KEKR Provinsi Kep. Bangka Belitung Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 Januari 2020

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 2,46% (yoy), melambat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 2,94% (yoy). Pertumbuhan ekonomi Babel lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi Sumatera dan Nasional sebesar 4.37% (yoy) dan 5,06% (yoy). Dari sisi produksi, perlambatan kinerja perekonomian disebabkan karena lapangan usaha pertambangan dan industri pengolahan yang mengalami kontraksi, serta adanya perlambatan pertumbuhan pada lapangan usaha pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, konstruksi, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, penyedia akomodasi makan dan minum, real estat, jasa perusahaan, jasa kesehatan dan jasa lainnya. Sementara itu, dari sisi pengeluaran, perlambatan didorong oleh kinerja konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto dan perubahan inventori yang melambat serta adanya kontraksi pada ekspor luar negeri serta meningkatnya impor luar negeri.

Inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di triwulan I 2018 sebesar 3,02% (yoy) lebih rendah dari triwulan IV 2017 sebesar 3,13% (yoy). Capaian inflasi tersebut berada pada kisaran inflasi yang telah ditetapkan Pemerintah. Secara umum, inflasi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lebih rendah dari inflasi nasional yang mencapai 3,40% (yoy) dan inflasi Sumatera yang mencapai 3,70% (yoy). Pada triwulanan I 2018, penurunan inflasi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar dan kelompok kesehatan. Sementara itu, kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, kelompok sandang, dan kelopok pendidikan, rekreasi dan olahraga mengalami inflasi lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan I tahun 2018, terjadi penurunan pada kelompok inflasi inti dan administered pice, sedangkan kelompok volatile food mengalami peningkatan dibandingkan triwulan IV 2017.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2018 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2018. Pertumbuhan ekonomi masih ditopang oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga, konsumsi LNPRT, konsumsi pemerintah dan ekspor. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sejalan dengan membaiknya daya beli masyarakat. Kinerja ekspor timah diperkirakan masih akan membaik sejalan dengan adanya trend peningkatan harga timah pada awal tahun dan meningkatnya permintaan global. Sementara itu investasi swasta masih akan terbatas karena perilaku investor masih wait and see pasca dilaksanakannya Pilkada

Inflasi triwulan III dan keseluruhan tahun 2018 diperkirakan berada pada kisaran sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah sebesar 3,5%±1%. Beberapa risiko yang akan menimbulkan tekanan inflasi antara lain bersumber dari (i) adanya anomali cuaca yaitu curah hujan yang masih sangat tinggi sampai dengan pertengahan triwulan II yang dapat mengancam produksi pertanian karena gagal panen dan munculnya penyakit pada komoditas peternakan, (ii) potensi kenaikan cukai rokok secara gradual oleh pemerintah, (iii) tekanan inflasi administered prices antara lain kenaikan tariff angkutan udara, BBM, elpiji, dan tarif listrik karena adanya kenaikan harga minyak dan batu bara (v) Peningkatan biaya produksi sejalan dengan peningkatan UMP, (vi) kenaikan pada jasa pendidikan seiring dengan masuknya tahun ajaran baru.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel