Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Banten Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
11 Juli 2020
Perekonomian Provinsi Banten pada triwulan I 2018 tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tersebut didukung oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga, investasi, serta net ekspor. Dari sisi penawaran, pertumbuhan didukung terutama oleh meningkatnya kinerja Lapangan Usaha (LU) utama yaitu Industri Pengolahan, Perdagangan, dan Real Estate.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan I 2018 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang justru tumbuh melambat. Di level regional Jawa, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten merupakan yang tertinggi ketiga setelah Provinsi DKI Jakarta & Provinsi Jawa Barat.
Secara umum terdapat peningkatan pada postur Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD)  Provinsi Banten tahun 2018 dibandingkan tahun 2017 baik dari sisi pendapatan maupun dari sisi belanja, sebagaimana tercermin dari pagu masing-masing komponen tersebut. Pagu pendapatan Pemerintah Provinsi Banten pada tahun 2018 adalah senilai Rp10,36 triliun sementara anggaran belanja senilai Rp11,36 triliun. Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Banten pada triwulan I 2018 sebesar 21,5% terhadap target pendapatan, lebih rendah dibandingkan triwulan I 2017 sebesar 22,3%. Serapan anggaran belanja Provinsi Banten sebesar 8,46%, juga lebih rendah dibandingkan triwulan I 2017 yang mencapai 9,56%.

Sementara itu, total anggaran pendapatan delapan Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Banten pada tahun 2018 adalah sebesar Rp22,264 triliun, sementara anggaran belanja total  adalah sebesar Rp25,07 triliun. Secara spasial anggaran pendapatan dan belanja terbesar dimiliki oleh Kabupaten Tangerang, diikuti oleh Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan. Secara kumulatif realisasi pendapatan  pada triwulan I 2018 di delapan kabupaten/kota adalah sebesar 15,99%, lebih rendah dibandingkan triwulan I 2017 sebesar 16,5%. Di sisi lain, realisasi anggaran belanja secara total sebesar 10,24% terhadap pagu anggaran, masih relatif rendah, namun lebih tinggi dari realisasi pada triwulan I 2017 sebesar 6,4%.

Secara umum, inflasi IHK di Provinsi Banten pada triwulan I 2018 tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017. Berdasarkan disagregasi, meredanya inflasi didorong terutama oleh menurunnya inflasi komponen core dan administered prices, sementara volatile food mencatatkan inflasi yang lebih tinggi. Inflasi pada kelompok core didorong oleh komoditas pendidikan dan makanan jadi. Selanjutnya inflasi pada komponen administered prices didorong oleh tarif listrik 900 VA yang masih merupakan dampak penyesuaian pada tahun 2017, diikuti oleh kenaikan harga BBM non subsidi dan tarif cukai rokok. Sementara itu inflasi komponen volatile food didorong oleh penurunan pasokan beras dan cabai merah sebagai dampak bergesernya masa panen raya.

Secara spasial, menurunnya inflasi terjadi di seluruh kota perhitungan inflasi yaitu Kota Tangerang, Kota Cilegon dan Kota Serang. Inflasi Provinsi Banten pada triwulan I 2018 juga tercatat lebih rendah dibandingkan rata-rata historisnya dalam 3 tahun terakhir. Namun, sama seperti yang terjadi pada triwulan IV 2017, inflasi Provinsi Banten pada triwulan I 2018 tercatat lebih tinggi dibandingkan inflasi Nasional dan inflasi kawasan Jawa. Inflasi Provinsi Banten pada triwulan II 2018 diperkirakan akan meningkat dibandingkan triwulan I 2018 seiring dengan peningkatan konsumsi masyarakat sehubungan dengan momen bulan Ramadhan perayaan dan Idul Fitri.  

Stabilitas keuangan di Provinsi Banten pada triwulan I 2018 dalam kondisi yang baik. Hal tersebut tercermin dari membaiknya beberapa indikator utama perbankan yaitu aset dan penyaluran kredit. Sejalan dengan itu, tingkat intermediasi dan risiko perbankan juga terpantau dalam kondisi yang baik.  Membaiknya perekonomian Provinsi Banten pada triwulan I 2018 dan sentimen positif dari pelaku usaha menjadi faktor pendorong perbaikan kondisi stabilitas keuangan di Provinsi Banten.

Dari sisi ketahanan keuangan korporasi, juga terlihat adanya perbaikan yang ditunjukkan oleh beberapa indikator finansial korporasi meskipun terdapat peningkatan risiko pembiayaan dari perbankan.  Sementara itu kondisi stabilitas keuangan rumah tangga terpantau cukup baik yang terlihat dari meningkatnya simapanan masyarakat, rendah dan stabilnya NPL ditengah meningkatnya penyaluran kredit kepada rumah tangga terutama untuk KPR dan KKB. Di sisi pengembangan UMKM, penyaluran kredit  perbankan di Provinsi Banten kepada UMKM tercatat tumbuh relatif tinggi meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017. Perlambatan kredit kepada UMKM tersebut diiringi oleh meningkatnya risiko yang saat ini sudah berada pada level yang harus diwaspadai.
Pada triwulan I 2018, kinerja transaksi sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai di Provinsi Banten tercatat mengalami perlambatan. Dari sisi non tunai, transaksi RTGS dan SKNBI tercatat mengalami perlambatan baik dari sisi nominal maupun volume. Sementara dari sisi tunai, total perputaran uang di provinsi Banten pada triwulan I 2018, mengalami net inflow dari sebelumnya net outflow. Sementara itu, dari sisi Uang Elektronik (UE),  terjadi peningkatan penggunaan UE di Provinsi Banten seiring mulai diwajibkannya penggunaan UE di jalan tol sejak Oktober 2017.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten yang lebih tinggi pada triwulan I 2018 diiringi oleh meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja, meskipun juga disertai dengan meningkatnya jumlah pengangguran yang terlihat dari meningkatnya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dibandingkan posisi tahun sebelumnya. Dari sisi kualitas hidup masyarakat terlihat adanya peningkatan sebagaimana tergambar dari  IPM Provinsi Banten secara konsisten menunjukkan tren peningkatan dan selalu lebih tinggi dari IPM Nasional. Meskipun secara spasial terlihat masih adanya kesenjangan kualitas hidup masyarakat di wilayah Banten Utara dengan Banten Selatan yang ditunjukkan oleh lebarnya perbedaan antara IPM di Tangerang Raya dengan di Lebak dan Pandeglang. Namun demikian, tingkat kesenjangan di Banten diindikasi mengalami penurunan sebagaimana tercermin dari Gini Ratio yang terus mengalami penurunan.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan III 2018 diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan II 2018 seiring kembali normalnya level konsumsi baik rumah tangga maupun swasta serta kinerja net ekspor pasca momen bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, dan pelaksanaan Pilkada Provinsi Banten di empat kabupaten/kota. Di sisi lain, kinerja investasi diperkirakan tumbuh meningkat seiring berlanjutnya pengerjaan proyek-proyek pabrik swasta. Berdasarkan lapangan usaha (LU), perlambatan terutama disebabkan oleh melambatnya LU utama yaitu industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, serta LU perdagangan sebagai dampak dari berakhirnya masa peak season di triwulan II 2018. Sementara itu, beberapa LU diprediksi kan tumbuh lebih tinggi, diantaranya adalah konstruksi, real estate dan akomodasi makan minum sebagai dampak dari realisasi berbagai proyek infrastruktur baik swasta maupun pemerintah. Untuk keseluruhan tahun 2018, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan tahun 2017 yang didorong oleh membaiknya konsumsi masyarakat, domestik dan negara mitra dagang utama.

Di sisi perkembangan harga, tingkat inflasi Provinsi Banten pada triwulan III 2018 diperkirakan lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2018. Berdasarkan disagregasi, peningkatan inflasi tersebut utamanya disumbang oleh komponen volatile food dan administered prices, sementara inflasi komponen core akan mereda. Mempertimbangkan beberapa risiko, inflasi tahun 2018 diperkirakan akan sedikit meningkat dibandingkan tahun 2017 namun diperkirakan masih akan sejalan dengan target pemerintah yaitu di kisaran 3,5±1% (yoy).  
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel