Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Gorontalo Februari 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020

Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan IV 2018 sebesar 7,25% (yoy) naik signifikan dibandingkan dengan triwulan III 2018 yang tumbuh sebesar 5,24% (yoy). Dari sisi penggunaan, kinerja konsumsi rumah tangga, dan ekspor menjadi sumber pertumbuhan utama pada triwulan laporan meskipun tertahan akibat pertumbuhan melambat konsumsi pemerintah, konsumsi LNPRT, dan investasi. Pada sisi penawaran, kinerja lapangan usaha utama terekam tumbuh baik untuk LU Perdagangan Besar dan Eceran (PBE), LU Pertanian, dan LU Konstruksi. Secara keseluruhan tahun 2018, perekonomian Gorontalo tumbuh sebesar 6,51% (yoy) lebih rendah dibandingkan tahun 2017 sebesar 6,73% (yoy) namun masih lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2018 sebesar 5,27% (yoy). ​

Total pagu anggaran APBN dan APBD Provinsi Gorontalo pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 11,8 triliun yang terdiri atas APBD Provinsi dengan pangsa 14,3% (Rp 1,7 triliun), APBD Kabupaten/Kota 48,6% (Rp 5,7 triliun), dan APBN 37,1% (Rp 4,4 triliun). Nilai pagu pada tahun ini apabila dibandingkan dengan tahun 2017 meningkat sebesar 2,9% atau Rp 327,9 miliar dari Rp 11,5 triliun. Peningkatan pagu anggaran turut mendorong perbaikan capaian realisasi fisik dan keuangan pemerintah melalui tata kelola dan perbaikan strategi realisasi pembangunan. ​

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan IV 2018 juga turut diiringi dengan peningkatan tekanan inflasi, yaitu sebesar 1,79% (yoy) pada triwulan sebelumnya menjadi 2,15% (yoy). Meskipun mengalami kenaikan, capaian tersebut berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,13% (yoy). Keberhasilan capaian inflasi ini terutama didorong oleh membaiknya pasokan pangan sehingga mendorong normalisasi hrga pangan dibandingkan tahun 2017. ​

Akselerasi pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan IV 2018 diiringi stabilitas keuangan Gorontalo yang relatif terjaga dan cenderung membaik. Hal tersebut tercermin dari risiko kredit perbankan yang masih terjaga, yakni sebesar 2,55%. Hal tersebut didukung dengan meningkatnya penyaluran kredit pada periode tersebut, meskipun kinerja perbankan belum optimal seiring perkembangan aset dan DPK yang cenderung tumbuh melambat. ​

Kondisi perlambatan ketenagakerjaan Gorontalo pada periode Agustus 2018 dibandingkan Periode Februari 2018 seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Menurunnya kondisi ketenagakerjaan disebabkan oleh peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan penurunan TIngkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Indikasi peningkatan kondisi ketenagakerjaan tersebut sejalan dengan perlambatan pada lapangan usaha utama di Gorontalo yaitu LU pertanian. ​

Pada triwulan II 2019 pertumbuhan ekonomi Gorontalo diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan I 2019. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2019 diperkirakan akan berada pada kisaran 7,3-7,7% (yoy) didorong oleh permintaan domestik seiring dengan pelaksanaan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Anggota Leistaltif (Pileg) 2019 serta perayaan Idul Fitri. Perayaan Idul Fitri akan meningkatkan aktivitas konsumsi rumah tangga sedangkan pelaksanaan Pilpres dan Pileg akan meningkatkan konsumsi LNPRT. Sementara itu, telah selesainya proses pengadaan juga akan meningkatkan realisasi anggatan pemerintah sehingga akan mendorong konsumsi dan investasi pemerintah. Di sisi eksternal, kinerja ekspor diperkirakan akan meningkat seiring dengan pola seasonalnya di tengah perekonomian global yang diperkirakan akan melambat.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel