<strong>Kuliah Umum Kebanksentralan di Universitas Diponegoro</strong> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020
Dalam rangka edukasi kebanksentralan, Bank Indonesia (BI) sampai dengan tahun 2018 telah menjalin Kerja sama dalam rangka pendidikan, penelitian, kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat dengan 73 Perguruan Tinggi di wilayah Indonesia. Sebagai salah satu bentuk realisasi dari kerja sama di bidang Kebanksentralan, pada tanggal 2 Mei 2018 BI bersama dengan Universitas Diponegoro (UNDIP) menyelenggarakan Kuliah Umum di Hall Kewirausahaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP dengan topik “Perkembangan Terkini: Prospek dan Tantangan Ekonomi ke Depan” yang disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia, Bp. Dody Budi Waluyo, dan dimoderasi oleh Ketua Departemen Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UNDIP, Bp. Akhmad Syakir Kurnia, SE M.Si, Ph.D. Kuliah umum tersebut diikuti oleh sekitar 600 peserta yang berasal dari civitas akademika UNDIP yakni dosen dan fungsionaris UNDIP, mahasiswa S1 dan S2 UNDIP, dosen pengampu Mata Kuliah Kebanksentralan dari Perguruan Tinggi wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, dosen dan mahasiswa dari Perguruan Tinggi setempat.
 
Kuliah Umum ini juga merupakan salah satu bentuk Shari’a Economic Forum dalam rangkaian kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di Semarang dengan tema “Mendorong Implementasi Business Linkage Syariah dalam Memperkuat Ekonomi Regional”.
 
Dalam paparan kuliah umum, disebutkan bahwa pemulihan ekonomi global terus berlanjut yang berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Perekonomian Indonesia membaik didorong oleh kinerja investasi dan prospek kinerja ekspor, meski permintaan domestik masih belum kuat. Dari sisi harga, inflasi nasional dan daerah terkendali, walau beberapa provinsi tercatat diatas target. Sementara nilai tukar Rupiah relatif stabil didukung kepercayaan investor dan surplus neraca pembayaran. 
  
Disisi lain, ekonomi syariah merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Walaupun Indonesia merupakan salah satu pasar ekonomi syariah terbesar secara global, namun posisi Indonesia sebagai produsen masih tertinggal dengan negara lain. Selain itu, perkembangan perbankan dan aset keuangan syariah masih dinilai terbatas. Dalam upaya mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah sesuai dengan kerangka strategi nasional syariah, BI berperan sebagai AIR (Akselerator, Inisiator dan Regulator) melalui koordinasi dengan berbagai stakeholder dalam rangka mendorong percepatan program ekonomi dan keuangan syariah, memprakarsai inovasi pengembangan program ekonomi dan keuangan syariah, serta merumuskan dan menerbitkan ketentuan terkait sesuai kewenangannya.
 
Ke depan, diperlukan upaya untuk menjaga stabilitas di tengah meningkatnya ketidakpastian global, mensinergikan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan, membangun kapasitas nasional untuk pemanfaatan ekonomi dan keuangan digital serta pencapaian visi menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Bank Indonesia dipastikan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, untuk menjaga keseimbangan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dengan proses pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung. 
 
Foto 2.JPG
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel