rakyat Gorontalo yang bersifat patriotik itu akhirnya mencapai klimasnya pada tanggal 23 Januari 1942, suatu  peristiwa heroik yang berhasil menggulingkan Pemerintah Kolonial Belanda, dan berhasil mendirinkan Pemerintahan yang merdeka. Jiwa patriotisme yang tumbuh dan terpelihara sejak abad ke XVII, berpuncak pada patriotisme 23 Januari 1942, merupakan batu-batu kerikil  yang dipersembahkan rakyat Gorontalo dalam batas-batas kemampuannya dalam pembangunan raksasa Republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945. Jiwa patriotik tersebut muncul dan tumbuh terus dimasa kekuasaan Jepang, bahkan dibina dan diwariskan kepada Generasi yang sedang mengisi kemerdekaan ini.
Show Left Panel