<em>“Regional Economic Outlook: Caught in Prolonged Uncertainty – Challenges and Opportunities for Asia”</em> - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Jakarta, 6 November 2019 “Asia tetap menjadi wilayah utama yang mengalami pertumbuhan ekonomi paling cepat tahun 2020 di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang mengalami penurunan. Proyeksi dari IMF menunjukkan bahwa perekonomian Asia diprediksi akan mencapai 5,1% pada 2020”. Bahasan tersebut muncul dalam Open Lecture Series (OLS) yang ke-24 yang diselenggarakan oleh BI Institute yang mengangkat tema “Regional Economic Outlook: Caught in Prolonged Uncertainty – Challenges and Opportunities for Asia”. Narasumber yang hadir berasal dari International Monetary Fund (IMF) Angana banerji, Senior Economist dan Pragyan Deb, Economist.

Dalam kegiatan ini juga disampaikan mengenai outlook kondisi ekonomi di beberapa negara Asia seperti Cina, India, Jepang, Korea, negara-negara ASEAN yang salah satunya adalah Indonesia pada umumnya menunjukkan adanya penurunan ekonomi. Di sisi lain Jepang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh permintaan domestik yang kuat. Sedangkan di Indonesia karena pertumbuhan yang melambat, kondisi keuangan eksternal cenderung yang lebih baik telah memberikan ruang bagi pelonggaran moneter. Namun demikian, seperti yang telah disampaikan di awal paragraf Asia tetap akan menjadi wilayah utama yang mengalami pertumbuhan ekonomi paling cepat di tahun 2020.

Negara-negara emerging market di Asia merespon ketidakpastian ekonomi yang sedang terjadi dengan menggunakan berbagai instrumen kebijakan untuk mencapai berbagai tujuan, khususnya yang terkait dengan macrofinancial stability. Setiap negara perlu untuk mengintegrasikan berbagai kebijakannya seperti kebijakan fiskal, moneter, serta makroprudensial untuk dapat meningkatkan ketahanan perekonomian terhadap ketidakpastian global. Bauran kebijakan yang disusun harus lebih fokus untuk mengimbangi dampak negatif dari ketidakpastian berkepanjangan di sektor swasta. Serta dalam jangka panjang, sekaligus memastikan buffer kebijakan.

Hal tersebut sejalan dengan yang diungkapan oleh moderator acara yaitu Analis Eksekutif BI Institute Ibu Sri Fitriyani, beliau menyampaikan bahwa sinergi kebijakan antara BI dan pemerintah turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini menjadikan Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen hingga semester pertama tahun 2019.

Dengan topik yang sangat timely, OLS dihadiri 100 peserta yang berasal dari internal dan eksternal Bank Indonesia antara lain dari staf DPR RI, akademisi dari beberapa perguruan tinggi, institusi terkait seperti Kementerian Keuangan dan lembaga lainnya. Diharapkan dengan diselenggarakannya open lecture yang ke-24 dapat meningkatkan pemahaman terhadap kondisi terkini, peluang dan tantangan, serta respons dari pembuat kebijakan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel