Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu November 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Oktober 2020
​Perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan III 2019 tumbuh sebesar 4,95% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan II 2019 sebesar 5,01% (yoy). Pertumbuhan tersebut bias kebawah dibandingkan dengan prakiraan Bank Indonesia sebelumnya yang berada pada kisaran 5,07%-5,27% (yoy). Dari sisi penggunaan, hal ini dipengaruhi oleh kinerja investasi dan ekspor yang tidak sebaik prakiraan, ditengah berkurangnya konsumsi pemerintah pada triwulan laporan. Sementara dari sisi lapangan usaha, melambatnya pertumbuhan ekonomi Bengkulu di triwulan III 2019 bersumber dari deselerasi sebagian besar lapangan usaha utama daerah, antara lain Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan; Perdagangan Besar dan Eceran; serta lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian.
Pada triwulan IV 2019, perekonomian Bengkulu diprakirakan dapat tumbuh meningkat. Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh konsumsi rumah tangga seiring faktor musiman Natal dan akhir tahun yang diyakini akan membuat belanja dan konsumsi masyarakat lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih tinggi tertahan oleh prakiraan melambatnya konsumsi pemerintah, kinerja investasi, maupun ekspor seiring tidak adanya stimulus fiskal dibandingkan triwulan sebelumnya, proyek-proyek infrastruktur yang memasuki tahap finishing, serta risiko perlambatan volume perdagangan global akibat melambatnya perekonomian dunia. Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan diprakirakan masih menjadi mesin pendorong akselerasi perekonomian Bengkulu seiring prospek positif industri olahan CPO serta industri makanan-minuman.
Secara keseluruhan tahun 2019, perekonomian Bengkulu diprakirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2018 ditopang oleh konsumsi pemerintah. Konsumsi pemerintah meningkat seiring kenaikan pagu anggaran baik pada APBD maupun APBN dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selain itu, adanya faktor belanja untuk pelaksanaan Pilpres dan Pileg 2019 turut menggenjot realisasi konsumsi pemerintah lebih tinggi. Dari sisi lapangan usaha, akselerasi perekonomian Bengkulu tahun 2019 diprakirakan didorong oleh lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang ditopang oleh kinerja subsektor perikanan serta tanaman hortikultura.
Dari sisi perkembangan harga, inflasi triwulan III 2019 mengalami kenaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Inflasi pada triwulan laporan tercatat sebesar 3,40% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan II 2019 sebesar 2,69% (yoy). Selain didorong oleh tingginya permintaan pada periode Idul Adha, perayaan Festival Tabot, serta kegiatan MICE Pemerintah dan swasta, kenaikan inflasi terutama disebabkan juga oleh berkurangnya pasokan bahan makanan akibat gagal panen pada musim kemarau panjang yang terjadi secara nasional. Secara umum, kenaikan inflasi terjadi pada semua kelompok barang.
Peningkatan inflasi diperkirakan akan berlanjut pada triwulan IV 2019. Andil inflasi kelompok transportasi terutama komoditas angkutan udara berpotensi menguat seiring kegiatan Pekan Olahraga Wilayah (PORWIL) Sumatera ke-X serta prediksi naiknya permintaan menjelang natal dan tahun baru. Namun demikian, masuknya musim hujan dan meredanya gelombang laut diprakirakan berdampak pada menurunnya tekanan kelompok barang Bahan Makanan.

 
PROSPEK PEREKONOMIAN
 
Pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi diprakirakan berkisar pada 4,7%-5,1% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang diprakirakan berkisar pada 4,9%-5,3% (yoy). Perlambatan tersebut diantaranya dipengaruhi oleh perlambatan yang terjadi pada konsumsi rumah tangga, yaitu dari 5,1%-5,5% (yoy) pada triwulan IV 2019, menjadi 5,0%-5,4% (yoy) pada triwulan I 2020. Melambatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga disebabkan oleh moderasi belanja masyarakat, pasca pengeluaran di akhir tahun. Di awal tahun masyarakat cenderung menahan belanjanya, dan akan kembali meningkat di triwulan berikutnya ketika terdapat momen puasa dan Hari Raya Idul Fitri.
Sejalan dengan prospek perekonomian global dan nasional, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 diprakirakan relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2019. Pertumbuhan ekonomi diprakirakan berada pada kisaran 4,8%-5,2%, dengan mesin penggerak utama adalah konsumsi, dan ditopang oleh ekspor. Dari sisi lapangan usaha, dorongan pertumbuhan ekonomi akan bersumber dari lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, dengan didukung oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor dan lapangan usaha industri pengolahan.
Tekanan stabilitas harga di Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 diprakirakan mereda dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan akan mendukung sasaran inflasi nasional.  Inflasi Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 diprakirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019, dan akan berada pada kisaran 3,0% - 4,0% yoy. Prakiraan ini didukung oleh berbagai faktor, khususnya yang datang dari dalam negeri. Tekanan terhadap stabilitas harga akan bersumber dari kenaikan harga komoditas yang diatur pemerintah, seperti cukai rokok, tarif listrik, dan kenaikan iuran BPJS. Sejalan dengan membaiknya perekonomian, daya beli masyarakat juga diprakirakan meningkat sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas harga.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel