Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Gorontalo Februari 2018​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

​Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan IV 2017 mengalami peningkatan dibandingkan triwulan III 2017. Dari sisi penggunaan, peningkatan tersebut didorong oleh peningkatan kinerja konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, PMTB, dan membaiknya kinerja ekspor. Pada sisi penawaran, peningkatan tersebut terutama didorong oleh peningkatan kinerja lapangan usaha (LU) pertanian, kehutanan dan perikanan serta LU konstruksi.

Sepanjang tahun 2017, kinerja ekonomi Provinsi Gorontalo memperlihatkan perbaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor pendorong peningkatan tersebut dari sisi penggunaan yaitu meningkatnya kinerja pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Meningkatnya konsumsi rumah tangga terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan masyarakat dari LU pertanian. Kemudian, kinerja konsumsi pemerintah yang meningkat terkait dengan alokasi dan realisasi yang lebih tinggi.

Melihat perkembangan terkini dan risiko ke depan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan I 2018 diperkirakan melambat. Perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama disebabkan oleh menurunya kinerja konsumsi pemerintah seiring belum optimalnya realisasi program dan anggaran. Namun, perlambatan tersebut tertahan oleh masih tingginya kinerja konsumsi rumah tangga dan peningkatan investasi.

Tekanan inflasi Gorontalo pada triwulan IV 2017 sebesar 4,34% (yoy) mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya yang sebesar 4,41% (yoy). Sedangkan jika dibandingkan dengan tahun 2016, terdapat peningkatan yang cukup signifikan dari tingkat inflasi sebesar 1,30% (yoy).

Berdasarkan disagregasinya, penurunan tekanan inflasi Gorontalo pada triwulan IV 2017 terutama disebabkan oleh penurunan tekanan inflasi pada kelompok barang bergejolak (volatile food) seiring terjaganya pasokan komoditas hortikultura, dan juga penurunan inflasi kelompok tarif yang ditentukan oleh pemerintah (administered prices) seiring koreksi tarif angkutan udara. Di sisi lain, untuk sepanjang tahun 2017, tekanan inflasi yang meningkat terutama didorong oleh peningkatan kelompok administered prices seiring kebijakan pemerintah untuk menyesuaikan tarif listrik untuk pelanggan listrik 900VA yang tidak layak subsidi, serta peningkatan tekanan inflasi kelompok volatile food akibat tingginya harga ikan segar dan komoditas cabai rawit seiring tingginya gelombang laut dan curah hujan.

Pada triwulan I 2018, tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami penurunan seiring terjaganya pasokan dan kembali normalnya permintaan masyarakat. Masih adanya risiko peningkatan inflasi di tahun 2018, diperlukan upaya pengendalian inflasi melalui TPID dan stakeholder, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga tingkat inflasi Gorontalo dapat mencapai target sebesar 3,5% ± 1%.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2018 diperkirakan menguat pada kisaran 7,2%-7,6% (yoy). Optimisme peningkatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 terutama didorong oleh peningkatan permintaan domestik, peningkatan kinerja investasi dan kinerja ekspor. Sedangkan untuk keseluruhan tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Gorontalo diperkirakan mengalami peningkatan seiring peningkatan kinerja lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha investasi.

Inflasi Gorontalo pada triwulan II 2018 diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya dan masih pada batas target inflasi nasional sebesar 3,5%±1% (yoy). Upaya pengendalian inflasi harus terus diintensifkan melihat adanya risiko yang mendorong peningkatan tekanan inflasi.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel