Laporan Perekonomian Provinsi Aceh Agustus 2019​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Kinerja ekonomi Aceh pada triwulan II-2019 tercatat tumbuh 3,71% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 3,88% (yoy). Perlambatan ekonomi Aceh pada triwulan II-2019 utamanya disebabkan oleh sektor pertambangan. Di samping itu, sektor lainnya seperti industri pengolahan dan konstruksi masih mengalami tekanan meskipun tidak sedalam triwulan sebelumnya. Namun demikian, ekonomi masih ditopang oleh sektor pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintah di sisi sektoral dan oleh konsumsi serta investasi di sisi pengeluaran. Pada triwulan III-2019, ekonomi Aceh diperkirakan akan meningkat. Dari sisi pengeluaran, peningkatan pertumbuhan akan didukung oleh akselerasi pada komponen konsumsi. Adapun dari sisi lapangan usaha, sektor pertanian, perdagangan, konstruksi, dan administrasi pemerintah diyakini menjadi faktor pendorong kinerja pertumbuhan ekonomi Aceh.
 
Inflasi pada triwulan II-2019 tercatat meningkat dibanding triwulan I-2019 yaitu menjadi 2,73% (yoy) dari 1,82% (yoy). Peningkatan laju Inflasi Aceh terjadi seiring dengan meningkatnya harga komoditas pada kelompok volatile food dan inflasi inti. Sementara itu, komoditas administered prices menjadi penahan laju inflasi di Aceh. Memasuki triwulan III-2019, Aceh mengalami deflasi sebesar -0,04% (mtm) pada Juli 2019 sehingga inflasi tahunan tercatat sebesar 2,45% (yoy). Meski demikian, inflasi pada akhir triwulan III-2019 diperkirakan meningkat terutama karena masih cukup kuatnya permintaan konsumsi dan keterbatasan pasokan pangan seiring dengan datangnya musim kemarau.
 
Stabilitas Sistem Keuangan di Provinsi Aceh pada triwulan II-2019 masih terjaga meskipun mengalami sedikit peningkatan risiko yang tercermin dari peningkatan rasio Non Performing Loan (NPL). Lebih lanjut, kinerja intermediasi perbankan pun sedikit mengalami penurunan dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang disebabkan oleh melambatnya penyaluran kredit di tengah akselerasi penghimpunan Dana Pihak Ketiga.
 
Di sisi sistem pembayaran dan pengelolaan ruang rupiah, uang kartal di triwulan II-2019 tercatat net outflow sebesar Rp 2,34 triliun, sejalan dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Transaksi ritel melalui SKNBI tercatat sebesar 80.160 transaksi dengan nilai transaksi sebesar Rp3,02 triliun atau turun sebesar 1,38% (qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp3,06 triliun.
 
Untuk keseluruhan tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Aceh diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2018 seiring dengan dampak pelemahan permintaan eksternal. Meski demikian, permintaan domestik diperkirakan masih cukup baik sehingga konsumsi dan investasi masih dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019. Dari sisi perkembangan harga barang, inflasi di akhir tahun 2019 diperkirakan meningkat dibanding tahun 2018. Peningkatan inflasi pada tahun 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan inflasi bahan makanan.​​
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel