Pesantren Harus Jadi Pilar Ekonomi Syariah Indonesia - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
15 Agustus 2020
Banjarmasin - Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ibu Rosmaya Hadi, mengajak santri-santri untuk berperan aktif terlibat dalam ekonomi syariah global saat menyampaikan kuliah umum, di Pondok Pesantren Darul Hijrah Banjar, Kalimantan Selatan, pada 12 September 2019.
 
Pada kesempatan ini Ibu Rosmaya mengajak pesantren sebagai wadah para santri, untuk ikut andil dalam pasar syariah. Hal tersebut disebabkan karena ekonomi syariah yang telah mendunia, dimana produsen ekonomi syariah malah kebanyakan berasal dari bukan Negara dengan penduduk islam.
 
“Thailand punya visi untuk menjadi pemasok utama industri makanan halal global. China merupakan pengekspor busana muslim terbesar di dunia. Kemudian Korea mendeklarasikan dirinya sebagai negara tujuan wisata halal. Australia menjadi pemasok utama daging sapi halal, dan Brazil menjadi pemasok utama daging unggas halal terbesar ke timur tengah, Sementara Inggris sudah sejak lama jadi pusat keuangan syariah di dunia, dimana penerbitan sukuk tertinggi ada disana,” papar beliau mengingatkan.
 
Menurut beliau, momentum ini seharusnya bisa kita manfaatkan sebagai negara dengan penduduk islam terbesar di dunia. Hal tersebut juga didukung oleh keragaman produk halal yang dapat menjadi produk unggulan untuk menarik wisatawan dan investor asing ke Indonesia.
 
Perlu dicermati, kondisi pelemahan ekspor akibat ketidakpastian perdagangan dunia yang merupakan efek dari ketegangan AS dan China mendorong terjadinya defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan (CAD). Hal inilah yang membuat nilai tukar rupiah dan inflasi kita rentan terhadap gejolak yang terjadi diluar negeri.
 
Ekonomi dan Keuangan Syariah (EKSyar) menjadi jawabannnya. Ekspor produk-produk syariah (halal) dapat mendorong ekspor guna memperbaiki neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan (CAD) yang defisit sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi.
 
Pada tahun 2018 Industri Halal di Indonesia menyumbang 11% dari total devisa hasil ekspor nasional atau senilai USD1,6 miliar. Harapan dalam pengembangan industri halal nasional terlihat dengan terus meningkatnya pelaku usaha yang menjual produk bersertifikat halal khususnya pada bahan makanan. Potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan halal value chain nasional. Bank Indonesia menyadari potensi tersebut, sehingga kebijakan Eksyar merupakan salah satu dari Bauran Kebijakan Bank Indonesia.
 
Kuliah umum yang dihadiri oleh Anggota DPR RI Dapil Kalsel II, Direktur Penerangan Kemenag RI, Sekda Banjar, Kepala DUPK, Kepala KPw Bank Indonesia Kalimantan Selatan, Tokoh Masyarakat, dan perwakilan dari pesantren-pesantren di seluruh Banjarmasin ini merupakan bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (FESyar KTI) 2019. Selanjutnya akan hadir FESyar Regional Jawa yang sekaligus merupakan FESyar Indonesia dengan cakupan nasional.
 
Fesyar Banjarmasin 2019.a.jpg 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel