​KEKR Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung triwulan IV 2017 mengalami perlambatan dibandingkan Triwulan III 2017. Perekonomian Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan IV 2017 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp12.672,01 miliar atau tumbuh sebesar 2,94% (yoy), melambat dari pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya yang mencapai 3,60% (yoy). Kinerja pertumbuhan ekonomi ini lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi Sumatera yang pada triwulan laporan sebesar 4,43% (yoy), dan pertumbuhan ekonomi nasional yang tumbuh sebesar 5,19% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung didorong oleh melambatnya kinerja ekspor dan meningkatnya impor antar daerah. Sementara itu dari sisi penawaran perlambatan ekonomi Bangka Belitung di sebabkan terjadinya kontraksi pada lapangan usaha Pertanian, Kehutanan dan Perikanan serta lapangan usaha pertambangan dan penggalian. Sementara lapangan usaha utama lainnya seperti lapangan usaha industri pengolahan dan lapangan usaha perdagangan mengalami perlambatan.

Tekanan inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan IV 2017 mereda jika dibandingkan triwulan III 2017. Inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di triwulan IV 2017 sebesar 3,13% (yoy) lebih rendah dari triwulan III 2017 sebesar 3,59% (yoy). Capaian inflasi tersebut berada pada kisaran inflasi yang telah ditetapkan Pemerintah. Selain itu, inflasi pada tahun 2017 menjadi inflasi terendah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam 8 tahun terakhir. Inflasi yang rendah di tahun 2017 ini didukung oleh stabilnya inflasi volatile food dan administered price. Secara umum inflasi Bangka Belitung lebih rendah dibandingkan inflasi Sumatera sebesar 3,63% (yoy) dan inflasi nasional sebesar 3,61% (yoy).

Secara tahunan diperkirakan perekonomian Bangka Belitung pada 2018 tumbuh pada kisaran 4,7%-5,1% (yoy). Sementara Pertumbuhan ekonomi Bangka Belitung pada triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh pada kisaran 4,1%-4,5% (yoy). Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2018 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2018 diperkirakan meningkat didukung meningkatnya konsumsi rumah tangga saat bulan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, meningkatnya investasi, dan konsumsi pemerintah. Ekspor diperkirakan masih membaik meski tidak setinggi triwulan sebelumnya. Sementara itu, tekanan inflasi diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, namun masih dalam level yang terkendali.

Inflasi triwulan I dan keseluruhan tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5%±1%. Beberapa risiko yang akan menimbulkan tekanan inflasi antara lain bersumber dari (i) gelombang laut yang tinggi yang dapat mengganggu distribusi pasokan bahan pangan dan tangkapan ikan, (ii) potensi kenaikan cukai rokok secara gradual oleh pemerintah, (iii) potensi terjadinya gagal panen beberapa komoditas akibat tingginya curah hujan di daerah sumber pasokan yang diperkirakan akan membatasi suplai pasokan, (iv) tekanan inflasi administered prices antara lain kenaikan tarif angkutan udara, BBM, elpiji, dan tarif listrik, (v) Peningkatan biaya produksi sejalan dengan peningkatan UMP.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel