Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Gorontalo Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Oktober 2020

Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 6,19 % (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,82% (yoy). Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih lebih baik dari pertumbuhan ekonomi secara nasional yang tumbuh sebesar 5,06% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ekonomi Gorontalo disebabkan oleh melambatnya permintaan domestik dan eksternal. Dari sisi penggunaan, perlambatan didorong oleh penurunan kinerja konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan kinerja ekspor. Pada sisi penawaran, penurunan tersebut terutama didorong oleh penurunan lapangan usaha (LU) utama seperti LU pertanian, kehutanan dan perikanan, dan LU konstruksi.

Pertumbuhan ekonomi Gorontalo pada triwulan III 2018 diperkirakan akan melambat dibandingkan Triwulan II 2018. Meski demikian, pertumbuhan ekonomi di triwulan III 2018 diperkirakan masih berada pada kisaran 6,0-6,4% (yoy) didorong oleh permintaan domestik seiring dengan realisasi anggaran pemerintah yang semakin meningkat. Sementara itu, konsumsi masyarakat diperkirakan akan lebih rendah dari triwulan sebelumnya seiring dengan berakhirnya puncak aktivitas konsumsi masyarakat saat bulan Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Di sisi eksternal, kinerja ekspor terutama perdagangan antar daerah diperkirakan akan sedikit terhambat akibat pertumbuhan ekonomi nasional yang diperkirakan melambat pada triwulan II 2018.

Secara keseluruhan, tahun kinerja perekonomian Gorontalo tahun 2018 diperkirakan meningkat yaitu berada dalam kisaran 6,6% - 7,0% (yoy). Perekonomian Gorontalo pada tahun 2018 diperkirakan ditopang oleh perekonomian domestik dan perbaikan dari sisi sektor eksternal. Dari domestik, perbaikan didorong oleh peningkatan aktivitas belanja pemerintah seiring dengan pelaksanaan Pilkada 2018. Selain itu, dengan dukungan Pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif dan kemudahan dalam berinvestasi, PMTB 2018 diperkirakan akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari sisi eksternal, meningkatnya aktivitas perdagangan luar negeri khususnya komoditas jagung akan mendorong kinerja ekspor Gorontalo.

Tekanan inflasi pada triwulan III 2018 diperkirakan mengalami penurunan dan berada pada batas target inflasi nasional sebesar 3,5%±1% (yoy). Penurunan ini disebabkan kembali normalnya permintaan masyarakat pasca bulan Ramadhan dan Idul Fitri pada triwulan II 2018. Koreksi harga diperkirakan akan terjadi pada komoditas pangan strategis seperti daging ayam ras, ayam hidup, telur ayam ras dan juga ikan segar. Selain itu, dari sisi supply, berlangsungnya aktivitas panen gadu di triwulan III juga akan mendorong penurunan tekanan inflasi. Namun, akan terdapat tekanan pada inflasi inti seiring adanya tahun ajaran baru di awal triwulan III 2018.

Secara keseluruhan, inflasi Gorontalo tahun 2018 diperkirakan akan lebih rendah dari 2017 dan berada di dalam rentang sasaran inflasi nasional yakni 3,5±1%. Penurunan tekanan Inflasi dipengaruhi oleh melambatnya inflasi Volatile Food dan inflasi Administered Price di tengah inflasi inti yang cenderung meningkat. Peningkatan inflasi inti diperkirakan sejalan peaningkatan asumsi makro yang lebih tinggi dari 2017. Sementara itu, tidak adanya kebijakan strategis pemerintah terkait kenaikan tarif dan semakin intensifnya peran TPID di Gorontalo dalam mejaga inflasi terutama dari sisi supply diperkiraksan akan mendorong penurunan inflasi Volatile Food dan Administered Price. Namun, risiko kenaikan inflasi masih harus terus diwaspadai seperti kenaikan harga beras, kenaikan batas bawah tarif angkutan udara, kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi mendorong peningkatan harga BBM nonsubsidi, serta kenaikan TTL akibat meningkatnya harga batu bara.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel