KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul Statemen Gubernur Bank Indonesia : BI Rate Turun 50 bps Menjadi 10,75%
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal5-10-2006 Hits4832
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No.8/ 53 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini, memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps dari 11,25% menjadi 10,75%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan pembahasan mendalam, yang  mengevaluasi kondisi makroekonomi dan perkiraannya ke depan, hasil-hasil berbagai survei ekspektasi konsumen dan produsen, prospek ekonomi moneter dalam dan luar negeri.

Dewan Gubernur menilai bahwa secara umum sampai dengan triwulan III-2006 perekonomian Indonesia semakin membaik, disertai dengan stabilitas makroekonomi dan keuangan yang tetap terjaga. Pada triwulan III-2006, perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sekitar 5,40%, meningkat dibandingkan triwulan I dan II yang masing-masing tumbuh sebesar 4,70% dan 5,22%. Membaiknya pertumbuhan ekonomi tersebut terutama didorong oleh tingginya  konsumsi Pemerintah dan net ekspor. Konsumsi swasta sudah mengindikasikan pertumbuhan yang meningkat meski belum terlalu kuat. Investasi swasta, khususnya non-bangunan, belum memperlihatkan tanda perbaikan yang signifikan. Di sisi penawaran, Sektor Bangunan dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi terus menunjukkan pertumbuhan yang tinggi, dan diperkirakan akan diikuti laju  pertumbuhan Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran.

Di sisi eksternal, kinerja neraca pembayaran pada triwulan III-2006 secara keseluruhan diperkirakan mencatat surplus yang lebih besar. Surplus NPI tersebut terutama terjadi di sisi neraca transaksi berjalan, yang didukung kuatnya kinerja ekspor sejalan dengan tingginya harga komoditas dan masih kondusifnya pertumbuhan ekonomi dan volume perdagangan dunia. Adapun impor tumbuh lebih rendah sejalan dengan kondisi permintaan domestik. Sementara itu, di sisi neraca modal dan finansial juga masih mencatat surplus sebagai dampak masih masuknya aliran modal asing karena masih tingginya imbal hasil penempatan pada instrumen Rupiah, serta persepsi positif dari pelaku pasar atas pelaksanaan kebijakan fiskal dan moneter. Secara keseluruhan, kondisi tersebut meningkatkan cadangan devisa menjadi sekitar US$ 42,36 miliar pada akhir triwulan III-2006.

Perkembangan neraca pembayaran yang membaik memberi kontribusi positif pada kestabilan nilai tukar rupiah. Secara rata-rata, nilai tukar Rupiah triwulan III-2006 mencapai Rp9.117 per dolar AS atau relatif tetap dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp9.115 per dolar AS. Secara point to point, rupiah mengalami apresiasi sebesar 0.8% dari Rp9.263 menjadi Rp9.190. Faktor domestik yang mendukung stabilitas Rupiah, antar lain membaiknya indikator makroekonomi, menariknya imbal hasil penanaman instrumen rupiah, dan menurunnya indikator risiko investasi. Sedangkan dari eksternal adalah keputusan Bank Sentral Amerika yang mempertahankan suku bunga kebijakannya (Fed Funds rate). 

Inflasi sampai dengan September tetap terkendali dan terus menurun. Dengan inflasi bulan September  tercatat sebesar 0,38%, maka inflasi tahun kalender (Januari-September) mencapai 4,06% sedangkan inflasi year on year sebesar 14,55%. Selain kondisi makroekonomi yang kondusif dengan permintaan domestik yang tetap terkendali, berlanjutnya trend penurunan inflasi tersebut disebabkan oleh minimalnya dampak administered prices dan  rendahnya inflasi kelompok volatile foods. Sementara itu, inflasi inti masih berada pada level yang tinggi yakni sebesar 9,13% (yoy) meski lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (9,58%, yoy). Tingginya inflasi inti tersebut terutama disebabkan oleh ekspektasi masyarakat yang masih tinggi. Sementara itu, tekanan dari faktor eksternal dan kesenjangan output (output gap) masih relatif minimal.

Sinyal penurunan BI-Rate yang ditempuh sejak Mei 2005 telah direspon positif oleh para pelaku di sektor keuangan maupun riil. Di perbankan, meskipun masih terbatas, sinyal penurunan BI rate telah ditransmisikan ke suku bunga dana dan kredit bank. Fungsi intermediasi yang sebelumnya relatif terkendala, menunjukkan peningkatan cukup besar  pada Agustus 2006, tercermin dari kenaikan kredit sebesar Rp10,8 triliun. Perkembangan ini disertai dengan perbaikan risiko kredit, sebagaimana menurunnya rasio kredit bermasalah (NPL) menjadi 5,0 % (neto) dan 8,8% (gross). Penurunan suku bunga juga telah mendorong kegairahan di pasar modal tercermin dari  meningkatnya IHSG menjadi 1.535 dan turunnya rata-rata yield Surat Utang Negara menjadi 10,77% pada akhir triwulan III-2006.  

Di sisi pembiayaan perusahaan, penggunaan sumber dari pembiayaan internal maupun dari pasar modal terus mengalami peningkatan.  Pemanfaatan sumber dana lainnya seperti trade finance dan inter company account juga mengalami kenaikan, sehingga mengurangi ketergantungan sumber pembiayaan perbankan dalam negeri.

Di sektor riil, sinyal penurunan suku bunga juga telah meningkatkan optimisme para pelaku ekonomi. Survei Ekspektasi Konsumen (SEK) yang dilakukan Bank Indonesia menunjukkan semakin membaiknya keyakinan konsumen baik terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan. Indeks Produksi maupun Indeks Tendensi Bisnis yang diterbitkan BPS juga terus menunjukkan peningkatan. Penurunan suku bunga pada umumnya akan mendorong peningkatan pertumbuhan pada sektor-sektor bangunan, transportasi dan komunikasi, dan keuangan yang kemudian akan diikuti oleh sektor perdagangan dan sektor industri pengolahan. Asesmen tersebut menambah keyakinan bahwa kegiatan ekonomi riil telah menunjukkan peningkatan dan semakin diperkuat dengan sinyal penurunan suku bunga BI Rate sejak Mei 2006 yang lalu.

Ke depan, prospek pertumbuhan ekonomi diperkirakan terus membaik. Pertumbuhan PDB 2006 diperkirakan sedikit lebih tinggi dari perkiraan semula yakni menjadi 5,5%, didukung membaiknya kinerja ekspor, mulai pulihnya daya beli dan mulai membaiknya kinerja investasi pada semester II-2006.  Prospek stabilitas makroekonomi secara keseluruhan diperkirakan masih relatif terjaga.  Tren inflasi IHK yang menurun masih akan terjadi hingga akhir 2006. Inflasi IHK berpeluang sedikit lebih rendah dari proyeksi semula sehingga diperkirakan berada sedikit di bawah kisaran sasaran 8%±1%.  Untuk tahun 2007, inflasi IHK diperkirakan masih berada pada batas atas kisaran sasaran 6%±1%.  Dari sisi eksternal, neraca pembayaran diperkirakan mencatat surplus sebesar USD13,2 miliar pada tahun 2006 dan cadangan devisa diperkirakan mencapai USD 43,3 miliar pada akhir 2006.

Stabilitas makroekonomi masih terjaga dan kecenderungan penurunan inflasi, menambah keyakinan sasaran inflasi 2006 dan 2007 dapat dicapai. Disamping itu, penurunan BI rate yang telah dilakukan diharapkan mendorong intermediasi perbankan serta memperkuat optimisme pelaku ekonomi sehingga pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.   Ke depan, apabila tekanan inflasi dan faktor risiko tetap terkendali, penurunan BI rate tetap terbuka dan akan dilakukan secara bertahap dan berhati-hati.

 

Jakarta, 5 Oktober 2006
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Budi Mulya
Direktur


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: