KONTAK BI | FAQ | KAMUS | LINKS | PETA SITUS | ENGLISH
 
Home > Ruang Media > Siaran Pers
Siaran Pers
Judul STATEMENT GUBERNUR BANK INDONESIA : Bank Indonesia Turunkan BI Rate 25bps
Sumber Data Biro Hubungan Masyarakat Tanggal6-07-2006 Hits4370
Contact Biro Humas, Telp : (62-21) 381-7317 Fax : (62-21) 350-1867, E-mail : humasbi@bi.go.id
Lampiran
No. 8/ 37 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini, 6 Juli 2006, memutuskan untuk menurunkan BI Rate menjadi 12,25% atau turun 25 basis poin (bps) dari tingkat sebelumnya. Keputusan tersebut diambil setelah memperhatikan hasil evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia dan prospek ekonomi moneter ke depan serta memperhatikan upaya pencapaian sasaran inflasi ke depan yaitu 8%±1% untuk tahun 2006.

Dewan Gubernur menilai bahwa kestabilan makroekonomi hingga Juni 2006 semakin membaik yang ditunjukkan oleh kecenderungan inflasi yang terus menurun dan tekanan eksternal yang cenderung mereda.  Inflasi pada bulan Juni tercatat sebesar 0,45%. Dengan laju inflasi tersebut maka inflasi tahun kalender (Januari-Juni) mencapai 2,87% sedangkan inflasi year on year (Juni 2006 terhadap Juni 2005) adalah sebesar 15,53%. Berlanjutnya trend penurunan tekanan inflasi tersebut disebabkan oleh nilai tukar rupiah yang secara rata-rata tetap stabil dan menguat, dampak administered price yang minimal, serta kondisi permintaan domestik yang masih lemah. Secara khusus, sumber utama tekanan inflasi pada triwulan II-2006 berasal dari kenaikan harga emas, kenaikan HJE rokok dan tarif PAM.

RDG memandang bahwa perekonomian Indonesia belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan.  Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2006 ini diperkirakan sebesar 4,6%-5,1% yang utamanya ditopang oleh  peningkatan ekspor yang cukup besar.  Melambatnya pertumbuhan ini terutama karena  rendahnya permintaan domestik yang dipengaruhi oleh belum meningkatnya daya beli masyarakat sebagaimana tercermin pada upah riil yang masih menurun, belum membaiknya iklim investasi dan dampak multiplier pengeluaran pemerintah yang masih relatif rendah. Konsumsi rumah tangga dan investasi swasta diperkirakan tumbuh masing-masing sebesar 3-3,5% dan 1,4-1,9%, lebih rendah dari triwulan yang sama tahun sebelumnya.  Rendahnya pertumbuhan konsumsi dan investasi ini mengakibatkan permintaan kredit relatif terbatas, yaitu selama Jan-Mei 2006 hanya tumbuh sebesar 2,4%. Ekspor barang dan jasa diperkirakan tumbuh sebesar 11,8-12,3% terutama didukung oleh meningkatnya ekspor bahan-bahan mineral dan industri pengolahan seperti kelapa sawit, karet dan kertas, seiring dengan meningkatnya permintaan dunia.  Sementara itu, pengeluaran pemerintah dalam semester I-2006 diperkirakan baru mencapai 33% dari APBN. Dengan perkembangan tersebut, untuk keseluruhan tahun 2006, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bergerak ke arah bawah dari proyeksi 5,0-5,7%.

Kinerja neraca pembayaran pada triwulan II-2006 secara keseluruhan diperkirakan mencatat surplus sebesar $3,3 miliar, lebih tinggi dari perkiraan semula. Peningkatan surplus NPI pada triwulan II-2006 terutama terjadi di sisi transaksi berjalan akibat kinerja ekspor yang membaik sementara impor tumbuh lebih rendah dari perkiraan semula. Sementara itu, di sisi neraca modal dan finansial masih mencatat surplus sebesar US$2,17 miliar walaupun terjadi aliran modal keluar sejak pertengahan Mei 2006.  Sementara itu, dengan percepatan pembayaran sebagian utang IMF sebesar US$3,8 miliar pada tanggal 30 Juni 2006, cadangan devisa mencatat sedikit penurunan dari triwulan sebelumnya menjadi sekitar US$40 miliar atau setara 4,5 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

Meskipun perkembangan neraca pembayaran menunjukkan perkembangan yang positif, berlanjutnya tightening cycle dari perekonomian global, terutama kenaikan Fed Fund, telah menyebabkan meningkatnya tekanan terhadap stabilitas makroekonomi pada triwulan II-2006.  Rupiah melemah terhadap US dollar sejak pertengahan bulan Mei 2006. Meskipun demikian, secara rata-rata nilai tukar Rupiah triwulan II-2006 masih menguat yakni mencapai Rp9.111 per dolar AS atau mencatat apresiasi sekitar 2% dibandingkan triwulan I-2006. Penguatan kurs rupiah tersebut diikuti oleh menurunnya volatilitas.

Di sektor perbankan, sebagaimana telah diperkirakan, kinerja perbankan nasional mulai membaik pada Triwulan II 2006. Hampir seluruh indikator utama perkembangan perbankan pada periode tersebut menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan.  Pada Mei 2006, dana pihak ketiga naik sebesar Rp. 37,4 triliun dan aset perbankan naik sebesar Rp. 48 triliun. Sementara itu, risiko kredit secara umum juga perkembangan yang menggembirakan dengan menurunnya rasio NPL net menjadi 5,1% dari 5,6% pada April 2006.  Secara gross, NPL turun menjadi 8,8% dari 9,4% pada April 2006.

Ke depan, inflasi IHK 2006 dan 2007 diperkirakan dapat berada pada kisaran sasarannya yakni masing-masing sebesar 8±1% dan 6±1% (yoy). Namun demikian, terdapat sejumlah faktor risiko baik eksternal maupun internal yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi IHK baik di 2006 maupun 2007. Dari sisi eksternal, risiko terutama terkait tingginya harga minyak dan suku bunga global yang masih berpotensi meningkat.  Risiko ini terkait dengan struktur valas yang masih didominasi aliran modal jangka pendek sedangkan pasokan valas berjangka panjang masih terbatas.  Sementara dari sisi internal, risiko terutama berasal dari potensi tekanan inflasi yang bersumber dari administered prices terkait rencana pemerintah menaikkan HPP gabah dan tarif angkutan terutama kereta api kelas ekonomi.

Dengan mempertimbangkan pencapaian inflasi ke depan yang masih dalam kisaran sasarannya, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini memutuskan untuk menurunkan BI ke level  12,25%Stance kebijakan moneter ini akan ditinjau dari waktu ke waktu sesuai dengan asesmen menyeluruh terhadap perkembangan dan perkiraan inflasi serta perekonomian ke depan. Apabila tekanan terhadap inflasi ke depan dan faktor risiko yang dihadapi semakin mereda, penurunan BI Rate ke depan akan dilakukan lebih agresif. Penurunan BI Rate sebesar 25 bps ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan dunia usaha terhadap membaiknya prospek ekonomi yang sangat dibutuhkan untuk mengurangi tingkat pengangguran. Jika penurunan suku bunga ini diikuti oleh berbagai langkah implementasi paket perbaikan iklim investasi dan percepatan belanja modal pemerintah, Bank Indonesia optimis pertumbuhan ekonomi pada semester II-2006 semakin membaik.

Jakarta, 6 Juli 2006
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Budi Mulya
Direktur


Apakah Artikel ini memberikan informasi
berguna bagi anda?
Nilai halaman ini:  Jelek Bagus
Komentar: