<span style="font-family:arial;font-size:12px;font-style:normal;font-weight:bold">Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Gorontalo Mei 2017</span>​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020
Perekonomian Gorontalo pada triwulan I 2017 tumbuh sebesar 7,27% (yoy) tercatat mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 7,02% (yoy). Dari sisi penggunaan, akselerasi terutama didorong oleh seluruh komponen konsumsi dan investasi dengan kontribusi masing-masing sebesar 60,05% dan 30,89%. Jika dilihat dari sisi penawaran, akselerasi pertumbuhan terutama didorong peningkatan kinerja lapangan usaha administrasi pemerintahan seiring adanya realokasi anggaran gaji Guru ke APBD Provinsi Gorontalo. Selain itu, terjaganya kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, serta lapangan usaha perdagangan, seiring masuknya musim panen raya di triwulan I 2017 dan meningkatnya permintaan masyarakat turut mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2017.

Melihat perkembangan terkini, pertumbuhan ekonomi Gorontalo triwulan II 2017 diperkirakan relatif terjaga yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah dan konsumsi LPNRT seiring masuknya bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idhul Fitri, serta adanya peningkatan penghasilan masyarakat pasca panen raya diperiode sebelumnya. Selain itu, adanya rencana investasi oleh swasta terkait dengan pembangunan infrastruktur. Dari sisi penawaran, terjaganya pertumbuhan ekonomi didorong oleh akselerasi kinerja lapangan usaha perdagangan dan transportasi, namun disisi lain terdapat potensi perlambatan kinerja lapangan usaha pertanian seiring masuknya musim tanam lahan pertanian di triwulan II 2017.

Inflasi Provinsi Gorontalo pada triwulan I 2017 mengalami peningkatan dari 1,30% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar 2,73% (yoy). Realisasi inflasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan tingkat Nasional yang tercatat sebesar 3,61% (yoy). Namun jika diperhatikan inflasi tahun kalender, pada triwulan I 2017 tercatat sebesar 1,65% (yoy), lebih tinggi dari tingkat inflasi tahun kalender pada periode yang sama dalam 3 tahun terakhir.

Peningkatan tekanan inflasi pada triwulan I 2016 terutama didorong oleh meningkatnya inflasi kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) akibat terbatasnya pasokan beberapa komoditas pangan strategis, serta pengaruh pembentukan harga pada tingkat nasional yang lebih tinggi. Selain itu, peningkatan tekanan inflasi juga didorong oleh adanya kebijakan pemerintah dalam menaikan beberapa tarif seperti tarif listrik, biaya perpanjangan STNK dan juga besaran cukai rokok. Disisi lain, untuk inflasi inti pada triwulan I 2017 tercatat cukup terjaga dan cenderung menurun seiring masih terbatasnya permintaan domestik dan terkendalinya ekspektasi inflasi di masyarakat.

Memasuki triwulan II 2017, tekanan inflasi Gorontalo mengalami penurunan, khusunya pada bulan April 2017, namun terpantau mengalami peningkatan memasuki bulan Mei dan diperkirakan akan semakin meningkat yang pada puncaknya di bulan Juni 2017. Potensi peningkatan tekanan inflasi di triwulan II 2017 terutama disebabkan oleh peningkatan permintaan masyarakat pada bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Berbagai upaya pengendalian inflasi telah dilakukan oleh TPID dan Pemerintah Daerah untuk menjaga stabilitas harga serta memitigasi berbagai potensi risiko kenaikan harga yang diperkirakan akan terjadi di akhir tahun. Upaya stabilisasi tersebut diharapkan dapat menjaga tingkat inflasi Gorontalo sesuai dengan target inflasi Nasional 4% ± 1% pada akhir tahun 2017.

Pada triwulan I 2017, risiko kerentanan sektor korporasi mengalami peningkatan sebagaimana tercermin pada melambatnya pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja korporasi di sektor pertanian dan perdagangan. Sementara itu, ditengah membaiknya pendapatan masyarakat seiring adanya panen raya dan meningkatnya permintaan kredit dari sektor rumah tangga di triwulan I 2017, tidak diimbangi oleh membaiknya risiko kerentanan sektor rumah tangga sebagaimana terlihat pada meningkatnya risiko kredit  yang ditandai dengan  meningkatnya rasio non performing loans (NPLs).
  
Sedangkan terkait sistem pembayaran, sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi pada triwulan I 2017, transaksi pembayaran tunai maupun non tunai mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV 2016. Pada transaksi pembayaran tunai, peningkatan terjadi transaksi inflow didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2017. Selain itu, transaksi pembayaran non tunai yang melalui Kliring untuk wilayah Provinsi Gorontalo pada triwulan I 2017 juga mengalami peningkatan. 

Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan III 2017 diperkirakan akan tumbuh melambat dari triwulan sebelumnya dengan tingkat pertumbuhan pada kisaran 6,5% - 6,9%.  Sumber utama perlambatan ekonomi diperkirakan bersumber dari penurunan kinerja permintaan domestik ditengah adanya perbaikan kinerja investasi dan ekspor. Sedangkan dari sisi penawaran, lapangan usaha perdagangan dan lapangan usaha administrasi pemerintahan, diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi pasca perayaan Idul Fitri di periode sebelumya. Namun, perlambatan pertumbuhan tersebut diperkirakan dapat ditahan oleh meningkatnya keinerja lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha konstruksi pada triwulan III 2017.

Tekanan Inflasi Gorontalo pada triwulan III 2017 diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya dan masih dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 4% ± 1% (yoy). Kembali normalnya permintaan masyarakat pasca event tahunan yaitu bulan puasa Ramadhan dan Idul Fitri, serta terjaganya pasokan komoditas pangan strategis akan menjadi pendorong utama penurunan tekanan inflasi pada triwulan III 2017. 

Melihat prospek kedepan, kinerja perekonomian Gorontalo untuk keseluruhan tahun 2017 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun 2016 dengan tingkat pertumbuhan pada kisaran 6,8%-7,2% (yoy). Sumber utama peningkatan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 berasal dari masih kuatnya permintaan domestik dan perbaikan ekspor. Walaupun adanya risiko terkait keterbatasan anggaran pemerintah serta terbatasnya proyek infrastruktur baru di tahun 2017. Sementara itu, tingkat inflasi pada tahun 2017 diperkirakan cenderung meningkat dibandingkan tahun 2016 dengan rentang dalam kisaran target inflasi nasional sebesar 4% ± 1% (yoy). Berbagai risiko peningkatan tekanan inflasi yang bersumber pada kebijakan pemerintah, harus diredam dengan pengendalian inflasi pada kelompok volatile food melalui kegiatan peningkatan produksi dan pengendalian harga melalui TPID.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel