​​Kajian Ekonomi dan Keuangan Aceh November 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2018 tercatat tumbuh 4,03%(yoy), melambat dibanding angka revisi triwulan sebelumnya (5,71%, yoy) maupun dengan periode yang sama di tahun sebelumnya (3,80%,yoy). Dari sisi sektoral, perlambatan tersebut bersumber dari sektor konstruksi, administrasi pemerintahan, dan pertanian. Sementara dari sisi pengeluaran, perlambatan terutama disebabkan penurunan kinerja konsumsi pemerintah, investasi, dan konsumsi rumah tangga. ​

Tingkat realisasi pendapatan terhadap pagu APBA (Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh) pada Triwulan III-2018 tercatat lebih tinggi dibandingkan realisasi periode yang sama di tahun sebelumnya. Peningkatan realisasi pendapatan tersebut bersumber dari peningkatan realisasi Pendapatan Perimbangan/Transfer serta Pendapatan Asli Daerah. Selanjutnya, realisasi belanja terhadap pagu APBA mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan realisasi belanja APBA terutama didorong oleh penurunan realisasi Belanja Operasi. Kondisi penurunan realisasi juga terjadi pada APBN yang bersumber dari pos Belanja Pegawai, Belanja Modal, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Dana otsus. ​

Inflasi Aceh pada triwulan laporan disumbang oleh kelompok administered prices, volatile food, dan core. Secara rata-rata bulanan, Aceh mengalami penurunan inflasi yang cukup signifikan jika dibandingkan rata-rata inflasi bulanan pada triwulan sebelumnya sebagai dampak dari kembali normalnya permintaan di akhir triwulan pasca berakhirnya perayaan Hari Raya Idul Adha. ​

Penyaluran kredit kelompok korporasi masih menunjukkan peningkatan kinerja diiringi dengan penurunan risiko yang tercermin dari penurunan non performing loan (NPL). Selanjutnya, Kinerja penyaluran kredit kelompok rumah tangga pada triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan. Kondisi tersebut didukung oleh Dana Pihak Ketiga (DPK) Perseorangan yang meningkat serta risiko kredit rumah tangga yang menurun dan di bawah ambang batas NPL 5%. Sementara itu, pertumbuhan penyaluran kredit UMKM tercatat meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Dilihat dari resikonya, NPL kredit UMKM mengalami penurunan namun masih berada di atas 5%. ​

Kondisi Net outflow (Rp0,46 triliun) yang terjadi sesuai dengan pola selama Idul Adha 1439 H. Posisi net outflow ini menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai R2,67 triliun. Transaksi ritel melalui SKNBI tercatat sebesar 87.697 transaksi dengan nilai transaksi sebesar Rp3,42 triliun atau mengalami kenaikan sebesar 12,35%(qtq) dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp3,04 triliun. ​

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Aceh pada Agustus 2018 mencapai 6,36%, menurun dibandingkan TPT bulan Agustus 2017 sebesar 6,57%. Sementara itu, tingkat kemiskinan pada Maret 2018 tercatat 15,97%, menurun dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (16,89%). ​

Perekonomian Aceh sepanjang tahun 2019 diperkirakan tumbuh pada kisaran 3,70%-4,10%(yoy) atau berpotensi lebih rendah dibandingkan perkiraan kinerja ekonomi tahun sebelumnya (4,18%-4,58%, yoy). Kondisi penurunan tersebut diperkirakan akan bersumber dari penurunan konsumsi rumah tangga dan ekspor. Sementara itu, tekanan inflasi diperkirakan akan sedikit mengalami peningkatan dibandingkan 2018 dan berada pada rentang 3,53%-3,93%(yoy) yang diperkirakan bersumber dari inflasi volatile food dan administered price.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel