Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Bali Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

Perkembangan Ekonomi Makro Daerah
Perekonomian Bali pada triwulan I 2018 menunjukkan akselerasi kinerja dibandingkan triwulan IV-2017. Ekonomi Bali tercatat tumbuh sebesar 5,68% (yoy) pada periode triwulan laporan, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 4,01% (yoy), namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan I 2017 yang sebesar 6,24% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I 2018 juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional pada periode yang sama sebesar 5,06% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi kinerja ekonomi Bali pada triwulan laporan didorong oleh peningkatan kinerja seluruh komponen utama permintaan, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta investasi. Sementara itu, kinerja ekspor luar negeri yang meskipun masih mengalami kontraksi namun tetap tumbuh lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Di sisi penawaran, akselerasi kinerja ekonomi Bali didorong oleh meningkatnya kinerja semua lapangan usaha utama Bali, yaitu lapangan usaha akomodasi makan minum (akmamin), pertanian, perdagangan, konstruksi, transportasi dan pergudangan serta industri pengolahan, sejalan dengan peningkatan aktivitas bidang usaha pariwisata, persiapan IMF-World Bank Annual Meeting (IMF-WB AM) 2018 dan kondisi cuaca yang mendukung. ​

Dari berbagai prompt indikator yang ada, kinerja ekonomi Bali pada triwulan II 2018 diprakirakan akan mengalami akselerasi dalam kisaran 5,80%-6,20% (yoy). Di sisi permintaan, peningkatan kinerja ekonomi Bali diprakirakan akan didorong oleh akselerasi kinerja semua komponen permintaan, yaitu konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT), konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri dan investasi. Sejalan dengan itu, lapangan usaha yang menjadi pendorong utama ekonomi Bali diprakirakan akan bersumber dari lapangan usaha akomdasi makan dan minum, pertanian, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, konstruksi serta industri pengolahan, sejalan dengan periode musiman (hari besar keagamaan), pembayaran THR, gaji ke 13 & 14 PNS, masuknya periode pariwisata, pemilukada dan persiapan IMF-WB AM 2018. ​

Keuangan Pemerintah
Realisasi nominal belanja pemerintah (APBN, APBD Provinsi Bali dan APBD 9 kabupaten/kota) pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp 4,53 triliun atau meningkat sebesar 30,76% (yoy), lebih tinggi dibandingkan peningkatan triwulan I 2017 yang sebesar 10,15% (yoy). Peningkatan ini terutama didorong oleh akselerasi realisasi belanja pada komponen APBN dan APBD Provinsi Bali, sementara APBD 9 kabupaten/kota cenderung melambat, meskipun tetap tumbuh tinggi. Dengan capaian tersebut, persentase realisasi belanja pemerintah di Bali pada triwulan I 2018 mencapai 11,61%, lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 9,58%. Dari sisi yang lain, realisasi nominal pendapatan pemerintah (APBD Provinsi Bali dan APBD 9 kabupaten/kota) pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp4,95 triliun atau meningkat sebesar 1,98% (yoy), melambat dibandingkan triwulan I 2017 yang sebesar 12,42% (yoy). Perlambatan realisasi pendapatan ini, terutama disebabkan oleh melambatnya realisasi pendapatan baik dari APBD Bali maupun APBD 9 kabupaten/kota pada triwulan laporan. Dengan kondisi tersebut, persentase realisasi pendapatan pemerintah terhadap pagu anggaran pada triwulan I 2018 baru mencapai 19,46% lebih rendah dibandingkan capaian triwulan I 2017 yang sebesar 20,29%. ​

Perkembangan Inflasi Daerah
Realisasi inflasi Provinsi Bali pada triwulan I-2018 tercatat sebesar 3,10% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 3,32% (yoy). Capaian inflasi Bali pada periode laporan, lebih rendah dibanding inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 3,40% (yoy). Penurunan inflasi Bali tersebut terjadi pada komponen administered price dan core inflation, sedangkan komponen volatile food tetap menunjukkan peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Dengan demikian, inflasi IHK Bali pada triwulan laporan masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional Bank Indonesia 3,50%±1% (yoy). ​

Terjaganya inflasi di Provinsi Bali pada triwulan laporan didukung oleh semakin solidnya upaya pengendalian inflasi yang dilakukan Bank Indonesia dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Namun demikian, masih terdapat beberapa potensi risiko yang perlu diperhatikan seperti peningkatan kunjungan wisatawan, sejalan dengan masuknya periode pariwisata, perayaan hari besar keagamaan (HKBN) yang berpotensi mendorong permintaan, ketergantungan pasokan bahan pangan dari daerah lain. Resiko-resiko tersebut berpotensi memberikan tekanan inflasi pada kelompok volatile food. Selain itu, masih terdapat risiko peningkatan tekanan inflasi akibat penyelenggaraan IMF-WB AM 2018. Inflasi Bali pada triwulan II 2018 diprakirakan akan lebih tinggi dibanding triwulan I 2018, yaitu dalam kisaran 3,51%-3,91% (yoy). Meskipun demikian, prakiraan inflasi Bali tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sesuai PMK No.93/PMK.011/2014, yaitu sebesar 3,5%±1% (yoy). ​

Stabilitas Keuangan Daerah, Pengembangan Akses Keuangan dan UMKM
Kredit korporasi pada triwulan I 2018 mengalami kontraksi sebesar 1,15% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan IV 2017 yang terkontraksi sebesar 0,15% (yoy). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya kredit modal kerja ditengah kredit investasi yang sedikit terakselerasi dan kredit konsumsi yang membaik. Penurunan pertumbuhan kredit korporasi tersebut, diiringi oleh penurunan kualitas kredit yang tercermin oleh peningkatan NPL dari 5,45% pada triwulan IV 2017 menjadi 6,33% pada triwulan I 2018. Sementara itu, kredit perseorangan (rumah tangga) tumbuh sebesar 9,45% (yoy) pada triwulan I 2018, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 8,89% (yoy). Akselerasi kinerja kredit rumah tangga tersebut, diikuti oleh penurunan kualitas kredit yang tercermin oleh peningkatan NPL. Kredit UMKM pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 8,66% yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya 7,30% (yoy). Akselerasi kredit UMKM diiringi oleh perbaikan kualitas kredit dengan indikator NPL yang mengalami penurunan ​

Penyelenggaraan Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah
Perkembangan kinerja transaksi tunai pada triwulan I 2018 di Provinsi Bali menunjukkan terjadinya net inflow (uang yang masuk dari Bank Indonesia melalui perbankan lebih besar dibanding uang yang keluar) sebesar Rp1,05 triliun, didorong oleh peningkatan pertumbuhan tabungan perseorangan (rumah tangga) ditengah mulai pulihnya pertumbuhan ekonomi Bali pasca peningkatan aktivitas vulkanis Gunung Agung. Sementara itu, transaksi melalui SKNBI menurun dibanding triwulan sebelumnya, baik secara nominal maupun volume. Nominal perputaran kliring pada triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp13,64 triliun atau terkontraksi 16,19% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya sebesar Rp15,08 triliun atau terkontraksi 0,17% (yoy). Sejalan dengan itu, volume transaksi kliring juga menunjukkan penurunan menjadi 538.490 lembar atau terkontraksi sebesar 13,43% (yoy) dibanding triwulan IV 2017 yang terkontraksi sebesar -0,15% (yoy) dengan jumlah 568.653 lembar. Pada sisi yang lain, transaksi penyelenggara KUPVA BB di Provinsi Bali pada triwulan I 2018 tercatat tumbuh sebesar 10,32% (yoy), menunjukkan perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya 10,85% (yoy) pada triwulan IV 2017. Nominal transaksi jual-beli valas pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp9,39 triliun, terdiri dari transaksi pembelian sebesar Rp4,76 triliun dan transaksi penjualan sebesar Rp4,62 triliun. Perlambatan transaksi KUPVA pada triwulan I 2018 sejalan dengan pertumbuhan jumlah kunjungan wisman yang masih terkontraksi pada triwulan laporan, pasca peningkatan aktivitas vulkanis Gunung Agung pada triwulan sebelumnya ​

Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Secara umum kondisi ketenagakerjaan Provinsi Bali pada Februari 2018 menunjukkan kinerja yang semakin baik. Jumlah angkatan kerja tercatat sebesar 2,6 juta orang atau meningkat 5,60% (yoy) di¬ban-ding¬ periode Februari 2017. Kondisi ini juga diikuti oleh peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Februari 2018 sebesar 79,83%, lebih tinggi dibanding Februari 2017 sebesar 76,87%. Peningkatan angkatan kerja dan TPAK Februari 2018, berdampak pada penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), yaitu dari 1,28% pada Februari 2017 menjadi 0,86% pada Februari 2018. Prospek ketenagakerjaan pada triwulan II 2018 diprediksi masih dalam kondisi yang kuat, terkonfirmasi dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) dan hasil Survei Konsumen (SK) periode triwulan I 2018. Sementara itu, Tingkat kemiskinan di wilayah Bali pada September 2017 mengalami penurunan yaitu sebesar 4,14%, dibanding Maret 2017 yang sebesar 4,25%. Indeks pengukur kesejahteraan yaitu P1 dan rasio gini juga menunjukkan penurunan. Namun demikian, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Bali yang menjadi salah satu indikator tingkat kesejahteraan petani menunjukkan penurunan pada tri-wulan I 2018, yaitu tercatat sebesar 103,5 dibanding triwulan IV 2017 sebesar 104,31. Kondisi ini mengindikasikan penurunan kesejahteraaan masyarakat, khususnya pada wilayah pedesaan ​

Prospek Perekonomian Daerah
Berdasarkan dari prompt indikator yang ada, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bali pada triwulan III 2018 diprakirakan akan mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekonomi Bali diprakirakan akan tumbuh dalam kisaran 6,00%-6,40% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi kinerja ekonomi Bali tersebut didorong oleh peningkatan kinerja semua komponen utama, meliputi: konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor luar negeri. Sejalan dengan itu, akselerasi ekonomi Bali pada triwulan III 2018 dari sisi lapangan usaha terutama didorong oleh peningkatan kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi makan dan minum, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, konstruksi serta industri pengolahan. ​

Dengan mencermati perkembangan ekonomi, prompt indikator dan hasil suvei serta liaison terakhir, perekonomian Provinsi Bali untuk keseluruhan 2018 diprakirakan akan mengalami akselerasi dan tumbuh dalam kisaran 5,90%-6,30% (yoy). Dari sisi permintaan, akselerasi tersebut didorong oleh meningkatnya seluruh komponen utama permintaan yaitu konsumsi rumah tangga, investasi dan konsumsi pemerintah. Sementara itu dari sisi lapangan usaha, akselerasi tersebut didorong oleh akselerasi 4 lapangan usaha utama ekonomi Bali, yaitu lapangan usaha pertanian, industri pengolahan, konstruksi serta transportasi dan pergudangan. Sementara itu, lapangan usaha akomodasi makan dan minum serta pedagangan besar dan eceran tetap dapat tumbuh tinggi, meskipun diprakirakan menunjukkan tendensi yang melambat. ​

Inflasi Bali pada triwulan III 2018 diprakirakan meningkat dibanding triwulan sebelumnya dalam kisaran 3,76%-4,16% (yoy). Peningkatan tersebut disebabkan oleh masuknya periode liburan sekolah dan tahun ajaran baru, sehingga berpotensi mendorong peningkatan permintaan yang akan berdampak pada peningkatan harga komoditas strategis (inflasi). Peningkatan inflasi pada triwulan laporan, juga didorong oleh masuknya periode peak season pariwisata, sehingga akan mendorong meningkatnya permintaan dan berdampak kepada kenaikan harga. Meskipun demikian, tingkat inflasi pada triwulan III 2018 diprakirakan dapat terjaga, sejalan dengan terjaganya pasokan komoditas pangan yang telah di antisipasi oleh TPID se-Provinsi Bali dan berakhirnya perayaan hari keagamaan pada triwulan sebelumnya. Secara keseluruhan, inflasi Bali 2018 diprakirakan akan mengalami peningkatan dan akan berada dalam kisaran 3,80%-4,20% (yoy), lebih tinggi dibanding realisasi inflasi 2017 yang sebesar 3,32% (yoy). Meskipun demikian, prakiraan inflasi tersebut masih masuk dalam rentang sasaran inflasi Nasional yang sebesar 3,5%±1% (yoy), sebagaimana tercantum dalam PMK No.93/PMK.011/2014 tentang Sasaran Inflasi.

Tabel Indikator KEKR Provinsi Bali Mei 2018.jpg


Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel