Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Gorontalo November 2017​​​​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

​Kondisi perekonomian Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2017 mengalami pertumbuhan sebesar 5,29% (yoy) melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,64% (yoy). Dari sisi penggunaan, perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, menurunnya kinerja ekspor dan meningkatnya impor untuk kebutuhan investasi. Sedangkan dari sisi penawaran, perlambatan terutama didorong oleh perlambatan pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan seiring melambatnya pertumbuhan luas panen pada triwulan III 2017, akibat bergesernya jadwal panen padi menjadi di akhir triwulan II 2017 dan adanya gangguan hama. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi juga didorong oleh penurunan kinerja lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor seiring berlalunya puncak konsumsi masyarakat dan juga penurunan kinerja ekspor Gorontalo.

Melihat perkembangan terkini dan risiko ke depan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan IV 2017 mengalami peningkatan. Akselerasi perekonomian Gorontalo pada triwulan IV 2017 terutama didorong oleh meningkatnya kinerja konsumsi seiring peningkatan peningkatan pendapatan masyarakat akibat meningkatnya lapangan usaha pertanian dengan adanya panen raya, adanya even tahunan pariwisata seperti Festival Boalemo, Karnaval Karawo dan even lainnya. Selain itu, peningkatan juga didorong oleh komponen investasi sebagai upaya menyelesaikan berbagai proyek strategis dan realisasi penyaluran dana desa serta peningkatan kinerja ekspor seiring meningkatnya pasokan jagung.

Secara umum, pertumbuhan ekonomi tahun 2017 diperkirakan relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 berasal dari terjaganya permintaan domestik seiring meningkatnya pendapatan masyarakat akibat akselerasi pertumbuhan lapangan usaha pertanian. Namun di sisi lain, kinerja investasi diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan seiring berkurangnya investasi dengan selesainya proyek strategis seperti PLTG Paguat dan bandara Djalaludin, dan belum adanya proyek investasi pengganti dengan nilai investasi yang lebih besar.

Inflasi Provinsi Gorontalo pada triwulan III 2017 (4,41%, yoy) mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya (3,69%, yoy). Peningkatan tersebut terutama didorong oleh oleh peningkatan inflasi kelompok barang yang harganya bergejolak (volatile food), akibat adanya gangguan pasokan komoditas pangan strategis seperti komoditas hortikultura dan ikan segar seiring tingginya curah hujan dan gelombang laut. Selain itu, adanya permasalahan pasokan garam di tingkat nasional juga berpengaruh terhadap peningkatan inflasi kelompok inti Gorontalo. Dari sisi kelompok tarif yang dipengaruhi pemerintah (administered prices), peningkatan tekanan inflasi terutama didorong oleh peningkatan tarif angkutan udara akibat masih tingginya permintaan masyarakat pasca perayaan Idul Fitri.

Memasuki triwulan IV 2017, tekanan inflasi Gorontalo memperlihatkan penurunan di awal periode, namun diperkirakan akan mengalami peningkatan yang didorong oleh peningkatan permintaan seiring adanya perayaan hari besar keagamaan dan libur sekolah, serta adanya potensi terganggunya pasokan akibat gangguan produksi seiring meningkatnya curah hujan di akhir tahun. Melihat perkembangan harga terakhir, serta risiko dan berbagai upaya pengendalian inflasi yang telah dan akan dilakukan, tingkat inflasi Gorontalo pada akhir triwulan IV 2017 atau akhir tahun 2017 diperkirakan sesuai dengan target nasional sebesar 4% ± 1% (yoy).

Secara umum, jika dibandingkan dengan tahun 2016 dengan tingkat inflasi sebesar 1,3% (yoy), tingkat inflasi tahun 2017 diperkirakan akan mengalami peningkatan. Pendorong utama terjadinya peningkatan tekanan inflasi tersebut bersumber pada kelompok administerd prices seiring adanya kebijakan pemerintah yang berpengaruh pada kenaikan tarif dan biaya seperti pencabutan subsidi listrik untuk sebagaian pelanggan daya 900 VA, peningkatan cukai rokok, penyesuaian batas bawah tarif angkutan udara dan peningkatan biaya perpanjangan STNK. Selain itu tingginya curah hujan di sepanjang tahun 2017 juga menyebabkan terganggunya pasokan komoditas pangan strategis sehingga mempengaruhi peningkatan tekanan inflasi volatile food.

Pada triwulan III 2017, risiko kerentanan sektor korporasi di Provinsi Gorontalo mengalami penurunan sebagaimana tercermin pada rasio level Non Performing Loan (NPL) kredit korporasi yang mengalami perbaikan seiring meningkatnya pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja korporasi di Gorontalo. Sementara itu, di sektor rumah tangga risiko kerentanan menunjukkan perbaikan sebagaimana tercermin pada menurunnya rasio Non Performing Loan (NPL). Adanya pergeseran panen raya tahun ini, serta konsumsi masyarakat yang kembali normal pasca faktor musiman (bulan Ramadhan, hari Raya Idul Fitri, dan musim liburan sekolah), memberikan peluang meningkatnya kemampuan debitur (repayment capacity) untuk mengembalikan pinjamannya sehingga mampu menekan kenaikan NPL sektor rumah tangga.

Terkait sistem pembayaran, pada triwulan III 2017 seiring adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi, baik transaksi pembayaran tunai maupun non tunai mengalami penurunan dibandingkan triwulan II 2016 didorong oleh menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2017. Pada triwulan ini terjadi kondisi net outflow di sisi sistem pembayaran seiring dengan banyaknya pengeluaran lebih besar dari dana yang disimpan.

Pertumbuhan ekonomi provinsi Gorontalo pada awal tahun 2018 diperkirakan akan mengalami peningkatan pada level yang terbatas dibandingkan triwulan sebelumnya. Perekonomian provinsi Gorontalo pada triwulan I 2018 diperkirakan berada pada kisaran 6,6%-7,0% (yoy). Sumber utama pertumbuhan perekonomian diperkirakan masih bersumber dari permintaan domestik. Dari sisi penggunaan, kinerja konsumsi rumah tangga, kinerja investasi dan ekspor akan menjadi pendorong utama kinerja perekonomian provinsi Gorontalo triwulan I 2018, seiring meningkatnya pendapatan masyarakat dari hasil panen triwulan sebelumnya dan upaya untuk penyelesaian proyek strategis yang tertunda. Sedangkan dari sisi penawaran, pendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi didorong oleh lapangan usaha konstruksi dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, hal tersebut seiring dengan peningkatan investasi dan ekspor provinsi Gorontalo.

Tekanan inflasi provinsi Gorontalo pada triwulan I 2018 diperkirakan kembali menurun dibandingkan triwulan sebelumnya dan berada dalam kisaran target inflasi nasional yang sebesar 3,5% ± 1% (yoy). Kembali normalnya permintaan masyarakat terhadap komoditas pangan strategis dan terjaganya pasokan menjadi pendorong utama. Selain itu, tingkat inflasi administered prices mengalami penurunan seiring minimnya kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi peningkatan harga tarif dan biaya. Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan pada tingkat yang relatif stabil.

Melihat prospek ke depan, perekonomian provinsi Gorontalo untuk keseluruhan tahun 2018 diperkirakan membaik dibandingkan tahun 2017 dengan tingkat pertumbuhan pada kisaran 6,4%-6,8% (yoy). Sumber utama peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 berasal dari masih kuatnya permintaan domestik, meningkatnya investasi dan perbaikan ekspor. Sementara itu, tingkat inflasi pada tahun 2018 diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017 dengan rentang dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 3,5% ± 1% (yoy). Minimnya shock dari kebijakan pemerintah pada tahun 2018, serta upaya pengendalian inflasi oleh pemerintah dan TPID melalui berbagai kegiatan untuk meningkatkan produksi, memperlancar pasokan dan mengatasi gejolak harga menjadi faktor utama penurunan tekanan inflasi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel