​Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Banten Mei 2017​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
30 Januari 2020
​​

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Banten di triwulan I 2017 senilai Rp134,12 triliun dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5,90% (yoy). Tingkat pertumbuhan triwulan I 2017 ini lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2016 yang tercatat sebesar 5,53% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Banten ini terutama ditopang oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi. Selain itu, kinerja lapangan usaha utama yaitu industri pengolahan dan perdagangan mengalami akselerasi sehingga semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten.

Pagu Pendapatan Daerah ditargetkan sebesar Rp9,79 triliun, sementara Belanja Daerah sebesar Rp10,35 triliun. Meningkatnya pagu anggaran Pemerintah Provinsi diharapkan dapat mendorong pembangunan daerah sejalan dengan prinsip money follow program pada perencanaan anggaran tahun 2017. Realisasi anggaran pendapatan pada triwulan I 2017 adalah 23%, sementara untuk belanja adalah 10%. Kondisi tersebut menunjukkan realisasi yang relatif baik, sedikit meningkat dibandingkan di triwulan I 201

Di sisi perkembangan harga, secara umum inflasi IHK di Provinsi Banten pada triwulan I 2017 tercatat meningkat dibandingkan triwulan IV 2016. Pada triwulan I 2017 inflasi IHK mencapai 3,45% (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi triwulan IV 2016 sebesar 2,94% (yoy). Meningkatnya tekanan inflasi secara spasial terjadi di ketiga kota perhitungan inflasi yaitu Kota Tangerang, Serang dan Cilegon. Berdasarkan disagregasi, inflasi di triwulan I 2017 merupakan dampak dari tingginya andil inflasi komponen core dan administered prices. Sementara komponen volatile food justru tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2016.

Peningkatan IHK secara tahunan kemudian terjadi lagi di bulan April 2017 yaitu sebesar 4,17% (yoy). Secara umum komoditas penyebab inflasi di bulan April 2017 masih serupa dengan apa yang terjadi di triwulan I 2017 yaitu tarif listrik, tarif pulsa ponsel, dan rokok. Secara keseluruhan di triwulan II 2017, inflasi diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan masuknya bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang mendorong tingginya kebutuhan rumah tangga.

Stabilitas keuangan di Provinsi Banten masih terjaga meskipun mengalami perlambatan tercermin dari pertumbuhan aset dan kredit yang lebih rendah dibandingkan triwulan lalu. Perlambatan kredit ini salah satunya disumbang oleh perlambatan pertumbuhan kredit korporasi. Meskipun demikian, ketahanan korporasi di Provinsi Banten masih terlihat membaik tercermin dari peningkatan kinerja keuangan dan penurunan risiko kredit korporasi, khususnya pada industri pengolahan sebagai lapangan usaha utama di Provinsi Banten. Di sisi lain, peningkatan konsumsi rumah tangga pada triwulan I 2017 turut mendorong pertumbuhan kredit konsumsi seperti untuk kendaraan bermotor dan properti.

Transaksi non tunai melalui kliring berdasarkan volume mengalami perlambatan, bahkan berdasarkan nominal mengalami penurunan, sementara itu transaksi melalui RTGS mengalami perbaikan dan tumbuh positif setelah tumbuh negatif pada beberapa periode sebelumnya. Kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh diberlakukannya ketentuan Bank Indonesia mengenai batas minimumtransfer dana menggunakan RTGS (Real Time Gross Settlement) yang diturunkan kembali menjadi Rp100 juta.

Sejalan dengan kondisi perekonomian yang menunjukkan peningkatan, kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Banten juga menunjukkan perbaikan sebagaimana tercermin dari peningkatan jumlah penduduk yang bekerja dan disertai oleh menurunnya jumlah pengangguran. Demikian juga dengan kondisi kesejahteraan, yang tercermin dari menurunnya jumlah penduduk miskin dan gini ratio, meskipun Nilai Tukar Petani mengalami penurunan. Gini ratio sebagai indikator ketimpangan ekonomi, mengalami perbaikan dengan menurunnya gini rasio pada September 2016 mencapai 0,392 dari sebelumnya sebesar 0,394 pada Maret 2016.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten pada triwulan III 2017 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2 – 5,6% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan II 2017 seiring dengan berkurangnya konsumsi rumah tangga pasca Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Di sisi lain pertumbuhan investasi dan ekspor diperkirakan masih tumbuh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu berdasarkan lapangan usaha, terdapat risiko bahwa industri pengolahan dan perdagangan diprakirakan dapat tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan II 2017.

Perekonomian Provinsi Banten secara keseluruhan tahun 2017 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,5 – 5,9%(yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2016. Beberapa faktor yang mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi tersebut di antaranya adalah optimisme perbaikan ekonomi global dan nasional. Seluruh komponen PDRB di sisi pengeluaran diperkirakan tumbuh lebih tinggi, begitu pula dengan kinerja lapangan usaha utama seperti industri pengolahan yang berpotensi tumbuh lebih kuat seiring dengan membaiknya kinerja korporasi.

Di sisi perkembangan harga, tingkat inflasi Provinsi Banten pada triwulan III 2017 diperkirakan di kisaran 4,6 – 5,0% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan II 2017. Tingginya perkiraan inflasi tersebut didorong oleh risiko domestik maupun eksternal. Berdasarkan disagregasi, risiko kenaikan inflasi terjadi di ketiga komponen yaitu administered prices, volatile food dan core. Kenaikan tersebut utamanya merupakan dampak dari adanya kemungkinan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengikuti perkembangan tren harga minyak dunia. Selain itu, kenaikan tarif angkutan baik udara maupun darat juga diperkirakan akan mendorong inflasi di triwulan III 2017. Berbagai risiko inflasi sejak awal tahun, mengarahkan inflasi tahun 2017 di kisaran 4,8 – 5,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2016 yang tercatat sebesar 2,94% (yoy). ​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel